Shania membaca pesan Arhan setelah makan malam. Ia sedang menyiapkan pakaian untuk esok ketika ponsel berbunyi. Kalimatnya singkat, meminta waktu berbicara mengenai pernikahan yang sudah berakhir dan hal pribadi yang masih ingin disampaikan. Perempuan itu membacanya sampai selesai, lalu meletakkan ponsel di meja tanpa langsung menyusun jawaban.
Tidak ada dokumen yang masih harus dipertukarkan. Pembayaran yang berkaitan dengan perkara telah diselesaikan, barang sudah dipisahkan ketika pindah, dan ia tidak lagi mempunyai kunci rumah Arhan. Ia memahami permintaan tersebut sebagai ajakan berbicara pribadi. Mengetahui itu membuatnya dapat memutuskan dengan alasan yang sebenarnya, bukan karena takut ada kewajiban yang terlewat.
Malam itu ia belum menjawab. Ia ingin tidur dan bekerja esok sebelum menentukan apakah pertemuan akan berguna baginya. Shania menyimpan pakaian yang sudah disiapkan, mematikan lampu meja, lalu berbaring. Pesan itu masih ada, tetapi tidak harus diberi seluruh malam hanya karena datang dari orang yang pernah menjadi pusat jadwalnya.
Pagi berikutnya ia berangkat sesuai rute biasa. Di Megah, model kedua yang telah melalui penilaian akan dipotret untuk bahan pembahasan penawaran. Shania diminta hadir pada bagian yang berkaitan dengan tampilan rancangan. Ia membawa contoh serta keterangan yang diperlukan dan mendengarkan orang yang mengatur pemotretan sebelum meminta perubahan.
Cahaya membuat satu bagian tampak lebih gelap daripada bahan aslinya. Shania menunjukkan contoh ketika diletakkan di samping hasil gambar, lalu bertanya bagaimana tampilan dapat lebih mendekati barang yang akan diterima pemakai. Petugas menyesuaikan pengambilan tanpa mengubah bentuk pakaian agar tampak lebih baik daripada kenyataan. Mereka membandingkan lagi, memilih hasil yang dapat dibawa kepada tim, dan menandai bagian yang masih perlu diperiksa.
Seorang rekan mengusulkan posisi lain agar garis lengan terlihat. Shania semula memilih tampilan yang lebih dramatis, tetapi setelah dicoba ia melihat bagian utama justru tertutup. Ia mengubah pilihan dan menerima usul yang lebih jelas. Tanggung jawab barunya tidak berarti ia harus mempertahankan pendapat pertama hanya karena orang sedang menunggu keputusan darinya.
Pada jeda, ponselnya tetap berada di tas. Ia mendengar percakapan ringan mengenai makan siang dan ikut memilih tempat yang tidak terlalu ramai. Tidak ada pesan tambahan dari Arhan yang harus dikejar sebelum waktu istirahat berakhir. Shania dapat mengerjakan tugas sampai selesai, lalu memikirkan urusan pribadi ketika benar-benar mempunyai ruang.
Sore hari ia kembali ke kontrakan dan menemukan pakaian jemuran yang disiapkan pagi sudah kering. Ia mengangkatnya, memisahkan yang perlu disetrika, lalu menyiapkan makan. Daftar kebutuhan rumah menunjukkan satu barang yang perlu dibeli sebelum habis. Ia pergi sebentar ke toko dekat jalan, membayar sesuai yang dipilih, dan pulang sebelum langit gelap.
Sesudah makan serta membereskan alat, Shania mengambil ponsel. Ia membaca pesan Arhan sekali lagi. Ada bagian dirinya yang ingin menolak agar tidak perlu mendengar sesuatu yang mungkin membuat sedih. Ada bagian lain yang ingin satu percakapan dapat diakhiri dengan jawaban yang sungguh disampaikan langsung, bukan terus dibayangkan oleh masing-masing.
