Fiona duduk dekat Laura ketika mobil berangkat pada Minggu siang. Buku yang dipilihnya berada dalam tas kecil, meskipun sepanjang perjalanan ia lebih sering memandang ke luar. Zio menanyakan nama orang yang akan ditemui, dan Laura menjawab bahwa mereka akan berkenalan langsung setelah tiba.
Lee tidak berada di mobil. Ia mengirim pesan bahwa dirinya sudah di rumah ayahnya dan menunggu mereka. Laura membaca pesan itu kepada anak-anak, lalu menyimpan ponsel. Ia tidak ingin keduanya mengira perjalanan ini sekadar mengikuti rencana orang dewasa yang terus berubah tanpa penjelasan.
Ketika gerbang terbuka, Fiona mendekat sedikit. Zio memandangi halaman yang luas dengan rasa ingin tahu yang berusaha ia sembunyikan. Laura menunggu sopir membuka pintu, kemudian turun dan membantu Fiona membawa tasnya sampai anak itu meminta memegangnya sendiri.
Lee menyambut di teras. Ia mengenakan pakaian yang lebih santai daripada saat di kantor. Laura memperkenalkan anak-anak satu per satu, lalu membiarkan mereka menentukan apakah ingin berjabat tangan atau cukup menyapa.
'Aku Zio,' kata putranya.
'Lee. Senang akhirnya bisa bertemu.'
Fiona menyebut namanya lebih pelan. Lee menundukkan kepala sedikit untuk mendengar, tanpa meminta ia mengulang lebih keras. Setelah itu ia mempersilakan mereka masuk. Ayahnya sudah menunggu di ruang tengah dan berdiri ketika Laura mengucapkan salam.
'Terima kasih sudah datang. Kalian sudah lapar?'
Fiona memandang ibunya sebelum mengangguk. Zio menjawab bahwa ia sudah sarapan, tetapi ingin mencoba sup yang diceritakan Laura. Ayah Lee tersenyum dan menunjuk ruang makan yang kali ini terasa tidak seformal malam sebelumnya.
Sebelum makan, beliau mengajak mereka melihat dapur dari ambangnya. Ada beberapa bahan yang masih disiapkan untuk hidangan pendamping. Lee berdiri dekat meja dengan sepotong wortel dan alat pengupas, menerima arahan singkat dari orang yang memasak.
'Ternyata kamu bisa membantu juga,' kata Laura.
'Mengupas belum tentu berarti bisa memasak.'
Zio tertawa. Fiona memperhatikan potongan wortel yang berbeda besar. Ia mengatakan salah satunya tampak terlalu tebal, lalu segera memandang ibunya seolah khawatir telah berkomentar tidak sopan.
'Yang itu memang tidak rata,' jawab Lee lebih dulu. 'Mungkin aku perlu mengulang.'
Ia memisahkan potongan tersebut tanpa menyuruh Fiona mengambil alih. Laura lega ketika anaknya kembali memperhatikan sekeliling dengan rasa ingin tahu. Pertemuan pertama tidak perlu dipenuhi pertanyaan tentang sekolah atau penilaian terhadap cara mereka duduk.
Di meja makan, ayah Lee menawarkan mangkuk kecil lebih dulu. Fiona meminta kuah sedikit, sedangkan Zio memilih mencoba bersama nasi. Laura menunggu mereka mengambil keputusan sebelum mengisi mangkuknya sendiri.
'Kalau tidak habis, bilang saja,' ujar beliau. 'Tidak perlu memaksa.'
Fiona mencicipi dengan hati-hati, kemudian mengambil sesendok lagi. Zio bertanya apakah Lee biasa makan di sini setiap hari. Lee menjawab tidak, sebab ia memiliki pekerjaan dan tempat tinggal sendiri. Ayahnya menambahkan bahwa terkadang putranya perlu diingatkan agar datang sebelum makanan dingin.
'Ayah sudah menceritakannya waktu Laura datang,' kata Lee.
'Karena kamu belum berubah.'
