Shania tiba di kafe beberapa menit sebelum waktu yang disepakati. Arhan sudah ada, duduk pada meja yang mudah terlihat dari pintu. Ia berdiri ketika perempuan itu mendekat, lalu menunggu sampai ia memilih tempat duduk. Shania memesan minum dan meletakkan tas di sisi kursi. Tidak ada map perkara atau barang lama yang perlu diserahkan di antara mereka.
'Terima kasih sudah datang,' kata Arhan.
'Aku punya waktu sampai yang sudah kita sepakati,' jawab Shania. 'Silakan bicara.'
Arhan mengangguk. Ia sempat memandang gelas, kemudian mengangkat wajah. Selama berbulan-bulan ia membayangkan banyak cara memulai, tetapi kini perempuan itu duduk di hadapannya dengan tenang yang tidak dapat diambil sebagai tanda telah memaafkan semua. Ia perlu mengatakan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya.
'Aku minta maaf karena berselingkuh dan berbohong. Aku membuat seolah yang kurang ada padamu, padahal aku yang memilih mengkhianati pernikahan kita.'
Shania diam. Ia mendengar nama perbuatan yang dahulu sering tertutup oleh keluhan tentang dirinya. Arhan melanjutkan, menyebut larangan bekerja, cara meremehkan ketika ia mulai merancang lagi, serta kecurigaan yang membuat barang pribadinya diperiksa. Ia tidak mengatakan semua dilakukan karena terlalu mencintai atau takut kehilangan.
'Aku juga pernah meminta kamu menerima sesuatu yang jelas tidak kamu inginkan,' katanya. 'Waktu kamu menolak, aku justru merasa kamu yang membuat hidupku sulit.'
Shania melepaskan napas perlahan. Ingatan tentang malam-malam di rumah datang lebih cepat daripada jawaban yang disiapkan. Ia mengambil tisu sebelum air mata jatuh pada tangan. Arhan tidak bergerak menyentuhnya. Ia menunggu sampai perempuan itu dapat kembali melihat kepadanya.
'Aku pernah berusaha membuatmu mendengar sebelum aku bekerja lagi,' kata Shania. 'Sebelum orang lain melihat hasil rancanganku. Aku sudah menjadi orang yang patut didengar waktu itu.'
'Aku tahu. Aku terlambat melihatnya.'
'Aku tidak ingin hidupku dinilai baru berharga setelah aku bisa pergi.'
Arhan mengangguk dan tidak memotong dengan cerita bahwa sekarang ia sungguh berbeda. Ia mengatakan hubungan dengan Atika telah berakhir beberapa bulan lalu, termasuk urusan barang serta pengeluaran yang masih perlu ditutup. Perempuan itu mendengarkan, lalu menjawab bahwa berakhirnya hubungan tersebut tidak menghapus pengalaman yang sudah mereka jalani.
'Aku mengerti,' kata Arhan. 'Aku menyampaikannya supaya kamu mendengar keadaan yang sebenarnya dariku.'
Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi pelayan meletakkan minuman. Setelah meja kembali tenang, Arhan mengatakan keinginannya dengan terang.
'Aku masih ingin menikah denganmu lagi. Kalau kamu bersedia, aku ingin membangun hubungan yang tidak mengharuskan kamu meninggalkan hidup yang sudah kamu punya.'
Shania memandangnya. Ia tidak perlu menilai apakah kalimat itu cukup indah untuk menggantikan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengenal kesedihan yang mungkin akan muncul setelah jawaban diberikan, tetapi sudah lama memahami apa yang ingin dijalaninya.
'Aku menerima permintaan maafmu,' katanya. 'Aku juga tidak mau menikah lagi denganmu.'
Wajah Arhan menegang. Ia menunduk sebentar sebelum bertanya apakah Shania sudah sungguh memutuskan. Perempuan itu menjawab iya. Suaranya bergetar, tetapi tidak berubah menjadi mungkin. Ia tidak memilih orang lain sebagai alasan yang dapat diperdebatkan atau dijadikan saingan.
'Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Aku masih bisa mengingat yang baik, dan aku sedang belajar melepaskan yang menyakitkan. Itu tidak membuatku ingin kembali pada hubungan kita.'
'Kalau nanti aku sudah lebih baik?'
Shania menggeleng pelan. 'Jangan menjadikan perbaikannya sebagai waktu yang harus kutunggu. Aku tidak sedang meminta kamu membuktikan sesuatu supaya jawabanku berubah.'
Arhan menekan kedua tangan pada paha. Ia dapat merasakan keinginan menjelaskan sekali lagi, membawa semua hari ketika ia telah mengurus rumah sendiri atau mendampingi Wati. Ia tidak mengucapkannya. Semua itu telah dilakukan karena memang perlu dilakukan, dan perempuan di depannya tidak sedang menilai laporan agar dapat memberi hadiah berupa pernikahan.
'Aku sedih mendengarnya,' katanya akhirnya. 'Tapi aku mendengar jawabanmu.'
Shania mengangguk. Dari meja lain terdengar sendok jatuh dan percakapan yang segera dilanjutkan. Ia meraih gelas, minum sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan tangan yang sudah lebih tenang. Arhan menunggu tanpa memotong ketika ia menarik napas untuk meneruskan. Ia mengatakan hubungan dengan Wati masih ingin dijaga jika keduanya tetap berkenan, tanpa dijadikan cara menyampaikan pesan kepada Arhan atau membuka kembali keputusan ini. Pria itu menerima. Ia tidak meminta ibunya dijauhi agar penolakan terasa mempunyai akibat yang cukup berat.
Mereka duduk beberapa saat setelah bagian utama selesai. Minuman Shania belum habis, tetapi ia tidak merasa harus menambah waktu untuk menghibur. Arhan juga tidak menanyakan kapan ia boleh mencoba lagi. Percakapan yang diminta satu kali telah memperoleh jawaban yang jelas, dan keduanya kini perlu membawa pulang akibatnya masing-masing.
Menjelang batas waktu, Shania berdiri untuk menyelesaikan bagian pesanannya. Arhan hendak menawarkan membayar, lalu berhenti ketika ia mengatakan sudah mengurusnya. Tidak ada perdebatan kecil mengenai siapa yang paling baik pada pertemuan terakhir. Ia mengambil tas dan memastikan kendaraan yang dipesan sudah menuju tempat penjemputan.
'Terima kasih sudah mendengarkan sampai selesai,' kata Arhan.
Shania mengiyakan. Ia berpamitan, berjalan menuju pintu, dan menunggu kendaraan pada tempat yang disepakati. Arhan tetap di meja sampai perempuan itu berangkat. Ia tidak menyusul ke luar untuk memegang tangan atau mencari kalimat yang mungkin mengubah jawaban pada detik terakhir.
Dalam perjalanan pulang, Shania mengirim kabar kepada Shinta dan Wati bahwa pertemuan selesai serta ia sedang menuju rumah. Setelah itu ia menyimpan ponsel dan menangis pelan. Tidak ada rasa menang yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Ada sesuatu yang sungguh pernah diinginkan dan akhirnya dapat dilepaskan dengan suara sendiri.
Sampai di kontrakan, ia membuka pintu, menaruh tas, dan duduk di tepi kasur. Kunci berada di dekat gelas yang belum dicuci sejak pagi. Ia menghapus air mata, mengambil minum, lalu membiarkan sore berjalan tanpa menulis pesan tambahan kepada Arhan. Jawabannya sudah disampaikan. Rumah kecil itu tetap menunggu hidup yang akan diteruskannya, bukan penjelasan lain tentang mengapa ia berhak tinggal sendiri.