Laura merapikan ujung hijabnya ketika mobil meninggalkan salon. Kaca di sampingnya memantulkan wajah yang terasa terlalu siap untuk menghadapi makan malam yang justru tidak ia persiapkan. Undangan hari Sabtu berubah menjadi malam ini, dan keberatannya tentang anak-anak baru sempat dijawab dengan beberapa pesan singkat.
Ia membuka percakapan dengan Vania. Sahabatnya sudah tiba di rumah bersama Kimmy. Fiona sedang mengerjakan sesuatu di meja, sementara Zio ingin mengetahui kapan ibunya pulang. Laura mengetik bahwa ia akan memberi kabar sebelum perjalanan kembali. Ia tidak menyebut pertemuan itu rapat kantor lagi, tetapi belum sanggup menjelaskan siapa yang hendak ditemuinya melalui pesan.
'Kita berhenti sebentar, Bu,' kata sopir dari depan.
Laura menegakkan punggung. Mobil masuk ke halaman gedung perkantoran yang masih menyala. Beberapa saat kemudian, Lee keluar membawa jas di lengannya. Barulah Laura memahami mengapa sejak tadi kursi di sampingnya dibiarkan kosong.
Sopir turun untuk membukakan pintu. Lee masuk dan menyapa singkat, kemudian menanyakan apakah Laura sudah makan. Pertanyaan biasa itu hampir membuatnya tertawa. Mereka hendak menemui ayah Lee, dan ia bahkan belum tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan sederhana tentang hubungan mereka.
'Belum. Tapi anak-anak sudah makan bersama Vania dan Kimmy.'
'Bagus. Kita tidak akan terlalu lama.'
Laura memandangnya. 'Aku perlu tahu artinya terlalu lama. Mereka menungguku di rumah.'
Lee melirik jam. 'Selesai makan kita pulang. Kalau pembicaraan berlanjut, kamu boleh mengingatkanku.'
'Aku akan mengingatkan.'
Ia mengatakan itu lebih tegas daripada yang ia rencanakan. Lee mengangguk tanpa menyuruhnya memperpanjang jawaban. Laura menyimpan ponsel, tetapi tetap membiarkan suaranya aktif agar dapat mendengar jika salah satu anak menelepon.
Beberapa kendaraan di belakang mereka berpindah jalur. Salah satunya taksi yang sejak salon diikuti pandangan Norma. Dari kursi belakang, perempuan itu berusaha mengenali sosok yang baru masuk ke mobil Laura. Jarak dan kaca kendaraan membuat wajahnya tidak terlihat jelas. Ia hanya melihat seorang lelaki berjas dan bertambah yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
'Jangan terlalu dekat, Pak,' katanya kepada sopir taksi.
Sopir tersebut memandang kaca spion sebelum kembali memperhatikan jalan. Norma tidak menjelaskan alasan perintahnya. Ia sudah menjanjikan bayaran mahal, dan sekarang tidak mau kehilangan mobil itu di antara kendaraan yang memenuhi persimpangan.
Di dalam mobil depan, Laura justru memikirkan hal yang jauh dari dugaan Norma. Ia menghitung berapa banyak pertanyaan yang mungkin diajukan ayah Lee. Tentang pekerjaan, keluarga, pernikahan terdahulu, lalu dua anak yang tidak pernah ia anggap sebagai bagian yang boleh disembunyikan untuk membuat seseorang menerima dirinya.
'Ayahmu tahu aku pernah menikah?' tanyanya.
'Tahu.'
'Dan aku punya dua anak?'
'Aku sudah memberitahunya.'
Laura menoleh. 'Apa lagi yang kamu ceritakan?'
Lee terdiam sejenak. 'Kamu bekerja di perusahaan. Kita sedang dekat. Selebihnya aku ingin kamu sendiri yang menjawab kalau ingin.'
Kata dekat terdengar mudah dari mulutnya. Laura menatap tangan sendiri. Ada pembayaran bulanan, kesepakatan satu tahun, dan nama hubungan yang belum pernah ia bicarakan dengan Zio maupun Fiona. Semua itu tidak mendadak menjadi sederhana hanya karena ia duduk di dalam mobil yang nyaman.
'Aku tidak mau mengarang tentang anak-anak,' katanya.
'Tidak perlu.'
'Atau tentang Brian.'
'Kamu tidak harus membicarakannya.'
