Ayah Lee mengantar mereka sampai teras. Laura mengucapkan terima kasih atas makan malam, lalu berjanji menyampaikan undangan kepada anak-anak. Beliau tidak meminta jawaban saat itu juga. Ketika sopir membukakan pintu, Laura merasa lebih mudah masuk ke mobil daripada ketika ia turun tadi.
Lee duduk di sampingnya setelah berpamitan. Mobil melewati gerbang dan berbelok menuju jalan utama. Laura sudah mengirim kabar kepada Vania bahwa ia sedang pulang. Ia menambahkan agar sahabatnya tidak menunggu terlalu malam jika esok memiliki kegiatan.
'Ayah terlihat senang,' kata Lee.
'Beliau baik.'
'Kamu tidak perlu setegang tadi.'
Laura memalingkan wajah dari ponsel. 'Aku tidak bisa memilih untuk tidak tegang. Aku datang menemui ayahmu dalam keadaan yang tidak biasa.'
Lee tidak segera menjawab. Di depan, sopir menyalakan penunjuk arah, dan keduanya terdiam sampai mobil selesai berbelok.
'Tentang undangan anak-anak,' kata Laura kemudian, 'aku akan bertanya. Tapi jangan membuat rencana sebelum aku memberi jawaban.'
'Aku akan menunggu.'
'Dan kalau mereka tidak mau, itu bukan sesuatu yang bisa kamu ubah dengan membelikan barang.'
Lee menatapnya. 'Aku belum mengatakan akan membelikan apa pun.'
'Aku tahu. Aku mengatakannya sekarang supaya jelas.'
Laura tidak berniat bertengkar setelah jamuan yang berjalan baik. Namun kemudahan Lee mengubah jadwal dan membuat keputusan untuknya masih terasa. Ia tidak ingin kemudahan yang sama diterapkan kepada anak-anak hanya karena malam ini ayahnya bersikap ramah.
Lee menyandarkan punggung. 'Baik. Tidak ada rencana sebelum kamu memberi tahu.'
Ia mengangguk dan kembali memandang jalan. Beberapa saat kemudian, Fiona menelepon melalui ponsel Vania. Laura segera mengangkatnya. Suara anaknya terdengar mengantuk, tetapi masih ingin memastikan apakah tugas yang diletakkan di meja akan dilihat malam ini.
'Kalau kamu sudah mengantuk, tidur dulu. Besok pagi kita lihat bersama sebelum berangkat,' jawab Laura.
'Ibu sudah pulang?'
'Sedang di jalan. Sebentar lagi sampai.'
Fiona mengatakan Zio masih membaca. Laura meminta ponsel diberikan kepada kakaknya jika ia ingin berbicara. Zio hanya menanyakan apakah ibunya sudah makan, lalu mengatakan ada sisa lauk di dapur kalau ia belum sempat.
Tenggorokan Laura terasa hangat. Ia menjawab sudah makan dan berterima kasih karena diingatkan. Setelah panggilan selesai, ia tidak segera menyimpan ponselnya. Perhatian sederhana itu membuat semua percakapan tentang rumah besar dan jabatan terasa jauh.
'Mereka menunggumu,' kata Lee.
'Iya. Karena itu aku perlu diberi waktu mengatur sesuatu kalau jadwal berubah.'
Lee memandang ke depan. 'Aku seharusnya memberitahumu lebih awal.'
Laura tidak mengatakan tidak apa-apa. 'Lain kali tanyakan dulu apakah aku bisa.'
Mobil terus melaju. Di belakang mereka, taksi yang ditumpangi Norma sempat ikut keluar dari kawasan rumah itu, tetapi terpisah oleh lampu merah. Norma meminta sopir berhenti mengikuti. Ia telah menghabiskan waktu dan uang, sementara Brian terus mengirim pesan menanyakan urusannya.
Ia belum tahu apa yang akan dilakukan dengan pemandangan tadi. Namun ketika menyebut alamat tujuan pulang, ia merasa seolah Laura kembali memperoleh sesuatu yang seharusnya dapat ia rebut. Ia menatap foto di layar ponsel sebelum menjawab Brian bahwa ia segera tiba.
