Fiona bertanya apakah Lee akan datang membawa ayahnya. Laura menjawab kali ini hanya Lee, itu pun jika mereka nyaman menerima kunjungan singkat. Ia tidak mengubah pertanyaan tentang bertamu menjadi pengumuman bahwa seseorang pasti datang besok.
'Berapa lama?' tanya Zio.
'Kita bisa meminta setengah jam dulu.'
Fiona memandang ruang tamu, lalu mengatakan ia tidak ingin membereskan semua barang seolah ada tamu penting. Laura menjawab mereka cukup merapikan tempat duduk seperti ketika teman lain datang. Buku di rak dan mainan yang belum selesai dipakai tidak harus disembunyikan agar rumah tampak berbeda.
'Aku boleh tetap membaca?' tanya Zio.
'Boleh. Kamu boleh menyapa lalu melanjutkan kegiatanmu.'
Setelah keduanya bersedia, Laura mengirim waktu kepada Lee. Ia menyebut kunjungan tiga puluh menit dan meminta tidak membawa hadiah besar. Lee menjawab ia akan datang setelah makan siang, lalu menanyakan apakah kue sederhana untuk dimakan bersama tidak mengganggu.
Laura bertanya kepada anak-anak sebelum mengiyakan makanan tersebut. Ia memastikan itu sesuatu yang dapat disajikan, bukan barang yang perlu mereka terima sebagai hadiah pribadi. Setelah rencana jelas, ia meletakkan ponsel dan kembali menyelesaikan urusan rumah.
Minggu siang, bel berbunyi pada waktu yang disepakati. Laura membuka pintu dan menyambut Lee. Untuk pertama kalinya lelaki itu masuk ke rumahnya setelah sebelumnya beberapa kali hanya mengantar sampai luar. Laura mempersilakannya melepas alas kaki dan menunjuk tempat duduk.
Lee tidak memandang sekeliling dengan cara yang membuatnya ingin menjelaskan kekurangan rumah. Ia menyerahkan kotak kue, mengucapkan terima kasih karena diizinkan datang, lalu menyapa Zio dan Fiona yang berada di ruang tengah.
'Kita pernah makan sup bersama,' kata Fiona, seolah mengingatkan bahwa mereka tidak perlu memulai seluruh perkenalan lagi.
'Iya. Dan kamu lebih teliti melihat potongan wortel daripada aku,' jawab Lee.
Fiona tertawa kecil. Laura membawa air dan piring, kemudian duduk bersama mereka. Zio memegang buku yang sedang dibaca, tetapi tidak membukanya lagi sampai Lee menanyakan apakah ia terganggu karena harus berhenti.
'Aku belum selesai bagian ini,' jawab Zio.
'Silakan lanjut. Aku bisa mengobrol dengan ibumu dulu.'
Laura memperhatikan putranya kembali membaca. Ia senang Lee tidak mengubahnya menjadi penolakan pribadi. Namun ia juga tidak ingin terus mengamati setiap reaksi seperti sedang menilai apakah lelaki itu pantas duduk di sana. Ia mengambil sepotong kue dan menanyakan keadaan ayahnya.
Lee mengatakan ayahnya masih membicarakan makan siang bersama anak-anak, terutama tentang rumah yang mendadak lebih ramai. Ia tidak menyampaikan pesan bahwa mereka ditunggu setiap minggu. Laura mengucapkan terima kasih, lalu membiarkan percakapan bergeser kepada makanan.
Fiona mencicipi sedikit dan memilih berhenti setelah satu potong. Lee tidak memintanya menambah. Ia bertanya tentang buku yang dibawa ketika makan sup, tetapi menerima ketika Fiona mengatakan belum ingin bercerita karena masih membacanya.
Zio akhirnya menutup bukunya. Ia menyebut sebuah permainan yang sedang disukainya, menjelaskan cara bermain secara singkat tanpa mengajak Lee mengambil ponsel atau masuk ke akun miliknya. Lee mendengarkan dan bertanya tentang bagian yang belum ia pahami.
