Rabu, ruangan pemasaran sudah ramai ketika Laura datang. Ada pesan dari percetakan yang menanyakan kapan mereka dapat menerima berkas akhir. Laura memeriksa jadwal, lalu menegaskan kepada tim bahwa pengiriman harus selesai Jumat pagi agar masih ada waktu memeriksa hasil cetak sebelum acara akhir pekan berikutnya.
Michelle mengangguk dan menunjukkan teks yang telah disetujui. Laura membandingkannya dengan rancangan banner. Ia mengganti jarak satu baris yang tampak terlalu rapat, lalu meminta Michelle memastikan tidak ada perubahan isi setelah persetujuan tersebut.
'Kalau hanya menggeser letak, saya tetap kirim pratinjau,' kata Michelle.
'Iya. Biar kita melihat versi yang sama.'
Norma mendengar percakapan itu dari mejanya. Ia tidak menoleh, tetapi tangannya berhenti mengetik. Sudah beberapa hari ia mendengar orang memanggil Laura untuk meminta keputusan. Perempuan yang dahulu dapat ia rendahkan sekarang menjadi orang yang menentukan apakah pekerjaannya cukup baik untuk diteruskan.
Ia menatap daftar tugas yang diberikan pagi tadi. Pekerjaan itu wajar untuk bagian pemasaran, tetapi di kepalanya setiap arahan terdengar seperti kemenangan pribadi Laura. Buket di ruangan kepala bagian, mobil mewah, dan salon yang ditunggunya dari taksi kembali terbayang.
Menjelang siang, Laura meminta seluruh materi pendukung dikumpulkan. Mereka membahas warna, ukuran, serta bahan yang perlu dibawa ke hotel tempat banner akan dipasang. Daniel datang sebentar untuk memastikan tenggat tidak berubah, lalu mengingatkan agar percetakan menerima berkas yang benar-benar siap.
'Jangan mengirim draf lalu berharap bisa diperbaiki saat mesin sudah berjalan,' katanya.
Laura mencatatnya. Setelah rapat singkat itu, ia kembali merapikan desain. Ia menyimpan rancangan kerja di tempatnya sendiri, lalu menaruh hasil akhir pada folder yang digunakan tim melalui komputer bersama. Berkas tersebut masih perlu dibuka sekali lagi untuk pemeriksaan ukuran.
Sore hari, Michelle mencetak pratinjau kecil beserta teks persetujuan. Ia menyerahkannya kepada Laura untuk diperiksa sebelum pergi menemui bagian lain. Laura menandatangani lembar yang sesuai dan menyimpan salinannya dalam map. Ia merasa satu pekerjaan penting akhirnya dapat dilepas dari kepalanya.
Pada saat itulah telepon dari sekolah Fiona masuk. Bukan keadaan darurat; ada perubahan waktu kegiatan yang perlu diketahui orang tua. Laura berdiri dan menjauh dari meja yang sedang dipakai bersama agar dapat mendengar jelas tanpa mengganggu orang lain.
Norma melihat kesempatan ketika kursi di depan komputer itu kosong. Ia mendekat sambil membawa berkas miliknya, seolah hanya hendak memeriksa sesuatu sebelum pulang. Dua orang masih berbicara di sisi ruangan, tetapi tidak memperhatikan layar.
Folder desain terbuka. Nama berkas banner akhir tampak di antara beberapa dokumen lain. Norma mengenali judulnya dari pembicaraan sepanjang hari. Ia memilih berkas tersebut dan membukanya, melihat susunan yang baru saja disetujui Laura.
Ada waktu ketika ia sebenarnya masih dapat menutup layar dan kembali ke meja. Tidak ada yang memerintahkannya menghapus apa pun. Namun ia membayangkan Laura berdiri kebingungan di depan Daniel, lalu rasa puas yang belum terjadi itu membuat jari-jarinya bergerak.
