Pada awal bulan kesembilan sejak ucapan talak di rumah, Arhan akhirnya mengatakan kepada Ardi bahwa ia ingin meminta kesempatan berbicara dengan Shania. Mereka bertemu sesudah pekerjaan selesai, tidak di tengah urusan yang membuat sahabatnya harus menjawab cepat. Sejak malam undangan syukuran itu, ia belum mengirim permintaan kepada mantan istrinya.
'Aku masih ingin menikah dengannya lagi,' katanya.
Ardi memandangnya cukup lama sebelum bertanya apa yang sudah berubah pada cara ia memahami keinginan tersebut. Putus dengan Atika, pekerjaan yang lebih teratur, dan kunjungan kepada ibu memang terjadi. Namun semuanya merupakan bagian yang harus dapat dilakukan Arhan meskipun Shania tidak pernah kembali.
'Aku tahu itu bukan bukti dia wajib menerima,' jawab Arhan.
'Kamu tahu sebagai kalimat, atau kamu sanggup menjalaninya kalau dia mengatakan tidak?'
Arhan meletakkan kedua tangan pada meja. Pertanyaan yang dahulu belum dapat dijawab kini masih membuat dadanya terasa sempit. Ia mengakui akan sedih, mungkin malu, dan harus menahan dorongan menjelaskan lagi. Ardi menunggu sampai ia selesai sebelum mengatakan perasaan itu tidak sama dengan izin mengulang permintaan terus-menerus.
Arhan mengangguk. Ia menyebut hal yang ingin diminta maafkan: perselingkuhan, kebohongan yang dibenarkan dengan keluhan rumah tangga, larangan yang membuat Shania harus selalu menunggu keputusan, serta cara merendahkannya ketika ia mulai bekerja. Tidak ada kalimat yang menempatkan Shania sebagai penyebab karena terlalu baik, terlalu diam, atau tidak segera memahami kebutuhan suami.
'Aku dulu merasa apa yang ada di rumah selalu tersedia,' katanya. 'Kalau aku pulang, semua tetap di sana. Aku baru takut waktu dia benar-benar pergi.'
'Kalau dia menerima, kamu ingin apa?' tanya Ardi.
Arhan hampir menjawab ingin memulai seperti dulu, lalu berhenti. Keadaan dulu justru berisi banyak hal yang telah ditinggalkan Shania. Ia tidak dapat meminta perempuan itu melepas pekerjaan, menyerahkan tabungan, atau kembali mengatur hidup mengelilingi dirinya hanya karena ia sekarang lebih pandai meminta maaf.
'Aku harus menerima hidup yang sudah dia bangun,' jawabnya. 'Tapi aku juga tidak boleh menjanjikan semua akan sempurna hanya supaya dia bersedia mendengarkan.'
Ardi mengangguk pelan. Ia tidak menyusun kalimat lamaran untuk sahabatnya atau menawarkan menelepon Wati agar pertemuan diatur. Jika Arhan ingin bicara, permintaan harus sampai kepada Shania dengan terang dan dapat ditolak tanpa menimbulkan akibat pada pekerjaan ataupun hubungannya dengan ibu.
Ardi meminta ia membayangkan jawaban lain yang juga mungkin: Shania menerima permintaan maaf tetapi tidak ingin menikah kembali. Arhan menatap meja, lalu mengakui ia sempat mengira pengampunan akan menjadi awal untuk membujuk. Sahabatnya menggeleng.
'Kalau dia memaafkan, jangan ubah itu menjadi persetujuan yang belum pernah dia berikan.'
Arhan mengangguk lebih lambat sebelum menjawab. Ia perlu memisahkan apa yang ingin diselesaikan atas kesalahannya dari keinginan mendapatkan hubungan baru dengan orang yang sama. Permintaan maaf tidak boleh sengaja ditahan sampai perempuan itu memberi kesempatan. Jika hanya bagian pertama yang diterima, ia tetap perlu menghormati jawabannya.
