Beberapa hari setelah pertemuan di kafe, Shania berada di area penjualan Megah untuk meninjau satu bagian tampilan bersama petugas. Ia sedang mendengarkan keterangan ketika melihat Atika di dekat rak. Perempuan itu memegang sebuah blus dari produksi pertama, lalu menoleh setelah mendengar namanya disebut dalam percakapan pekerjaan.
Atika mengenalinya. Ia menunggu sampai petugas selesai berbicara sebelum menyapa. Shania membalas singkat dan tetap berdiri pada tempat yang dapat dilihat orang lain. Tidak ada tuntutan agar keduanya berpura-pura tidak mempunyai masa lalu hanya karena sedang berada di toko.
'Aku melihat karyamu di pameran dulu,' kata Atika. 'Aku baru tahu kamu ikut mengerjakan koleksi produksi ini juga.'
Shania mengangguk. Ia menjelaskan itu hasil kerja tim, kemudian membiarkan petugas menjawab pertanyaan mengenai ukuran serta barang yang tersedia. Pengetahuan Atika tentang dirinya sebagai perancang bukan sesuatu yang baru muncul hari itu. Yang baru dilihat ialah pakaian yang dapat dipilih dari rak, terpisah dari acara ketika namanya dahulu pertama kali dikenali.
Atika mencoba ukuran yang dibantu petugas dan kembali dengan pilihan di tangan. Ia bertanya apakah warna itu tersedia pada bentuk lain yang lebih sesuai barang yang sudah dimilikinya. Petugas menunjukkan pilihan, lalu membiarkannya membandingkan di depan cermin dekat rak sebelah ruang mencoba. Atika mengembalikan satu yang tidak dipilih dan merapikan gantungan sebelum menyerahkan. Ia tidak meminta Shania memilihkan atau menggunakan pertemuan mereka sebagai alasan mendapat pelayanan khusus. Beberapa menit berlalu dengan percakapan biasa mengenai pakaian, sampai keputusan pembelian benar-benar dibuat oleh dirinya sendiri. Shania tidak ikut menunggu di depan ruang berganti. Ia meneruskan urusan dengan tim sampai selesai. Ketika hendak kembali ke bagian kerja, perempuan tersebut meminta waktu sebentar jika Shania bersedia mendengar sesuatu yang pribadi.
Shania melihat jam, lalu mengatakan hanya dapat berbicara singkat di tempat terbuka dekat area itu. Ia tidak ingin pembicaraan mengambil seluruh tugas yang sedang dijalankan. Atika setuju, meletakkan barang pilihannya pada petugas untuk ditahan sebentar sesuai izin, lalu berdiri pada jarak yang tidak memaksa kedekatan.
'Aku ingin minta maaf,' katanya.
Shania diam. Ia tidak menjawab bahwa semuanya sudah lewat hanya agar percakapan terasa nyaman. Atika memandang tangannya sendiri sebelum melanjutkan. Ia mengatakan mengetahui Arhan sudah mempunyai istri ketika mereka memulai hubungan, dan tetap memilih meneruskannya. Ia juga mengakui pernah ikut membuat kebohongan yang harus didengar Shania.
'Aku meneleponmu dari ponselnya dan membiarkan kamu percaya cerita yang tidak benar,' katanya. 'Aku tahu ada orang di rumah yang akan terluka. Aku memilih tidak memikirkan kamu.'
Kalimat itu membuat dada Shania terasa sesak, tetapi juga menghilangkan ruang bagi penjelasan bahwa semua sekadar salah paham. Ia mendengar perempuan itu menamai pilihannya sendiri. Tidak ada klaim telah ditipu mengenai status Arhan atau bahwa dirinya hanya perempuan yang menunggu dijanjikan sesuatu.