Norma menutup berkas, menghapus salinan akhir dari folder tersebut, dan melanjutkan tindakan sampai berkas itu tidak lagi terlihat pada tempat yang biasa diperiksa. Ia tidak mencari rancangan kerja di penyimpanan Laura. Yang diinginkannya adalah membuat tim kehilangan versi yang dibutuhkan tepat ketika tenggat sudah dekat.
Suara kursi bergeser di belakangnya membuat punggungnya menegang. Norma segera membuka berkas miliknya sendiri. Seorang rekan hanya lewat untuk mengambil tas dan mengucapkan selamat sore. Norma membalas sambil memaksa wajahnya tetap biasa.
Laura kembali setelah memastikan jadwal Fiona. Ia membawa catatan kecil dan bertanya apakah komputer masih dipakai. Norma menggeser kursi, mengatakan urusannya sudah selesai, lalu kembali ke mejanya tanpa menatap lama.
'Berkas pendukungmu sudah masuk?' tanya Laura.
'Sebentar lagi saya kirim.'
'Terima kasih. Besok pagi kita cocokkan dengan daftar.'
Jawaban itu membuat Norma semakin kesal. Ia berharap mendengar nada sombong agar tindakannya terasa dapat dibenarkan. Sebaliknya, Laura hanya memintanya menyelesaikan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Laura tidak membuka folder banner lagi sore itu. Ia sudah melihat pratinjau dan bermaksud melakukan pemeriksaan akhir keesokan pagi sebelum mengirimnya. Ia mengemasi barang setelah memastikan tidak ada urusan yang mendesak, lalu mengirim pesan kepada anak-anak bahwa ia sedang pulang.
Sebelum menutup ruangan, ia menyimpan lembar persetujuan di tempat yang mudah diambil. Daniel pernah mengingatkannya bahwa ingatan beberapa orang tentang hasil rapat bisa berbeda. Karena itu ia ingin ukuran, isi, dan persetujuan yang terakhir tetap dapat dibandingkan jika ada pertanyaan. Ia belum memahami bahwa besok kertas tersebut akan menjadi satu-satunya cara cepat untuk melihat hasil akhir yang baru saja mereka susun, meskipun tidak dapat menggantikan berkas desain untuk dicetak.
Michelle kembali ketika Laura hendak keluar. Ia mengatakan lembar persetujuan sudah tersimpan dan pratinjau tetap ada padanya. Laura berterima kasih, menyebut mereka akan memeriksa ukuran file bersama besok, lalu meninggalkan ruangan.
Norma menunggu beberapa orang lain pulang sebelum mengambil tas. Ia tidak menyentuh komputer tersebut lagi. Dalam kepalanya sudah terbentuk kemungkinan jawaban: ia memakai komputer untuk pekerjaannya, banyak orang mengakses folder yang sama, dan tidak seorang pun melihat persis apa yang ia lakukan.
Namun saat melewati meja kosong Laura, kepuasannya tidak terasa setenang yang dibayangkan. Ia mengetahui keputusan itu miliknya sendiri. Tidak ada kesalahan sistem atau tangan orang lain yang dapat mengubah apa yang baru saja ia lakukan di depan layar.
Di rumah, Laura mengatur ulang jadwal penjemputan Fiona berdasarkan panggilan sekolah tadi. Ia bertanya kepada Zio tentang bukunya, menyiapkan makan malam, dan memeriksa pesan pekerjaan hanya sekali sebelum menyimpan ponsel.
Ia tidak mengetahui bahwa satu berkas yang dianggapnya siap sudah hilang. Besok ia berencana memulai hari dengan mengirim materi cetak dan menyelesaikan beberapa pekerjaan lain yang tertunda. Di atas meja kecil, catatan jadwal Fiona sudah ia beri tanda. Urusan keluarga itu jelas. Sementara di kantor, seseorang baru saja membuat pekerjaannya berantakan tanpa satu kata pun peringatan.