Selasa malam, Laura menunggu sampai makan selesai sebelum menyebut kedatangan Brian. Ia tidak membuka percakapan dengan permintaan agar anak-anak bersikap baik. Ia hanya mengatakan ayah mereka datang ke kantor kemarin dan ingin mengetahui apakah mereka bersedia bertemu.
Fiona memandang Zio lebih dulu. Kakaknya meletakkan gelas dan bertanya mengapa Brian tidak datang ke rumah. Laura menjelaskan bahwa mereka perlu membuat rencana sebelum bertemu, dan kedatangan tanpa janji di kantor juga bukan sesuatu yang akan dibiasakan.
'Jadi Ibu belum bilang kita mau?' tanya Zio.
'Belum. Ibu ingin mendengar kalian.'
'Kalau jawabannya beda?'
'Boleh berbeda.'
Laura melihat cara Fiona menarik kursinya sedikit mendekat. Ia tidak tahu apakah anak itu takut, marah, atau sekadar ingin duduk di sampingnya. Ia menunggu tanpa memberi nama untuk perasaan yang belum diucapkan.
'Dia bertanya sekolahku?' tanya Fiona akhirnya.
'Dia ingin tahu kabar kalian. Ibu belum menceritakan semuanya.'
'Apa dia tahu aku suka apa sekarang?'
Laura tidak ingin mengarang jawaban untuk membuat Brian tampak lebih perhatian daripada yang diketahuinya. Ia mengatakan belum tahu seberapa banyak yang masih diingat ayah mereka. Kalau mereka memilih bertemu, mereka boleh menceritakan hal yang ingin dibagikan dan tidak perlu menjawab semua pertanyaan.
Zio mengusap bekas air di meja dengan ujung jarinya. Ia ingin tahu apakah pertemuan berarti mereka harus pergi berdua bersama Brian tanpa ibunya. Laura langsung mengatakan tidak ada rencana seperti itu. Jika kelak disepakati, mereka dapat memilih tempat umum dan Laura tetap berada bersama mereka.
'Aku mungkin mau,' kata Zio. 'Tapi sebentar.'
Fiona menggeleng, kemudian mengoreksi dirinya. 'Aku belum tahu.'
'Tidak harus tahu malam ini,' jawab Laura.
Ia menyebut bahwa Brian belum mendapat tanggal atau tempat. Mereka tidak sedang mempersiapkan kejutan yang hanya menunggu kedua anak itu mengatakan iya. Zio memandangnya dan bertanya apakah ayahnya akan marah kalau mereka meminta waktu.
'Kalau dia kecewa, itu urusan yang dibicarakan orang dewasa. Bukan tugas kalian membuatnya senang.'
Laura menyadari kalimat itu juga perlu didengarnya sendiri. Selama bertahun-tahun ia terbiasa memikirkan cara menyampaikan penolakan agar tidak dianggap menyulitkan. Sekarang ia perlu membiarkan anak-anak belajar bahwa jawaban belum siap tidak sama dengan melakukan kesalahan.
Fiona bertanya apakah ibunya ingin mereka bertemu. Laura menarik napas sebelum menjawab, sebab mudah sekali menjadikan keinginannya sebagai arahan yang tidak terlihat.
'Ibu ingin kalian merasa aman dan boleh jujur. Ibu tidak bisa memilih perasaan kalian.'
'Ibu masih marah kepada dia?'
'Ada hal yang membuat Ibu marah. Tapi itu tidak berarti kalian harus memberi jawaban yang sama seperti Ibu.'
Zio menatap wajahnya. Ia tampak hendak bertanya lebih jauh, tetapi kemudian memilih mengatakan bahwa ia ingin tidur sebelum memutuskan. Laura mengangguk dan mengakhiri percakapan. Tidak ada daftar syarat yang harus selesai mereka susun malam itu.
