Laura menulis nama Brian dalam balasannya kepada Lee, kemudian menjelaskan singkat bahwa mantan suaminya datang membicarakan anak-anak. Ia menyebut Daniel menemani atas permintaannya. Setelah pesan terkirim, ia kembali membuka pekerjaan yang tertunda karena kunjungan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Lee memintanya datang setelah urusan yang sedang dikerjakan selesai. Laura tidak langsung berdiri. Ia menyelesaikan catatan untuk Michelle dan memastikan tidak meninggalkan berkas dalam keadaan terbuka pada komputer bersama, baru kemudian menuju ruangan Lee.
Lee menatapnya ketika ia masuk. Di atas meja ada beberapa dokumen yang belum dibereskan, tetapi pertanyaan pertamanya tidak berkaitan dengan pekerjaan.
'Sejak kapan dia datang menemuimu lagi?'
'Hari ini. Tanpa janji.'
'Dan kamu bersedia bertemu.'
'Karena dia menyebut anak-anak. Aku ingin tahu apa yang mau dibicarakan.'
Laura duduk setelah dipersilakan. Ia tidak menceritakan permintaan uang sebagai alasan agar Lee menganggap pertemuan itu tidak mengancam. Penolakannya kepada Brian tidak perlu dijadikan bukti bahwa ia setia kepada perjanjian yang berbeda.
Lee menyandarkan siku. Ia mengingatkan kesepakatan mereka, tentang tidak menjalani hubungan dengan lelaki lain selama Laura berpura-pura menjadi kekasihnya. Laura mendengarkan sampai selesai, lalu menaruh ponselnya di dalam tas agar tidak tergoda membaca pesan lain untuk menghindari percakapan.
'Bertemu ayah anak-anakku bukan berkencan,' katanya.
'Aku tidak mengatakan kamu berkencan. Tapi dia mantan suamimu.'
'Justru karena itu, ada urusan yang tidak bisa dihapus dengan kesepakatan kita.'
Lee tampak hendak menyela. Laura mengangkat tangannya sedikit, meminta kesempatan menyelesaikan kalimat. Jantungnya berdebar, tetapi ia tidak ingin jawaban ini berakhir seperti pesan pendek yang dahulu harus diganti dengan permintaan maaf panjang.
'Zio dan Fiona punya sejarah dengannya. Aku boleh marah kepada Brian, tetapi aku tidak bisa bertindak seolah dia tidak pernah menjadi ayah mereka hanya karena sekarang aku datang makan bersama keluargamu.'
'Aku tahu mereka anak-anaknya.'
'Kalau begitu, jangan samakan pembicaraan pengasuhan dengan hubungan pribadi baru.'
Ruangan mendadak terasa terlalu tenang. Laura memperhatikan tangan Lee yang berhenti di tepi dokumen. Ia sadar lelaki itu tidak terbiasa mendengar penolakannya disampaikan tanpa usaha membuatnya terdengar lebih lunak.
'Aku hanya tidak ingin dia mengambil keuntungan darimu,' kata Lee akhirnya.
'Aku juga tidak ingin. Karena itu aku meminta Daniel menemani dan mengatur pertemuan di ruang tamu kantor. Aku bisa memikirkan cara melindungi diriku tanpa harus dilarang bertemu.'
Lee memandangnya lebih lama. Laura tidak mengetahui apakah ia sedang marah atau menimbang jawabannya. Ia menunggu sambil mengingat bahwa tidak ada satu kalimat pun dalam percakapan ini yang mengubah fakta bahwa dirinya berhak menyampaikan keberatan.
'Seharusnya aku bertanya dulu apa yang terjadi,' ujar Lee.
Laura mengangguk. 'Iya.'
'Maaf. Aku mencampurkan urusan kita dengan sesuatu yang bukan bagianku untuk memutuskan.'
Ia menerima permintaan maaf itu tanpa langsung menyatakan semua sudah baik. 'Kalau kamu khawatir, tanyakan apa yang kubutuhkan. Jangan memakai kontrak untuk menentukan bagaimana aku berbicara tentang anak-anak.'
