Sabtu pagi, Laura bangun sebelum alarm kedua berbunyi. Ia mencuci muka, menyiapkan sarapan, lalu mengambil tugas Fiona dari meja. Kertasnya sudah sedikit terlipat di sudut, tanda semalam beberapa kali dibuka sambil menunggu. Laura meratakannya dan memanggil anaknya setelah makanan siap.
Fiona duduk membawa pensil. Ia tidak meminta ibunya mengerjakan bagian yang belum selesai, hanya ingin memastikan jawabannya dapat dibaca. Laura menunjuk satu kalimat yang terpotong. Fiona memperbaikinya sendiri sambil sesekali mengunyah sarapan.
'Sudah,' katanya setelah menaruh tanda titik terakhir.
'Mau Ibu lihat lagi?'
'Bagian ini saja.'
Laura mengikuti jarinya. Di seberang meja, Zio menuangkan air dan menanyakan apakah hari ini mereka akan pergi. Laura menggeleng. Ia ingin mengurus rumah dan menemani mereka, lalu menyampaikan undangan dari ayah Lee ketika keduanya selesai makan.
'Beliau mengajak kita makan sup. Tapi Ibu belum memberi jawaban.'
Zio menghentikan tangannya. 'Sama orang yang kemarin?'
'Dengan Lee dan ayahnya. Kalau kalian ingin, Ibu tanya apakah besok siang mereka bisa.'
'Ayahnya juga atasan Ibu?' tanya Fiona.
'Bukan. Kita ke sana sebagai tamu, bukan karena pekerjaan.'
Laura membiarkan mereka memikirkan penjelasan itu. Ia tidak mengeluarkan ponsel untuk langsung menulis persetujuan. Zio ingin tahu apakah rumahnya jauh. Fiona ingin tahu apakah ia harus mengenakan pakaian yang membuatnya susah duduk.
'Pakai yang rapi dan nyaman,' jawab Laura. 'Kita tidak datang untuk acara besar.'
'Kalau aku tidak suka supnya?'
'Cicipi kalau ingin. Ibu bisa menanyakan makanannya lebih dulu.'
Zio tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. Laura ikut tersenyum, lalu mengatakan bahwa mereka boleh tetap memilih di rumah. Undangan tidak harus dijawab iya hanya karena orang yang mengundang lebih tua atau memiliki rumah yang bagus.
'Aku mau lihat,' kata Zio setelah beberapa saat. 'Tapi kita pulang sore?'
'Setelah makan dan mengobrol sebentar. Tidak sampai malam.'
Fiona masih memandang kertas tugasnya. Ia bertanya apakah boleh membawa buku. Laura menjawab boleh, kemudian menunggu sampai anaknya mengatakan ingin ikut. Barulah ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Lee, menanyakan kemungkinan makan siang besok serta menjelaskan bahwa mereka tidak akan tinggal terlalu lama.
Balasan Lee datang ketika Laura sedang mencuci piring. Ayahnya senang menerima mereka. Ia juga menanyakan apakah ada makanan yang perlu dihindari. Laura menjawab sesuai yang diketahuinya dan memastikan rencana dijelaskan sebagai makan siang biasa. Tidak ada keperluan menyiapkan hadiah untuk anak-anak.
'Siapa?' tanya Zio saat membantunya mengeringkan meja.
'Lee. Besok bisa. Jadi kita berangkat setelah urusan pagi selesai.'
Zio mengangguk dan kembali menyusun bukunya. Laura menyimpan ponsel. Ia belum tahu bagaimana pertemuan itu akan terasa, tetapi setidaknya anak-anak tidak akan dibawa ke rumah orang tanpa mengetahui tujuan. Ia mencatat jam berangkat di dekat kalender agar keduanya dapat melihatnya tanpa harus terus bertanya kepadanya.
Menjelang siang, Kimmy menelepon. Ia menanyakan apakah Laura sudah cukup tidur, kemudian akhirnya mengaku penasaran dengan makan malam kemarin. Laura duduk di dekat jendela agar percakapan tidak mengganggu Fiona yang sedang membaca.