Laura tiba lebih dulu di rumahnya sendiri. Lee tidak turun ketika ia mengucapkan terima kasih atas antarannya. Ia mengatakan akan memberi tahu setelah berbicara dengan anak-anak. Sopir menunggu sampai Laura masuk ke halaman dan menutup pagar, lalu membawa Lee pergi.
Vania membuka pintu. Kimmy sedang duduk di ruang tengah dengan cangkir yang tinggal separuh. Fiona sudah berbaring, sedangkan Zio menutup buku ketika melihat ibunya.
'Makasih sudah menemani mereka,' kata Laura.
'Tidak masalah untuk malam ini,' jawab Vania. 'Tapi minggu depan aku punya urusan setelah kerja. Kalau perlu bantuan lagi, kasih tahu lebih awal.'
'Iya. Aku tidak mau menganggap kalian selalu bisa.'
Kimmy berdiri untuk mengambil tas. Ia ingin bertanya tentang salon dan pakaian Laura, tetapi melihat mata sahabatnya yang lelah. Pertanyaan itu ia simpan. Mereka berpamitan setelah Laura memastikan keduanya memiliki kendaraan pulang.
Zio membantu menaruh cangkir di dapur. Saat kembali, ia bertanya apakah pekerjaan ibunya berjalan baik. Laura membuka mulut untuk menjawab, kemudian berhenti. Ia sudah terlalu sering mempersingkat cerita menjadi urusan kantor karena tidak tahu bagaimana menjelaskan yang sebenarnya.
'Tadi aku bukan rapat,' katanya perlahan.
Zio mengangkat wajah. Fiona yang ternyata belum tidur ikut menoleh dari tempatnya berbaring.
'Ibu makan malam di rumah ayah Lee. Dia atasan Ibu di kantor.'
'Kenapa bilang urusan kerja?' tanya Zio.
Laura duduk agar tidak berbicara dari dekat pintu. 'Karena Ibu bingung menjelaskannya dan memilih jawaban yang mudah. Itu tidak tepat. Kalian boleh bertanya kalau ada yang membuat bingung.'
Fiona mengusap mata. 'Dia teman Ibu?'
'Kami sedang saling mengenal. Tapi belum ada keputusan apa pun tentang keluarga kita.'
Laura tahu jawaban itu belum mencakup semua hal. Ia belum sanggup menyebut pembayaran dan kesepakatan yang bahkan belum ia pahami akibatnya bagi dirinya sendiri. Namun ia tidak ingin menambahkan kebohongan baru dengan menyatakan hanya ada pekerjaan di antara dirinya dan Lee.
'Apa dia akan ke sini?' tanya Zio.
'Tidak ada rencana begitu malam ini.'
'Kalau nanti?'
'Kita bicarakan dulu. Ibu tidak akan tiba-tiba meminta kalian menyambut orang yang belum kalian kenal.'
Fiona menarik selimutnya. Ia lebih tertarik memastikan pagi nanti ibunya tetap berada di rumah untuk melihat tugasnya. Laura menjawab iya. Ia akan melihatnya sebelum berangkat, seperti yang baru mereka sepakati melalui telepon.
Zio masih duduk beberapa saat, kemudian mengatakan ia ingin tidur. Laura mengucapkan selamat malam dan mengantarnya sampai pintu kamar. Tidak ada lagi pertanyaan malam itu, tetapi ia mengerti diam bukan berarti kedua anaknya sudah memahami semuanya.
Setelah rumah tenang, Laura mengganti pakaian dan meletakkan tas di kursi. Undangan untuk makan sup belum ia sampaikan. Ia akan menunggu sampai pagi, ketika mereka tidak mengantuk dan dapat mendengar tanpa merasa harus segera menjawab.
Ponselnya menyala. Lee memberi tahu ia sudah sampai. Laura membalas singkat, lalu berhenti sebelum menambahkan permintaan maaf karena tidak menulis panjang. Malam ini ia perlu tidur. Ia menaruh ponsel, memeriksa alarm untuk pagi hari, dan mematikan lampu.