Senin belum mencapai waktu makan siang ketika petugas penerima menghubungi Laura. Seorang lelaki bernama Brian ingin menemuinya dan menyebut urusan keluarga. Laura berhenti membaca dokumen. Selama beberapa detik, ia hanya menatap layar yang tidak lagi dapat dipahaminya.
'Tolong minta menunggu. Saya turun sebentar,' jawabnya.
Ia tidak mempersilakan Brian langsung naik ke ruangannya. Kehidupan yang pernah mereka bangun tidak memberi mantan suaminya hak untuk melewati aturan tamu perusahaan. Sebelum turun, Laura mengabari Daniel bahwa ia perlu menemui tamu pribadi dan mungkin membutuhkan ruangan untuk berbicara singkat.
Daniel menanyakan apakah ia ingin ditemani. Laura berpikir sejenak, lalu menjawab iya. Ia tidak ingin percakapan melebar tanpa seseorang yang dapat membantu mengingatkan bahwa pertemuan itu berlangsung di tempat kerja.
Brian berdiri ketika melihatnya di lobi. Pandangannya bergerak dari wajah Laura ke pakaian dan kartu pegawainya. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu tentang penampilan, tetapi Laura lebih dulu menanyakan tujuan kedatangannya.
'Aku ingin bicara tentang anak-anak.'
'Kamu bisa menghubungiku lebih dulu.'
'Kalau lewat telepon, kadang susah menjelaskan.'
Laura tidak membenarkan alasan itu. Ia mempersilakan Brian mengikuti petugas menuju ruang tamu yang disediakan, lalu memperkenalkan Daniel sebagai rekan yang akan menemani. Brian terlihat tidak menyukai kehadiran orang lain, tetapi Laura tidak meminta Daniel pergi.
'Apa yang ingin kamu sampaikan?' tanyanya setelah duduk.
Brian mengatakan ia merindukan Zio dan Fiona. Ia ingin bertemu, mengetahui kabar sekolah, dan membawa mereka makan. Laura mendengarkan tanpa segera menjawab iya atau tidak. Kerinduan yang baru disebutkan tidak menghapus waktu ketika kebutuhan anak-anak harus ia tanggung sendiri.
'Aku perlu bicara kepada mereka dulu,' katanya.
'Aku ayah mereka.'
'Aku tahu. Mereka juga tahu. Tapi kamu tidak bisa datang tiba-tiba lalu meminta mereka siap bertemu.'
Brian mengusap wajah. Ia mengatakan tidak ingin bertengkar. Laura menjawab ia pun tidak. Karena itu pertemuan harus dibicarakan dengan cara yang tidak membuat anak-anak merasa diseret ke dalam percakapan orang dewasa.
Ia sempat memikirkan percakapan sederhana di meja makan, ketika Zio dan Fiona memilih sendiri apakah ingin menerima undangan. Sikap yang sama harus ia berikan sekarang, meskipun orang yang hendak ditemui membawa sejarah yang lebih menyakitkan. Laura tidak ingin kemarahannya kepada Brian menjadi kalimat yang harus diucapkan anak-anak. Namun ia juga tidak akan menyuruh mereka menyembunyikan rasa takut atau kecewa demi membuat pertemuan tampak berhasil. Keduanya berhak mempunyai jawaban yang berbeda.
Daniel tidak menyela. Ia duduk sedikit menjauh, cukup dekat untuk mendengar tetapi tidak mengambil alih. Laura bersyukur atas sikap itu. Ia ingin menyampaikan pendiriannya sendiri, bukan membuat Brian berdebat dengan lelaki lain atas nama melindunginya.
'Aku tidak melarang kamu menanyakan kabar,' lanjut Laura. 'Tapi ada hal yang harus kita atur. Waktu, tempat, dan apakah mereka ingin datang.'
'Baik. Kamu tanyakan dulu.'
Untuk sesaat, Laura berharap percakapan dapat berhenti pada kalimat itu. Namun Brian belum berdiri. Ia memandangi map kerja di tangan Laura, kemudian bertanya apakah benar ia sekarang memimpin bagian pemasaran.