'Ayahnya ramah,' katanya. 'Aku kira akan ditanya macam-macam.'
'Jadi bukan rapat?'
Laura terdiam. Kimmy tidak perlu menambah pertanyaan agar ia memahami kebingungan dalam suara sahabatnya. Semalam, kepada anak-anak ia sudah mulai meluruskan cerita. Kepada teman yang menjaga mereka, ia juga tidak seharusnya terus menggunakan jawaban yang sama.
'Bukan. Maaf, aku belum cerita dengan benar. Aku sedang mengenal Lee di luar pekerjaan juga.'
'Kamu yakin itu yang kamu mau?'
Pertanyaan Kimmy membuatnya memandang ke luar. Ia ingin menjawab mudah, tetapi ada perbedaan antara mau mengenal seseorang dan menerima segala syarat yang disodorkan orang itu.
'Ada yang masih harus kupikirkan,' katanya. 'Aku belum membuat keputusan besar.'
'Kalau kamu mau cerita, aku dengar. Tapi jangan merasa harus bilang semuanya menyenangkan supaya kami tidak khawatir.'
Laura mengucapkan terima kasih. Ia belum menyebut kontrak. Ia sadar masih menunda bagian yang paling sulit, tetapi tidak meminta Kimmy menganggap hubungannya sudah pasti. Setelah menutup telepon, ia duduk beberapa saat sebelum kembali menemani anak-anak.
Di tempat lain, Norma menatap layar ponselnya. Semalam ia hanya membawa pulang kelelahan dan pertengkaran kecil dengan Brian tentang ongkos taksi. Ia tidak mengatakan telah mengikuti Laura. Ketika Brian kembali bertanya, ia menyebut urusan rekan kantor dan tidak menjelaskan lebih jauh.
'Laura makin sibuk sekarang,' katanya sambil lalu.
Brian menoleh. 'Kenapa tiba-tiba membicarakan dia?'
'Tidak apa-apa. Orang yang baru naik jabatan memang begitu.'
Norma berpaling sebelum Brian bertanya lagi. Ia belum mempunyai bukti apa pun yang dapat dipakai untuk mempermalukan Laura, dan ia tidak mau Brian mengetahui betapa besar perhatiannya tertuju pada mantan istrinya. Namun nama Laura sudah cukup membuat suasana di antara mereka berubah.
Sore itu, Laura menyiapkan pakaian untuk esok tanpa membawa anak-anak berbelanja. Pakaian yang ada masih layak, dan undangan makan tidak memerlukan pengeluaran baru. Fiona memilih atasan sendiri, sementara Zio memastikan ia tetap boleh membawa buku.
Setelah semuanya siap, Laura memeriksa kembali alamat dan waktu. Lee menawarkan mobil untuk menjemput. Ia menerimanya untuk perjalanan bertiga, setelah menanyakan jam dan memastikan mereka dapat pulang sesuai rencana. Kemudahan transportasi bukan alasan untuk menyerahkan seluruh keputusan acara kepada Lee.
'Besok kalau ada yang tidak nyaman, bilang ke Ibu,' ujarnya ketika anak-anak bersiap tidur.
'Kita boleh minta pulang?' tanya Fiona.
'Boleh. Tapi katakan kepada Ibu dulu, jangan pergi sendiri.'
Zio mengangguk. Ia lebih tertarik menanyakan apakah ada anak lain di rumah itu. Laura menjawab ia belum mengetahui ada tamu lain. Ia akan memastikan sebelum mereka datang, bukan membuat janji berdasarkan dugaan.
Setelah keluar dari kamar, Laura mengirim satu pertanyaan terakhir kepada Lee tentang siapa saja yang akan hadir. Jawabannya singkat: mereka bertiga, Lee, dan ayahnya. Laura membaca pesan itu, lalu menaruh ponsel. Untuk pertama kalinya sejak menerima ajakan yang serba mendadak, ia menghadapi pertemuan berikutnya dengan rencana yang benar-benar ia ketahui.