Kursi di sebelah Lee ditarik sebelum Laura sempat menyentuh sandarannya. Ia mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu, lalu duduk dengan tas di samping kaki. Meja itu tidak sepanjang yang ia bayangkan, tetapi cahaya lampu dan peralatan makan yang tertata membuatnya kembali menyadari betapa berbeda rumah ini dari rumahnya.
Ayah Lee mempersilakannya mengambil hidangan. Laura memilih sedikit nasi dan sayur, menunggu beliau mulai sebelum ikut makan. Lee menawarkan lauk yang berada lebih dekat dengannya. Laura menerimanya, kemudian menanyakan apakah ayahnya biasa makan malam selambat ini.
'Kalau menunggu Jae Ho, kadang lebih malam lagi,' jawab beliau.
'Ayah bisa makan lebih dulu.'
'Bisa. Tapi hari ini aku memang ingin makan bersama kalian.'
Laura menunduk sedikit untuk menyembunyikan kegugupannya. Kalian terdengar seperti sesuatu yang utuh. Padahal ia baru mengetahui malam ini akan terjadi setelah jadwalnya diganti sepihak, dan masih memikirkan balasan panjang yang ia kirim kepada Lee sebelum pulang kantor.
'Laura, kalau saya bertanya hal yang terlalu pribadi, katakan saja,' ujar ayah Lee kemudian. 'Jae Ho bercerita sedikit. Saya tidak ingin membuatmu merasa harus menjelaskan semuanya sekaligus.'
Laura meletakkan sendok. 'Terima kasih, Pak.'
'Dua anakmu sedang sekolah?'
'Iya. Zio dan Fiona.'
Ia menyebut kedua nama itu dengan lebih mudah daripada menyebut nama mantan suaminya. Ayah Lee menanyakan apakah mereka menyukai masakan ibunya. Laura tersenyum ketika mengingat ada hari-hari ketika anak-anak berdebat tentang menu yang sebenarnya sudah ia masak.
'Tergantung makanannya. Kalau saya bilang sayur, mereka sering punya usul lain.'
Ayah Lee tertawa kecil. 'Berarti bukan hanya Jae Ho yang begitu waktu kecil.'
'Ayah,' tegur Lee, setengah keberatan.
'Apa? Saya tidak sedang menceritakan hal yang memalukan.'
Laura menoleh kepadanya. 'Kamu juga memilih-milih sayur?'
'Dulu.'
'Kalau sekarang ada yang memasakkan, baru bisa tahu jawabannya,' sela ayahnya.
Laura hampir menjawab bahwa ia pernah memasak untuk Lee. Namun ia menahan diri. Masakan yang dikirimnya dan makan siang di ruangan Lee tidak perlu dijadikan bukti bahwa hubungan ini lebih dekat daripada kenyataannya. Ia hanya mengambil sayur lagi dan mendengarkan ketika ayah Lee bercerita tentang kebiasaan putranya pulang terlambat.
Pembicaraan beralih kepada pekerjaan. Laura menjelaskan bahwa ia menyukai desain karena dapat melihat hasil yang dikerjakan dari awal sampai jadi. Tanggung jawab pemasaran memberinya pekerjaan yang lebih luas, tetapi juga banyak hal yang belum ia kuasai.
'Saya masih belajar mengatur tim,' katanya.
'Jae Ho memberi kesempatan belajar?'
Pertanyaan itu membuatnya berhenti. Lee sedang menuangkan air dan tidak langsung menyahut. Laura memikirkan bagaimana ia pernah menolak jabatan itu. Penolakannya tidak membuat pengumuman dibatalkan. Sekarang ia harus duduk di hadapan ayah lelaki yang membuat keputusan tersebut, tanpa tahu sejauh mana ia boleh jujur.
'Ada hal yang masih perlu dibicarakan,' jawabnya akhirnya. 'Tapi teman-teman membantu saya memahami pekerjaan.'
Ayah Lee memandang putranya. 'Kalau seseorang baru memegang tanggung jawab, jangan hanya menyerahkan jabatan. Pastikan dia punya dukungan.'
Lee mengangguk. 'Aku mengerti.'