'Kamu main juga?' tanya Zio.
'Tidak. Makanya aku bertanya.'
Jawaban itu membuat Zio lebih bersemangat menjelaskan. Laura menyadari ia sering mengira percakapan perlu dibantu agar tidak berhenti. Kali ini ia membiarkan pertanyaan sederhana berjalan sendiri, sampai Fiona memotong dengan komentar bahwa kakaknya dapat berbicara lama kalau sudah menyebut permainan tersebut.
'Kamu juga begitu kalau bicara bukumu,' balas Zio.
Laura tersenyum melihat mereka kembali bersikap biasa. Lee tidak menengahi pertukaran kecil itu seolah sudah menjadi orang tua di rumah. Ia hanya mengambil air dan menunggu sampai Zio selesai menjelaskan satu bagian lagi.
Ponsel Laura mengingatkan waktu kunjungan. Ia melihat jam, lalu memberi tahu bahwa tiga puluh menit hampir selesai. Lee segera meletakkan gelas dan berterima kasih. Ia tidak mengatakan pembicaraan sedang menyenangkan sebagai alasan meminta tambahan waktu.
Fiona bertanya apakah sisa kuenya boleh disimpan untuk besok. Lee mengatakan kotak itu memang untuk dimakan bersama dan boleh disimpan. Ia tidak mengaitkannya dengan undangan berikutnya atau meminta pelukan sebelum pergi.
Di dekat pintu, Laura mengucapkan terima kasih karena ia mengikuti rencana. Lee menjawab ia menikmati kunjungan itu. Sebelum keluar, ia menanyakan apakah tawaran menemani penjemputan sekolah masih perlu dibicarakan.
'Masih. Aku belum memastikan kepada sekolah atau anak-anak,' jawab Laura.
'Baik. Aku tidak akan datang tanpa kabar darimu.'
Lee mengenakan kembali alas kakinya dan berpamitan dari ambang pintu. Zio mengangkat tangan dari tempat duduk, sedangkan Fiona menjawab salam tanpa diminta mendekat. Laura menunggu sampai kendaraan meninggalkan depan rumah, lalu mengunci pagar seperti biasanya. Ia tidak perlu mengantar lebih jauh atau meminta anak-anak mengulang sapaan mereka.
Setelah pintu ditutup, rumah kembali terasa seperti sebelumnya. Zio mengambil buku, Fiona membawa piring ke dapur, dan Laura merapikan gelas. Ia tidak segera mengumpulkan mereka untuk menanyakan apakah Lee disukai.
Beberapa saat kemudian, Fiona berkata Lee tidak banyak bertanya. Laura menanyakan apakah itu membuatnya lebih nyaman. Fiona mengangguk dan kembali pada kegiatannya. Zio mengatakan ia senang kunjungan tidak mendadak berubah menjadi acara seharian.
'Kalau nanti ada rencana lain, kita bicarakan lagi,' kata Laura.
Ia kemudian menanyakan tawaran kendaraan untuk penjemputan sekolah pada satu hari yang akan datang. Zio ingin tahu apakah Laura tetap ikut. Fiona menambahkan bahwa Selasa ia mempunyai kegiatan tambahan dan waktu pulangnya berbeda.
Laura mencatat hal itu. Mereka tidak dapat dijemput seolah keluar pada bel yang sama. Jika tawaran Lee jadi dipakai, ibunya tetap hadir dan jadwal keduanya harus diperhatikan. Ia belum menjadikan pembicaraan itu persetujuan akhir sebelum aturan sekolah dipastikan.
Sore berlalu tanpa kunjungan tambahan. Laura menyimpan sisa kue, lalu melihat kotaknya di dalam lemari pendingin. Sebuah perhatian sederhana dapat diterima tanpa membuat seseorang memiliki hak baru atas keluarganya. Hari itu ia tidak perlu memperdebatkannya, dan ia berharap ketenangan tersebut dapat bertahan ketika mereka kembali menghadapi keputusan yang lebih sulit.