Pada Jumat sore, Shania menyelesaikan penyerahan bagian gambar yang telah dipilih untuk pembahasan model baru. Ia menyebut pekerjaan yang sudah selesai dan bagian yang akan dilanjutkan pekan depan. Koordinator menerima, lalu mengingatkan waktu peninjauan berikut. Tidak ada alasan membawa seluruh map pulang agar Sabtu dapat dilalui sambil terus bekerja untuk menghindari percakapan yang telah disetujui.
Dalam perjalanan ia membeli bahan makan secukupnya. Pedagang menanyakan apakah ingin ditambah seperti biasa, dan ia memeriksa jumlah yang akan dipakai akhir pekan sebelum menjawab. Ia belum tahu bagaimana perasaannya sesudah pertemuan besok, tetapi tubuhnya tetap perlu makan. Mengatur kebutuhan kecil terasa lebih berguna daripada membayangkan semua kemungkinan kalimat Arhan sampai lupa pulang.
Di kontrakan, ia mandi, makan, dan menghubungi Wati pada waktu yang disepakati. Perempuan itu sudah menunggu, tetapi tidak membuka dengan pertanyaan apakah Shania akan memberi kesempatan lagi. Ia menanyakan bagaimana hari kerja berlangsung dan apakah pertemuan besok tetap pada pilihan Shania sendiri.
'Iya, Bu. Aku masih ingin datang,' jawabnya. 'Aku ingin mendengar lalu menjawab sendiri.'
Wati mengangguk di layar. Shania dapat melihat ia sedang duduk di ruang depan. Ada jeda yang cukup lama sebelum perempuan itu mengatakan ia tidak ingin menaruh harapan yang membuat Shania merasa bersalah. Ia mempunyai perasaan sendiri sebagai ibu Arhan, tetapi keputusan tentang hidup bersama tidak dapat dibebankan kepadanya.
'Aku tetap ingin tahu Ibu merasa apa,' kata Shania. 'Aku cuma tidak bisa berjanji memberikan jawaban sesuai itu.'
Wati menunduk sebentar. Ia mengakui pernah membayangkan anak serta menantunya kembali makan pada satu rumah seperti dahulu. Melihat putranya mulai melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan sejak lama membuat bayangan itu kadang datang lagi. Namun ia juga mendengar Shania sekarang berbicara mengenai pekerjaan dan rumah dengan suara yang lebih tenang.
'Ibu tidak ingin kamu kembali cuma supaya kami merasa lebih baik,' katanya.
Shania mengusap sudut mata. Ada kelegaan yang tidak membuat percakapan menjadi ringan. Ia masih mengenang hari-hari ketika pernikahan terasa sebagai rumah yang sangat diinginkan. Ia juga mengingat saat harus menjelaskan mengapa tidak mau menerima perempuan lain berada dalam hubungan yang semestinya dijaga berdua.
'Aku pernah mencintainya sungguh-sungguh,' katanya. 'Mungkin itu sebabnya ada bagian yang masih sedih. Tapi aku tidak ingin menjadikan kenangan yang baik sebagai alasan mengabaikan yang sudah terjadi.'
Wati mendengarkan. Ia tidak menyebut Arhan sudah berubah sepenuhnya atau mengatakan semua laki-laki memerlukan kesempatan yang sama. Ketika bertanya apa yang dibutuhkan Shania, perempuan itu menjawab ingin hubungan mereka tetap dapat berjalan apa pun hasil pertemuan. Ia tidak ingin sesudah Sabtu setiap kunjungan terasa seperti pengujian apakah ia telah memilih dengan benar.
'Kamu boleh tetap datang sebagai dirimu,' kata Wati. 'Kita tidak perlu menunggu Arhan memberi nama untuk hubungan kita.'