'Apa hubungannya dengan anak-anak?'
'Tidak ada. Aku cuma dengar kabar. Sepertinya kamu sudah jauh lebih baik.'
Laura tidak menjawab penilaian itu. Hidupnya bukan laporan yang perlu diberikan kepada Brian setiap kali ia mempunyai penghasilan lebih baik. Ia bertanya apakah masih ada hal tentang anak-anak yang hendak dibicarakan.
Brian mencondongkan tubuh. Suaranya turun ketika mengatakan ia sedang mengalami kesulitan uang. Ada kebutuhan yang belum dapat dipenuhi dan ia hanya perlu bantuan sementara. Ia berjanji akan mengembalikan setelah keadaan membaik.
Laura merasakan kemarahan yang dingin, berbeda dari rasa sakit ketika pertama kali mengetahui pengkhianatannya. Brian datang menyebut rindu anak-anak, lalu menggunakan kabar pekerjaan untuk membuka permintaan yang lain.
'Aku tidak akan memberimu uang,' katanya.
'Aku meminjam, bukan meminta.'
'Jawabanku tetap sama.'
Brian memandang Daniel seolah keberadaan saksi membuat penolakan itu lebih memalukan. Ia kembali kepada Laura dan mengatakan mereka pernah menjadi keluarga. Laura tidak mengangkat suara, tetapi meletakkan mapnya agar kedua tangannya bebas dari sesuatu yang dapat diremas tanpa sadar.
'Justru karena kita pernah menjadi keluarga, kamu tahu berapa lama aku memenuhi kebutuhan anak-anak sendiri. Jangan pakai itu untuk menagih bantuan dariku.'
'Aku tidak menagih.'
'Kalau begitu, terima jawabanku.'
Ruangan menjadi sunyi. Dari luar terdengar langkah petugas dan bunyi pintu lain dibuka. Brian menarik napas, lalu mengatakan tidak menyangka Laura akan berbicara sekeras itu.
'Aku berbicara jelas,' jawabnya. 'Urusan bertemu anak-anak kita bahas terpisah. Bukan imbalan karena aku memberimu uang, dan bukan hukuman karena aku menolak.'
Daniel mengingatkan bahwa waktu ruangan hampir habis. Ia tidak menilai urusan keluarga, hanya memberi Laura alasan yang nyata untuk mengakhiri pertemuan sebelum percakapan berputar.
Laura berdiri. Ia mengatakan akan menyampaikan keinginan Brian kepada anak-anak pada waktu yang sesuai. Ia juga meminta Brian mengatur pertemuan berikutnya melalui pesan, bukan datang ke tempat kerja tanpa janji.
Brian bertanya kapan ia akan mendapat jawaban. Laura tidak memberi tanggal hanya agar mantan suaminya segera pergi. Ia mengatakan akan mengabari setelah berbicara dengan anak-anak dan tidak ingin mereka didesak pada hari yang sama.
Setelah petugas mengantar Brian keluar, Laura tetap berdiri dekat kursinya. Daniel bertanya apakah ia memerlukan waktu sebelum kembali bekerja. Laura menjawab beberapa menit cukup, lalu berterima kasih karena ia bersedia menemani tanpa menjawab atas namanya.
'Kalau tamu itu datang lagi, aturan penerima tetap sama,' kata Daniel. 'Kamu boleh meminta tidak ditemui saat bekerja.'
Laura mengangguk. Ia kembali ke ruangan setelah membasuh tangan dan menenangkan napas. Di lorong, beberapa orang melihatnya, tetapi ia tidak menjelaskan kunjungan tersebut kepada mereka.
Ponselnya bergetar sebelum ia duduk. Lee menanyakan siapa tamu yang baru menemuinya bersama Daniel. Laura memandang pesan itu lama. Ia belum selesai menghadapi tuntutan satu lelaki, dan sekarang harus menentukan bagaimana menjawab pertanyaan lelaki lain tanpa kembali menyerahkan keputusan hidupnya.