Laura tidak merasa semua masalah selesai karena satu kalimat itu. Namun ia lega tidak dipaksa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ia melanjutkan makan dan membiarkan percakapan bergeser kembali ke hal yang lebih ringan.
Ketika ponselnya bergetar, ia meminta izin memeriksa. Vania mengirim pesan bahwa anak-anak baik-baik saja. Kimmy sedang membantu Fiona membereskan meja, sedangkan Zio ingin memastikan apakah ibunya masih lama.
Laura membalas bahwa mereka sedang makan dan ia akan mengabari saat berangkat. Ia menambahkan pesan untuk anak-anak: tidak perlu menahan kantuk hanya untuk menunggunya. Tugas Fiona tetap akan dilihat besok pagi kalau ia keburu tidur malam ini.
'Saya tidak ingin mereka menunggu terlalu malam,' katanya saat menyimpan ponsel.
'Kalau sudah selesai makan, pulanglah,' kata ayah Lee. 'Kita bisa mengobrol lain hari.'
'Kami akan pulang sebentar lagi,' jawab Lee.
Laura menoleh kepadanya, lalu mengangguk. Ia tidak perlu mengulang permintaannya tentang waktu pulang. Untuk sementara, hal kecil itu cukup membuatnya bernapas lebih tenang.
Di luar gerbang, Norma mulai gelisah. Ongkos taksi terus berjalan, dan ia belum mendapatkan apa pun selain kepastian bahwa Laura masuk ke rumah besar bersama seorang lelaki. Ia mengintip melalui kaca, berharap dapat melihat seseorang keluar.
Ponselnya menampilkan pesan Brian yang menanyakan kapan ia pulang. Norma mengetik sedang ada urusan, lalu menghapus penjelasan berikutnya. Ia tidak ingin mengakui bahwa ia menghabiskan malam mengikuti perempuan yang selama ini ia rendahkan.
'Masih lama, Nona?' tanya sopir.
'Sebentar lagi.'
Jawabannya terdengar tidak sabar. Sopir tidak menanggapi. Di halaman rumah, lampu-lampu tetap menyala, tetapi dari tempatnya menunggu Norma tidak dapat melihat meja makan atau mendengar sambutan yang diterima Laura. Ia membayangkannya sendiri, dan bayangan itu membuat dadanya semakin panas.
Laura tidak mengetahui keberadaan taksi tersebut. Ia sedang menerima tawaran sup hangat dari ayah Lee. Beliau mengatakan masakan seperti itu menyenangkan dimakan bersama, terutama ketika seseorang akhirnya pulang sebelum terlalu larut.
'Kalau anak-anak suka, lain kali mereka boleh datang,' katanya.
Laura memegang mangkuk yang masih hangat. Undangan itu terdengar tulus, tetapi ia tidak ingin segera mengiyakan sesuatu yang melibatkan Zio dan Fiona.
'Saya perlu bertanya kepada mereka dulu, Pak.'
'Tentu. Saya hanya mengundang, bukan menyuruh.'
Ia mengangkat wajah. Tidak ada kekecewaan dalam jawaban itu. Laura mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa ia akan menyampaikan undangannya. Ia tidak menjanjikan akhir pekan ini sebelum mengetahui rencana serta keinginan anak-anak.
Lee memperhatikannya sebentar, kemudian meminta sopir bersiap. Laura menyelesaikan supnya dan membantu menggeser mangkuk ke tempat yang lebih mudah diambil. Ia tidak ingin kelihatan sibuk hanya untuk menyenangkan tuan rumah, tetapi gerakan sederhana itu membuatnya kembali merasa seperti dirinya sendiri.
Saat mereka berdiri, ayah Lee kembali mengingatkan agar ia tidak tergesa-gesa membawa anak-anak. Beliau ingin mengenal mereka ketika mereka memang ingin datang. Laura mengangguk, kali ini tanpa senyum yang dipaksakan. Di antara begitu banyak hal yang belum jelas malam itu, ia menemukan satu hal yang dapat ia bawa pulang: menyebut anak-anaknya tidak membuat tempatnya di meja makan itu ditarik kembali.