Wati sempat menawarkan menemani perjalanan seperti ketika mereka datang ke pengadilan. Shania berterima kasih, lalu mengatakan kali ini ingin mengatur sendiri. Jika sesudahnya ia ingin berbicara, ia akan menelepon. Perempuan itu menerima, meminta hanya diberi kabar bahwa ia sudah pulang dengan selamat. Mereka menyepakati hal kecil tersebut tanpa membuat Shania harus membuktikan kuat dengan menolak semua perhatian. Ada bantuan yang boleh dipilih sesuai kebutuhan hari itu.
Shania tertawa dengan air mata yang belum seluruhnya berhenti. Mereka kembali membicarakan hal sederhana setelah itu: lauk yang tadi dibeli, tanaman di dekat jendela, dan waktu yang mungkin tersedia untuk makan bersama pada pekan lain. Janji tidak ditetapkan saat emosi sedang tinggi. Mereka akan memeriksa jadwal setelah akhir pekan lewat.
Sesudah panggilan, Shania meletakkan ponsel dan duduk sebentar tanpa mengisi kesunyian. Ia tidak sedang menyiapkan pidato agar Arhan merasa kalah. Ia ingin dapat menyampaikan alasan tanpa menghina kehidupan yang pernah dijalani, dan mengakhiri pembicaraan tanpa menyisakan kemungkinan yang sebenarnya tidak diinginkan.
Ia memilih pakaian yang nyaman untuk duduk serta bergerak, memeriksa tas, lalu menyiapkan ongkos kendaraan. Tidak ada dokumen perkara yang perlu dijadikan senjata di meja kafe. Semua proses yang berkaitan dengan status telah dilalui, pembayaran diterima, dan barang diselesaikan. Akta tetap disimpan aman di rumah. Ia datang besok sebagai orang yang dapat memilih, bukan pihak yang menunggu izin pergi.
Di rumah berbeda, Arhan menyelesaikan pekerjaan hariannya sebelum memeriksa kembali waktu pertemuan. Ia tidak mengirim pertanyaan apakah Shania masih jadi datang setiap beberapa jam. Jawaban yang sudah disepakati cukup. Ia memastikan dapat tiba tepat waktu dan tidak membuat perempuan itu menunggu sebagai cara mendapatkan perhatian lebih lama.
Ia membaca kembali pesan yang telah dikirim, lalu menyimpan ponsel. Tidak ada cincin atau hadiah yang disiapkan untuk membuat percakapan sulit ditolak. Ia ingin berbicara mengenai kemungkinan menikah lagi, tetapi belum mempunyai jawaban dari perempuan yang akan diajak. Membawa sesuatu seolah keputusan sudah setengah jadi hanya akan menyembunyikan kesombongan lama dalam bentuk yang lebih manis.
Arhan menyiapkan makan malam sendiri dan membersihkan dapur setelahnya. Ia sempat memandang kamar tamu yang sudah kosong, kemudian mematikan lampu di lorong. Ia tidak akan menggunakan ruangan itu sebagai janji bahwa semuanya dapat kembali seperti sebelum perpisahan. Yang dahulu terjadi tetap menjadi bagian yang harus diakui, bahkan jika kalimat yang ingin didengar tidak pernah diberikan.
Sementara itu Shania membaca beberapa halaman sebelum tidur. Ia sudah memberi kabar kepada Shinta mengenai waktu besok dan akan menghubungi lagi setelah selesai. Sahabatnya membalas dengan ucapan singkat, tanpa menyusun jawaban atas nama Shania. Perempuan itu menutup buku, meletakkan kunci pada tempat biasa, dan mematikan lampu.
Sabtu akan datang dengan satu pertemuan yang dipilih. Sesudahnya masih ada rumah yang perlu dibuka, pekerjaan yang akan dilanjutkan Senin, serta orang-orang yang dapat ditemui tanpa menjadi penghubung kepada mantan suami. Shania membiarkan pikiran itu menjadi hal terakhir yang dipegang sebelum tertidur. Ia tidak perlu menjanjikan pertemuan akan mudah agar tetap berhak mengakhirinya dengan jujur.