Lee mengatakan ia akan mengingatnya. Ia tidak mengeluarkan dokumen untuk mencari kalimat yang dapat memenangkan perdebatan. Namun Laura juga tidak ingin menganggap satu percakapan cukup mengubah cara mereka berhubungan. Ia perlu melihat apa yang terjadi ketika keinginan mereka kembali berbeda.
Ia masih mengingat betapa lega dirinya ketika pembayaran pertama diterima. Uang itu membuka kemungkinan yang sebelumnya hanya dihitung sambil mencemaskan kebutuhan berikutnya. Tetapi duduk di hadapan Lee sekarang membuatnya melihat harga yang tidak tercantum dalam angka bulanan. Jika setiap keputusan tentang keluarganya harus menunggu lelaki itu merasa tenang, ia akan kembali hidup dengan izin yang mudah ditarik. Laura belum tahu bagaimana menyelesaikan kesepakatan mereka, tetapi ia tahu tidak ingin menambahkan pengasuhan anak ke dalamnya.
Lee bertanya apakah Brian membuatnya takut. Laura menjawab bahwa pertemuan tadi tidak berubah menjadi ancaman, tetapi ada tekanan yang tidak ingin ia hadapi seorang diri. Ia belum tahu bagaimana anak-anak akan menanggapi permintaan bertemu.
'Aku akan berbicara kepada mereka saat kami tenang,' katanya. 'Bukan karena Brian menuntut jawaban hari ini.'
'Kalau ada yang bisa kubantu?'
'Biarkan aku mengaturnya. Kalau aku butuh bantuan tertentu, aku akan mengatakannya.'
Jawaban itu tidak berarti ia menolak semua perhatian Lee. Ia hanya tidak ingin bantuan datang bersama keputusan yang sudah dibuat untuknya. Laura merasakan perbedaan tersebut lebih jelas setelah mendengar dirinya mengucapkannya keras-keras.
Sebelum keluar, ia mengingatkan bahwa dirinya perlu kembali bekerja. Lee mengangguk dan tidak menambahkan ajakan makan untuk menutup percakapan seolah tidak terjadi apa-apa. Laura mengucapkan terima kasih karena didengarkan, lalu meninggalkan ruangan.
Di mejanya, Michelle menanyakan persetujuan satu materi. Laura membaca dengan lebih lambat agar kemarahannya tidak membuat ia melewatkan kesalahan. Setelah menjawab, ia memberi tahu Daniel bahwa urusan tamu pribadi tadi sudah selesai untuk hari itu dan tidak ada alasan mengubah jadwal kerja tim.
Daniel tidak meminta cerita lebih lanjut. Ia hanya mengingatkan bahwa Laura dapat menghubungi penerima jika ingin menolak kunjungan tanpa janji. Laura mencatat nomor tersebut di tempat yang mudah ditemukan.
Sore hari, ponselnya menampilkan pesan Brian: ia menanyakan apakah Laura sudah berbicara dengan anak-anak. Laura membaca dua kali, lalu menjawab belum. Ia meminta Brian menunggu kabar, tidak terus menagih melalui pesan sepanjang hari.
Setelah mengirimnya, ia memeriksa percakapan dengan Lee. Ada satu pesan baru yang mengatakan ia menyesali caranya bertanya tadi. Tidak ada tuntutan agar Laura segera membalas atau menyatakan dirinya tidak marah.
Laura menulis bahwa ia menghargai permintaan maaf itu, kemudian menyimpan ponsel. Ia tidak ingin menghabiskan seluruh perjalanan pulang menjelaskan perasaannya kepada dua lelaki sementara anak-anak menunggu di rumah.
Malam itu, ketika Fiona bertanya apakah ibunya lelah, Laura menjawab iya. Ia tidak mengatakan semuanya baik-baik saja, tetapi menambahkan bahwa ia ingin makan bersama dan mendengar cerita mereka lebih dulu. Urusan Brian dapat dibicarakan besok, ketika tidak ada rasa terburu-buru untuk memberi jawaban yang menyenangkan siapa pun.