Laura mengangguk pelan. Ia belum yakin apakah kalimat itu akan tetap berlaku ketika mereka sudah berhadapan dengan ayah Lee. Namun untuk malam ini ia ingin memegangnya. Beberapa hal boleh tidak diceritakan; berbohong tentang anak-anak bukan salah satunya.
Mobil memasuki kawasan yang lebih tenang. Pohon-pohon di tepi jalan mengurangi pantulan lampu toko, lalu sebuah gerbang terbuka setelah sopir berbicara dengan petugas. Laura baru menarik napas panjang ketika kendaraan berhenti di halaman rumah yang luas.
Taksi Norma berhenti di luar kawasan gerbang. Ia melihat mobil Laura masuk, tetapi tidak dapat melihat pintu rumah dari tempatnya duduk. Ia maju sedikit untuk mencari sudut pandang lain, kemudian urung ketika petugas menoleh ke arah jalan.
Norma meremas tali tasnya. Ia tidak tahu siapa pemilik rumah itu. Ia juga tidak mendengar satu kata pun percakapan di dalam mobil. Yang ia miliki hanya pemandangan gerbang, kendaraan mahal, dan rasa iri yang semakin mudah ia perlakukan sebagai jawaban.
'Kita tunggu sebentar,' ujarnya.
Sementara itu, Laura keluar setelah sopir membuka pintunya. Lee sudah berdiri di sisi lain kendaraan. Ia menunggunya mendekat sebelum berjalan menuju teras, tanpa menarik tangan atau mendesaknya mempercepat langkah.
'Kalau Ayah menyebut nama lengkapku, jangan heran,' katanya pelan. 'Lee Jae Ho. Di rumah dia lebih sering memanggilku begitu.'
Laura mengangguk. 'Aku akan berusaha tidak terlihat terlalu heran tentang apa pun malam ini.'
Lee tersenyum tipis, tetapi Laura belum ikut tersenyum. Ia sedang menata kembali napasnya ketika pintu terbuka dan seorang lelaki menyambut mereka. Sorot matanya berpindah dari Lee kepada Laura, lalu berhenti dengan perhatian yang membuat Laura ingin berdiri lebih tegak.
'Akhirnya datang juga,' kata ayah Lee. 'Masuklah. Perjalanan macet?'
Laura mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Ia tidak menambahkan jabatan baru maupun alasan panjang tentang keterlambatan. Ayah Lee mempersilakannya duduk di ruang tamu, kemudian menanyakan apakah ia ingin air putih sebelum makan.
'Air putih saja, terima kasih.'
Lee duduk di kursi dekatnya. Laura menyisakan ruang yang cukup untuk membuka tas dan memeriksa ponsel. Ada pesan dari Kimmy: Fiona ingin memastikan ibunya sempat melihat tugasnya malam itu.
Laura membalas bahwa ia akan melihatnya setelah pulang. Ia tidak menjanjikan jam yang belum dapat dipastikan, tetapi mengirim perkiraan dan meminta diberi kabar kalau anak-anak membutuhkan sesuatu lebih cepat.
'Anak-anak?' tanya ayah Lee ketika ia selesai.
Laura menatap beliau. 'Iya. Mereka bersama teman-teman saya di rumah.'
'Kalau perlu menelepon, silakan. Kami bisa menunggu.'
Jawaban itu membuat bahunya sedikit turun. Tidak ada perubahan wajah yang perlu ia takuti setelah menyebut anak-anak. Ia mengucapkan terima kasih, lalu meletakkan ponsel di pangkuan dengan layar menghadap bawah.
Ayah Lee menanyakan pekerjaannya. Laura menjelaskan bahwa ia berasal dari bagian desain dan baru mendapat tanggung jawab di pemasaran. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, sebab belum semua hal tentang jabatan itu membuatnya nyaman.
'Pasti banyak yang harus dipelajari,' kata beliau.
'Masih banyak, Pak.'
'Kalau begitu, malam ini makan dulu. Jae Ho jangan menjadikan meja makan seperti rapat.'
Laura akhirnya tersenyum. Lee menerima teguran ringan itu tanpa membantah. Dari ruang makan terdengar seseorang memberi tahu bahwa hidangan sudah siap. Laura berdiri bersama mereka, membawa ponselnya, dan memutuskan ia akan menjalani pertemuan ini tanpa meninggalkan dirinya sendiri di luar gerbang.