Beberapa pekan kemudian, model kedua mulai ditawarkan dalam produksi terbatas setelah penilaian serta persiapannya selesai. Shania melihat satu contoh dipasang bersama barang lain yang sudah lebih dahulu berada di rak. Garis lengan yang berkali-kali diubah kini menjadi bagian pakaian yang dapat dicoba pemakai, bukan sekadar jawaban yang tertulis pada catatan keluhan lama.
Seorang pembeli mengambil ukurannya dan masuk ke ruang mencoba. Shania sedang meninjau tampilan bersama petugas, lalu mendengarkan dari jarak yang tidak membuat perempuan itu merasa diperiksa. Ketika keluar, pembeli mengangkat tangan sebentar, menoleh ke cermin, dan mengatakan bagian lengan terasa lebih leluasa. Ia meminta warna yang tersedia ditunjukkan sebelum memilih.
Pembelian diselesaikan melalui kasir. Tidak semua orang yang melihat akhirnya membeli, dan jumlah yang tersisa tetap perlu diperhatikan tim. Shania menerima kabar itu sebagaimana menerima satu hasil kerja yang berjalan. Usul dengan lipatan rumit tetap tersimpan sebagai usul yang tidak diteruskan untuk kebutuhan sebelumnya. Ia tidak perlu membuat semua pilihannya berhasil agar mempunyai alasan tetap merancang.
Pada akhir pekan, ia memeriksa penghasilan yang telah diterima sesuai ketentuan yang sekarang berlaku. Ada pembayaran sewa, kebutuhan makan, ongkos, serta simpanan yang dapat ditambah sedikit. Alat pola yang dibeli masih dipakai, lampu Wati tetap berada di meja, dan rumah kecilnya belum penuh oleh barang yang dibayar hanya untuk terlihat lebih berhasil.
Ia menyiapkan waktu untuk mengunjungi Wati setelah keduanya menyepakati hari. Perempuan itu ingin makan bersama dan menceritakan beberapa kabar rumah. Shania membawa makanan secukupnya, mengunci kontrakan, lalu berangkat tanpa koper atau perasaan sedang pulang ke alamat yang harus diterima sebagai miliknya lagi.
Wati membuka pintu dengan senyum yang sudah dikenalnya. Mereka masuk, menaruh makanan, kemudian duduk sebentar sebelum sibuk di dapur. Perempuan itu menunjukkan tempat penyimpanan yang kini lebih mudah dipakai setelah dibantu Arhan. Shania mencoba mengambil wadah ketika diminta dan mengangguk karena tingginya memang lebih nyaman.
'Arhan datang sesuai janji kemarin,' kata Wati. 'Kebutuhan minggu ini sudah cukup.'
Shania mendengarkan kabar itu tanpa merasa sedang menerima laporan yang harus diberi nilai. Wati tidak menyusulkan pertanyaan apakah perubahan tersebut membuatnya ingin mempertimbangkan pernikahan lagi. Mereka beralih pada kabar pekerjaan serta rencana kunjungan berikut yang belum perlu ditentukan saat makan masih panas.
Siang itu keduanya makan dengan percakapan yang sesekali terputus oleh tawa. Ada lauk yang tidak habis, lalu mereka membaginya sesuai kebutuhan masing-masing. Shania membawa sedikit untuk malam, sementara bagian Wati disimpan agar dapat digunakan sendiri. Ia membantu membersihkan sebelum berpamitan, bukan mengurus seluruh rumah untuk membuktikan hubungan itu masih layak dipertahankan.
Di rumah berbeda, Arhan menyelesaikan urusan hari liburnya. Ia telah mendengar Shania akan berkunjung kepada Wati dan menepati waktu yang lain untuk mengantar kebutuhan ibunya. Sesudah percakapan di kafe, ia tidak mengirim permintaan baru, hadiah, atau pesan yang meminta Shania memastikan lagi keputusannya. Jawaban yang diberikan diterima sebagai jawaban, meskipun perasaannya belum selesai pada hari yang sama.