Atika mengatakan hubungannya dengan Arhan sudah berakhir beberapa bulan lalu. Ia tidak datang untuk meminta Shania mengambil pria tersebut kembali, dan tidak ingin menjadikan kekecewaannya sebagai pembenaran atas hal yang dahulu dilakukan. Pengakuan itu berdiri sendiri, terpisah dari jawaban yang mungkin diberikan Shania.
'Aku tidak tahu apa yang perlu kamu katakan kepadaku,' lanjutnya. 'Aku cuma tidak ingin terus bertingkah seolah aku tidak punya bagian dalam semua itu.'
Shania menarik napas. 'Aku mendengar permintaan maafmu. Aku tidak ingin membahas hubungan kalian lebih jauh. Hidupku sudah berjalan, dan aku ingin tetap begitu.'
Atika mengangguk. Ia tidak memaksa Shania mengatakan telah memaafkan atau bersedia berteman. Ketika perempuan itu menyebut waktunya perlu kembali dipakai bekerja, Atika mengucapkan terima kasih sudah didengarkan. Mereka berpisah di tempat itu tanpa berpelukan atau bertukar nomor untuk meneruskan cerita tentang Arhan.
Shania kembali kepada tim. Atika mengambil barang yang dititipkan sebentar, menyelesaikan pembayaran melalui kasir, lalu meninggalkan area penjualan. Pilihannya membeli tidak mengubah harga atau menjadi pembayaran bagi permintaan maaf. Petugas melayani sebagaimana pembeli lain, tidak mengetahui seluruh percakapan yang baru terjadi.
Pada istirahat berikutnya, Shania duduk dengan air minum dan membiarkan tubuhnya tenang. Dua percakapan berbeda telah datang dalam pekan yang sama, tetapi keduanya tidak memerlukan jawaban berupa hubungan baru. Ia dapat mendengar pengakuan, menjaga jarak yang diperlukan, dan kembali kepada urusan yang sudah dipilihnya.
Ia mengabari Shinta singkat mengenai pertemuan tersebut setelah pekerjaan memungkinkan. Sahabatnya bertanya apakah ia ingin datang ke butik sesudah pulang. Shania menjawab hari itu ingin kembali ke rumah, makan, dan beristirahat. Ia tidak ingin setiap kejadian yang mengingatkan pada masa lalu membuat seluruh jadwal harus diganti dengan pertemuan darurat.
Shinta menerima, lalu menyampaikan kabar bahwa Raka mengucapkan terima kasih atas perbaikan kancing dan pemakainya sudah menerima pakaian kembali dengan baik. Urusan itu selesai. Shania membalas terima kasih dan senang mendapat kabar mengenai hasil kerja yang benar-benar dipakai, tanpa undangan pribadi lain yang menyertai.
Menjelang sore, ia memeriksa tugas yang perlu dibawa pada pertemuan berikut dan menyimpan acuan sesuai tempatnya. Ada bagian gambar yang masih dapat diperbaiki pada hari lain, tidak semuanya harus dituntaskan untuk membuktikan dirinya tidak terguncang. Ia menyelesaikan yang memang dijanjikan, lalu pulang pada waktu biasa.
Di kontrakan, Shania membuka jendela serta menyalakan lampu dapur. Ia menyiapkan makan dari bahan yang sudah dibeli, merapikan alat setelah digunakan, lalu duduk dengan satu piring. Untuk sesaat ia teringat suara Atika mengakui kebohongan. Ia membiarkan ingatan itu lewat tanpa mencari bukti baru atau menulis pesan kepada Arhan agar seseorang mengonfirmasi apa yang sudah didengar.
Malam tersebut berakhir dengan kabar kepada Wati bahwa pekerjaannya selesai dan ia sudah pulang. Percakapan beralih pada rencana bertemu yang akan dicari waktunya nanti. Shania menutup telepon, memeriksa pintu, lalu mengambil buku. Masa lalu masih dapat muncul di tempat kerja atau pada sebuah kalimat, tetapi tidak lagi mempunyai seluruh ruangan di dalam hari yang ingin diteruskannya.