Mereka kembali membicarakan cara meminta waktu. Arhan semula ingin datang ke butik ketika tahu Shania mungkin berada di sana. Ardi menanyakan apakah itu membuatnya mempunyai pilihan untuk tidak bertemu. Pria tersebut menggeleng, lalu mencoret rencana itu dari pikirannya. Datang ketika seseorang sedang bekerja tidak otomatis menjadi tindakan berani; kadang hanya membuat orang lain sulit pergi.
Sesudah mereka berpisah, Arhan pulang dan makan terlebih dahulu. Ia tidak ingin menulis pesan ketika sengaja membiarkan perut kosong serta rumah gelap agar kesedihannya terasa lebih besar. Ia membereskan alat makan, mengatur waktu kerja esok, lalu duduk di ruang tengah dengan ponsel pada meja.
Beberapa kalimat ditulis dan dihapus. Ada versi yang terlalu panjang membicarakan penyesalan, ada yang menggunakan kabar Wati sebagai pembuka padahal ibunya tidak sedang meminta bantuan. Arhan menghapus alasan itu. Ia tidak memerlukan masalah keluarga untuk membuat permintaannya tampak lebih mendesak daripada yang sebenarnya.
Ia akhirnya menulis pesan singkat: ia ingin meminta waktu berbicara satu kali mengenai pernikahan yang telah berakhir dan hal pribadi yang masih ingin disampaikan. Ia mengatakan Shania boleh menolak dan tidak perlu memberi jawaban malam itu. Jika bersedia, waktu serta tempat dapat dipilih yang nyaman bagi perempuan tersebut.
Arhan membaca ulang sebelum mengirim. Ia tidak menyebut ada barang tertinggal, dokumen yang perlu diambil, atau urusan pembayaran yang sebenarnya sudah selesai. Tidak ada celah untuk membuat Shania datang karena mengira ia sedang menghadapi keperluan lain. Ia menekan kirim, kemudian meletakkan ponsel tanpa menambahkan panggilan.
Menunggu terasa lebih sulit daripada menulis. Ia beberapa kali hendak mengambil kembali ponsel, lalu berdiri untuk menyiapkan pakaian. Ketika kembali, layar belum menunjukkan jawaban. Arhan mengingat kalimat yang baru dikirimnya sendiri: tidak perlu menjawab malam ini. Ia tidak dapat menyampaikan kebebasan memilih lalu memperlakukannya sebagai tanda tidak peduli begitu perempuan itu menggunakan waktu.
Di rak ruang tengah ada beberapa benda yang dahulu dipakai berdua. Arhan mengambil satu yang perlu dipindahkan agar tempatnya tidak sesak, lalu membersihkan debu. Ia tidak mengubah rumah menjadi susunan kenangan yang akan dipotret dan dikirim kepada Shania. Ruangan itu adalah tempat tinggalnya sekarang, tetap harus dapat dipakai meskipun tidak ada pertemuan.
Menjelang tidur ia menghubungi Wati untuk urusan kunjungan yang memang sudah dijanjikan. Ia tidak menyampaikan pesan yang baru dikirim kepada Shania sebagai permintaan agar ibunya membantu mengejar jawaban. Mereka membicarakan kebutuhan minggu itu, lalu menutup panggilan setelah waktunya jelas.
Malam berakhir tanpa balasan yang memutuskan masa depannya. Arhan mematikan lampu dan membiarkan ponsel pada meja dekat tempat tidur. Ia telah meminta waktu, bukan memperoleh hak atas hari orang lain. Jika jawaban tidak datang atau pertemuan ditolak, ia tetap harus bangun bekerja serta memenuhi janji yang sudah dibuat. Untuk pertama kali dalam keinginan kembali itu, ia mencoba menempatkan kemungkinan tidak diterima sebagai sesuatu yang harus dihormati, bukan hambatan yang perlu ditaklukkan.