Ia masih menemui Ardi dan mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Ada hari yang terasa berat, tetapi ia tidak menaruh beban itu pada ponsel mantan istrinya setiap malam. Hubungan dengan ibunya berjalan melalui waktu yang benar-benar disediakan, sementara rumahnya sendiri mulai diurus sebagai tempat hidup seorang penghuni, bukan ruang menunggu seseorang kembali.
Menjelang sore, Shania pulang ke kontrakan. Ia membuka pintu, menaruh wadah makanan pada dapur kecil, lalu menggantung tas. Cahaya masuk melalui jendela yang dahulu diperiksa sebelum sewa disetujui. Rumah yang pertama disukai memang telah menjadi pilihan orang lain. Rumah yang sekarang dipakai mempunyai bekas pada dinding, ruang yang terbatas, dan kehidupan yang sudah mulai akrab dengan langkahnya.
Ia memeriksa pot, mengambil beberapa daun kering, lalu menyiram sesuai kebutuhan. Dari jalan terdengar sapaan tetangga. Shania membalas dan berbicara singkat sebelum kembali ke meja. Ada gambar yang ingin dicoba untuk pekerjaan berikut dan buku yang belum selesai dibaca. Keduanya dapat menunggu giliran tanpa harus memenuhi seluruh malam.
Shinta mengirim kabar mengenai butik serta satu foto pekerjaan yang baru selesai. Shania tersenyum, membalas akan membicarakan waktu bertemu setelah jadwal kerja jelas. Persahabatan mereka tetap mempunyai bantuan, percakapan, dan sesekali perbedaan yang dapat disampaikan sebelum menjadi janji atas nama orang lain. Raka tidak mengirim ajakan baru yang harus dijawab dengan alasan lain. Ia tetap klien yang pernah menghargai karya serta menerima jawaban pribadi dengan baik.
Shania meletakkan ponsel dan mengambil makan malam yang sudah disiapkan. Setelah makan, ia mencuci piring, mengelap meja, lalu membuka gambar di bawah lampu. Di tempat penyimpanan terlindung ada akta cerai, dokumen pekerjaan, serta catatan sewa yang masing-masing mempunyai urusannya sendiri. Perhiasan mahar tetap menjadi barang miliknya, tidak dijual untuk membeli ketenangan orang lain atau diserahkan agar perpisahan dapat dianggap selesai.
Ia pernah mengira kebahagiaan hanya dapat dipertahankan dengan menjadi orang yang selalu menunggu serta memahami. Kini ia masih bisa menyayangi, membantu, dan menerima perhatian. Ia juga dapat mengatakan tidak, menagih upah yang disepakati, menyimpan uang, serta pulang ketika kunjungan selesai. Semua itu dilakukan pada hari-hari biasa yang jarang menghasilkan tepuk tangan.
Shania menutup gambar ketika matanya mulai lelah. Ia tidak perlu menemukan pasangan baru untuk membuktikan dirinya layak dicintai, dan tidak menutup seluruh kemungkinan hidup hanya karena satu pernikahan telah berakhir. Untuk sekarang ia menyukai malam yang dapat dipilih: sedikit membaca, memeriksa kebutuhan esok, lalu beristirahat sebelum pekerjaan menunggu.
Lampu dimatikan setelah pintu diperiksa. Kunci tergantung pada tempat yang sama sejak malam pertama. Di rumah kecil yang disewa dengan keputusan sendiri, Shania berbaring dan menarik napas lega. Ia seorang janda, seorang perancang, sahabat, dan perempuan yang masih mempunyai banyak keinginan. Tidak satu pun sebutan itu mengharuskannya kembali menjadi milik masa lalu. Esok ia akan bangun untuk hidup yang kini dijalaninya sendiri.
TAMAT