Ia menuliskan apa yang ingin dijaga sebelum menjawab: tempat terbuka, waktu yang tidak mengambil pekerjaan, dan kebebasan untuk pergi ketika pembicaraan selesai. Ia tidak akan datang agar Wati senang atau untuk membuktikan sudah kuat. Jika bersedia, alasannya karena ia memilih mendengar serta menjawab dengan jelas.
Shania menghubungi Shinta untuk memberi kabar, bukan meminta sahabatnya memutuskan. Ia mengatakan sedang menimbang satu pertemuan dengan Arhan. Shinta bertanya apakah ia ingin ditemani datang atau dijemput sesudahnya. Perempuan itu menjawab akan mengatur kendaraan sendiri, tetapi bersedia memberi kabar sebelum serta setelah selesai. Sahabatnya menerima tanpa menyiapkan rencana mendatangi meja jika percakapan terdengar tidak menyenangkan.
Malam itu Shania membalas. Ia bersedia berbicara pada Sabtu siang di kafe yang mereka sepakati sebagai tempat terbuka. Ia menyebut waktu yang tersedia dan mengatakan pertemuan tersebut bukan persetujuan untuk memulai hubungan lagi. Arhan menjawab menerima waktu serta tempat itu, tanpa meminta bertemu lebih cepat atau mengganti ke rumahnya.
Tidak lama kemudian Wati mengirim pesan menanyakan apakah Sabtu Shania sempat mampir. Pertanyaannya membuat perempuan itu berhenti sebelum menyusun jawaban yang hanya menyebut sibuk. Ia tidak ingin ibunya kelak mengetahui pertemuan dari Arhan lalu merasa sengaja dijauhkan. Shania mengatakan sudah mempunyai janji berbicara dengan mantan suaminya pada siang hari dan belum ingin menambahkan kunjungan lain sesudahnya.
Wati menelepon setelah meminta waktu. Suaranya terdengar hati-hati ketika menanyakan apakah pertemuan itu diinginkan Shania sendiri. Perempuan itu menjawab iya, lalu mengatakan ia belum menjanjikan apa pun mengenai hubungan. Wati mengucapkan baik dan tidak meminta alamat kafe untuk datang menyusul. Mereka memilih berbicara lagi Jumat jika Shania ingin bercerita sebelum hari itu. Shania menerima pilihan tersebut, mengingatkan ia masih bekerja sampai sore, dan keduanya menyepakati panggilan sesudah waktu makan. Setelah telepon ditutup, ia merasa lega karena tidak perlu menjaga dua cerita berbeda tentang pertemuan Sabtu yang sudah diatur.
Setelah jawaban diterima, Shania memasukkan waktu pertemuan ke jadwal. Tidak ada pesan lain yang perlu dibahas malam tersebut. Ia menyiapkan kebutuhan kerja esok dan membuka buku yang belum selesai dibaca. Beberapa halaman terlewati sebelum ia menyadari napasnya lebih tenang daripada ketika pertama melihat nama Arhan pada layar.
Ia masih mungkin menangis pada hari pertemuan nanti. Kemungkinan itu tidak membuatnya harus membatalkan pilihan atau membawa jawaban yang menyenangkan orang lain. Selama berbulan-bulan ia sudah bekerja, mengambil dokumen, membayar sewa, serta pulang ke tempat yang disiapkan sendiri. Satu percakapan tidak berhak menghapus semua langkah tersebut.
Sebelum tidur ia memeriksa pintu dan meletakkan kunci dekat tas. Lampu meja dimatikan setelah buku ditutup. Besok masih ada pekerjaan pada gambar yang dipilih untuk pembahasan, serta pakaian yang perlu disetrika sebelum pekan berakhir. Ia akan menjalani hari-hari itu dahulu. Sabtu sudah mempunyai waktu, dan untuk malam ini cukup bahwa ia telah memilih bagaimana akan datang serta kapan dapat pulang.