Fiona membantu membawa piring ke dapur, lalu bertanya pelan apakah mereka tetap akan sarapan bertiga seperti biasa. Pertanyaan itu membuat Laura menghentikan gerakan tangannya. Ia menjawab bahwa belum ada rencana mengubah rutinitas rumah mereka. Berbicara tentang kemungkinan bertemu Brian tidak berarti seseorang tiba-tiba pindah atau kembali duduk di kursi makan setiap pagi. Fiona meletakkan piring terakhir, mengangguk, dan baru kemudian meninggalkan dapur. Laura menatap kursi-kursi yang kosong setelahnya, mengingat bahwa hal yang tidak ia sebut pun kadang sudah lebih dulu dibayangkan anak-anak.
Setelah keduanya masuk kamar, Laura mengirim pesan kepada Brian. Ia sudah menyampaikan keinginannya, tetapi anak-anak masih memerlukan waktu. Ia meminta agar Brian tidak menghubungi mereka melalui orang lain untuk mencari jawaban yang lebih cepat.
Brian membalas bahwa ia hanya ingin bertemu sebentar. Laura membaca kalimat itu dan mengetik bahwa sebentar bagi orang dewasa tetap dapat terasa berat bagi anak-anak. Ia akan memberi kabar setelah mereka siap membicarakan bentuk pertemuan.
Ia tidak melaporkan percakapan itu kepada Lee. Anak-anak tidak sedang menjadi bagian dari kesepakatan pribadi mereka. Jika kelak ada rencana yang memengaruhi waktu makan atau kunjungan, Laura dapat memberi tahu seperlunya tanpa menyebarkan setiap keraguan Zio dan Fiona.
Rabu pagi, pekerjaan kembali menuntut perhatian. Laura menemui Daniel untuk membahas tindak lanjut hilangnya berkas. Petugas TI masih memeriksa, dan mereka mulai menyusun pembatasan perubahan pada folder hasil akhir. Laura menyampaikan kebutuhannya tanpa menyatakan siapa yang bersalah.
'Saya ingin orang yang memeriksa tetap bisa membuka. Yang tidak perlu mengubah jangan diberi kesempatan menghapus tanpa sengaja atau sengaja,' katanya.
Daniel mengangguk. Mereka akan meminta petugas sistem menilai pengaturan yang sesuai, bukan mengunci seluruh pekerjaan sampai tim tidak dapat bergerak. Laura juga meminta agar cara menyimpan salinan pemulihan dijelaskan kepada orang yang memang mengerjakan berkas.
Ia tidak menjadikan rapat itu tempat menceritakan pertemuan keluarga. Ketika kembali ke mejanya, ia membuka daftar persiapan acara akhir pekan. Ada beberapa bahan yang perlu dicocokkan dengan pihak hotel, sementara banner yang dipasang tetap menunggu hari pelaksanaan.
Menjelang pulang, Zio mengirim pesan singkat melalui ponsel yang dapat dipakainya. Ia ingin tahu apakah berbicara dengan Brian harus langsung berarti menjawab semua pertanyaan tentang sekolah. Laura menjawab tidak dan menawarkan membicarakannya lagi di rumah jika ia ingin.
Malam itu Zio memilih mengatakan bahwa ia mungkin bersedia bertemu di tempat makan yang tidak ramai. Fiona mendengarkan dari sisi meja, kemudian berkata ia akan memikirkan apakah ingin ikut. Laura tidak menyebut jawaban Zio sebagai contoh yang harus diikuti adiknya.
'Kalau jadi pergi, Ibu tetap di sana,' ujarnya.
'Aku tahu,' jawab Zio sambil merapikan bukunya. 'Aku cuma ingin memastikannya lagi.'
Laura menerima kebutuhan itu tanpa mengatakan ia terlalu banyak bertanya. Ia tahu kepastian tidak selalu cukup disampaikan sekali, terutama ketika seseorang yang pernah pergi ingin kembali mendekat. Malam berakhir tanpa tanggal pertemuan, tetapi dengan dua jawaban yang boleh tetap berbeda dan seorang ibu yang tidak lagi berusaha membuat semuanya terdengar rapi.