Tawa kecil membuat Laura berhenti menghitung apakah ia tampak cukup pantas duduk di sana. Ia membantu Fiona mengambil air, lalu mendengarkan Zio bercerita tentang buku yang dibawanya. Lee menanyakan bagian yang disukai, bukan meminta anak itu menunjukkan seluruh isi tas.
Percakapan sempat menyentuh pekerjaan Laura. Ayah Lee menyebut ia pasti sibuk dengan tugas baru. Zio menoleh kepada ibunya, dan Laura menjelaskan singkat bahwa ia sedang belajar mengatur pekerjaan yang berbeda dari sebelumnya.
'Tapi hari ini Ibu tidak bekerja,' katanya.
'Kalau telepon kantor masuk?' tanya Zio.
'Ibu lihat apakah mendesak. Kalau tidak, bisa menunggu.'
Lee tidak menyela. Ia bahkan menggeser ponselnya menjauh setelah layarnya menyala, lalu kembali mendengarkan Fiona yang bertanya apakah taman di belakang boleh dilihat setelah makan. Ayahnya mengizinkan dengan syarat tetap bersama Laura karena mereka belum mengenal rumah itu.
Setelah mangkuk-mangkuk diangkat, mereka keluar sebentar. Fiona berjalan dekat ibunya, sementara Zio berhenti memperhatikan beberapa tanaman. Tidak ada yang meminta foto bersama. Laura tidak tahu apakah ayah Lee sengaja menghindarinya atau memang tidak memikirkan kamera, tetapi ia bersyukur dapat menjalani sore tanpa harus segera menentukan bagaimana pertemuan itu akan diceritakan kepada orang lain.
'Besok sekolah?' tanya ayah Lee.
'Iya,' jawab Fiona.
'Kalau begitu, jangan pulang terlalu sore.'
Laura mengangguk. Ia melihat jam dan memberi tahu bahwa mereka akan segera bersiap. Zio masih ingin melihat satu sudut taman, lalu kembali setelah ibunya memanggil. Fiona sudah mengambil tas bukunya dari ruang tengah, meskipun belum sempat membacanya.
'Tidak jadi dipakai?' tanya Laura.
'Tidak apa-apa. Bisa dibaca di rumah.'
Lee menemani sampai teras. Ia tidak menawarkan singgah ke pusat perbelanjaan atau memperpanjang acara dengan alasan ingin membuat anak-anak senang. Laura berterima kasih atas makan siang, dan Zio ikut mengucapkannya kepada ayah Lee.
'Kapan-kapan kalau ingin datang, beri kabar,' jawab beliau. 'Tidak harus setiap minggu.'
Fiona mengangguk kecil. Ia belum membuat janji untuk datang lagi. Laura tidak menambahkan jawaban atas namanya. Setelah mereka masuk ke mobil, Lee menutup pintu dan menunggu sampai kendaraan bergerak sebelum berbalik ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, Zio mengatakan supnya enak. Fiona membicarakan wortel yang dipotong Lee dan tertawa karena masih mengingat bentuknya. Laura mendengarkan tanpa menanyakan apakah mereka menyukai Lee. Ia ingin membiarkan pengalaman siang itu tetap menjadi makan bersama, bukan ujian yang harus menghasilkan jawaban tertentu.
'Tadi orang-orangnya baik,' kata Fiona akhirnya.
'Ada yang membuatmu tidak nyaman?' tanya Laura.
'Rumahnya besar. Aku takut salah jalan kalau ke kamar mandi.'
'Lain kali kalau ke tempat yang belum dikenal, panggil Ibu. Kita cari bersama.'
Zio berkata ia senang mereka pulang sesuai rencana. Laura mengangguk, lalu bertanya apakah ada keperluan sekolah yang perlu disiapkan sebelum malam. Pembicaraan kembali kepada buku, pakaian, dan makanan di rumah. Di pangkuannya, ponsel tetap diam. Ia merasa cukup telah membawa anak-anak pulang dengan waktu yang masih menjadi milik mereka sendiri.