Wati ingin mengunjungi makam Mardi pada akhir pekan. Ia menyampaikannya kepada Arhan ketika mereka memeriksa kebutuhan rumah melalui telepon. Pria itu melihat jadwal sebelum menjawab, kemudian menyebut waktu yang dapat dihadiri. Ia tidak mengatakan akan meminta Shania menemani ibunya karena perempuan itu lebih terbiasa menyiapkan segala sesuatu.
Sabtu pagi Arhan datang membawa air minum dan memastikan barang yang dibawa Wati tidak terlalu banyak. Ibunya sudah siap. Ia mengunci rumah setelah perempuan itu memeriksa pintu, lalu berjalan di sisinya menuju kendaraan. Untuk kali ini ia tidak datang dengan masalah yang harus didengarkan Wati terlebih dahulu. Ada satu keinginan ibunya yang perlu diberi waktu.
Perjalanan berlangsung tenang. Wati menanyakan apakah pekerjaan masih membuat Arhan pulang terlalu malam. Ia menjawab beberapa urusan kini lebih teratur setelah belajar menyerahkan perubahan kepada semua pihak yang perlu menerima. Tidak ada cerita tentang keberhasilan kecil yang dibesar-besarkan agar ibunya menganggap masa lalu sudah lunas. Ia juga tidak menyebut Shania sebagai orang yang harus melihat perubahan tersebut.
Di tempat tujuan, Arhan memilih berjalan dengan kecepatan Wati. Ia menawarkan lengan ketika jalan tidak rata, lalu menunggu ketika perempuan itu ingin berhenti sejenak. Sampai di makam, keduanya membersihkan bagian yang dapat dirapikan sebelum duduk dan berdoa. Nama Mardi berada di hadapan mereka, mengembalikan suasana rumah kepada seseorang yang telah lama tidak duduk bersama di meja makan.
Wati mengusap ujung matanya setelah selesai. Arhan mengeluarkan tisu dan menyerahkan tanpa langsung menanyakan apa yang dipikirkan. Ia duduk di sebelah, mendengarkan suara orang lain yang berziarah beberapa jarak dari mereka. Ada banyak kehilangan di tempat itu yang tidak memerlukan kalimat dari dirinya.
'Ibu kangen,' kata Wati akhirnya.
Arhan mengangguk. Ia juga merindukan ayahnya, tetapi tidak mengubah ucapan ibunya menjadi kesempatan menceritakan seluruh kegagalannya sebagai suami. Mereka diam lagi. Ketika Wati hendak berdiri, ia membantu mengangkat barang dan menunggu sampai perempuan itu merasa kakinya cukup kuat untuk berjalan.
Dalam perjalanan keluar, Arhan sempat mengatakan ia ingin lebih sering mendampingi jika ibunya berkenan. Wati menjawab mereka dapat mengatur waktu yang masuk akal. Ia tidak meminta putranya menjanjikan setiap pekan lalu marah ketika pekerjaan membuat rencana berubah. Yang diinginkan ialah kabar yang jelas, bukan janji besar yang hanya diucapkan setelah melihat air matanya.
Sesudahnya mereka singgah makan sebelum kembali. Wati memilih tempat yang tidak ramai, lalu meminta Arhan membacakan satu bagian menu yang tulisannya terlalu kecil. Pria itu membacanya, menanyakan pilihan, dan memesan sesuai yang diinginkan. Ia tidak mengambil keputusan bahwa ibunya pasti menyukai yang sama dengan dirinya.
Mereka membicarakan rumah serta tanaman yang sempat dipindahkan ketika Shania berkunjung. Wati mengatakan daunnya tampak lebih baik setelah posisi diubah dan air diperhatikan. Arhan tersenyum kecil, kemudian bertanya apakah ada benda di rumah yang perlu diangkat. Ia mengingat tugas itu akan kembali membuat ibunya kesulitan jika hanya ditawarkan sebagai kalimat sopan.
Sampai di rumah, Wati menunjukkan kotak berisi beberapa barang yang ingin dipindahkan dari lantai ke tempat lebih mudah dijangkau. Arhan mengangkat sedikit demi sedikit setelah isinya diperiksa. Ada benda yang tetap ingin disimpan, ada yang dapat dipisahkan. Ia tidak membuang sesuatu karena terlihat tidak berguna bagi dirinya, dan tidak menuntut seluruh keputusan selesai pada satu siang.
Salah satu kotak berisi wadah kue yang sudah lama tidak dipakai. Arhan mengira dapat dipisahkan, tetapi Wati mengatakan masih menggunakannya ketika menerima tamu lebih banyak. Ia meminta wadah itu ditempatkan rendah, bukan dikembalikan ke susunan yang sulit diraih. Arhan membukakan ruang dengan memindahkan benda yang lebih ringan ke bagian atas. Setelah dicoba, Wati dapat mengambil serta mengembalikan wadah tanpa harus meminta seseorang mengangkat seluruh kotak.
Ketika kotak terakhir ditempatkan, Arhan membersihkan bagian lantai yang tadi tertutup. Wati menyiapkan minuman lalu duduk melihat hasilnya. Ia mengatakan rumah terasa lebih lapang. Putranya mencoba membuka tempat penyimpanan agar perempuan itu dapat meraih barang yang sering dipakai tanpa berdiri terlalu tinggi.
Ponsel Wati berbunyi. Shania mengirim kabar mengenai pekerjaan dan menanyakan apakah kunjungan ke makam sudah selesai. Perempuan itu menjawab sendiri, menyebut Arhan telah menemani dan mereka kini berada di rumah. Ia tidak menyerahkan telepon kepada putranya atau meminta Shania datang karena ada waktu berdua yang mungkin menyenangkan.
Arhan melihat ibunya tersenyum pada layar, lalu kembali merapikan peralatan yang dipakai. Hubungan kedua perempuan itu tetap ada. Ia tidak dapat menjadikannya jalur memanggil Shania pulang, sebagaimana ia tidak perlu memutus hubungan tersebut agar merasa mempunyai tempat sebagai anak.
Menjelang sore, Wati mengatakan ia ingin beristirahat. Arhan memastikan minum berada pada tempat yang mudah dijangkau, lalu memeriksa apakah barang yang dipindahkan sudah sesuai. Ia menyebut waktu kunjungan berikut yang benar-benar dapat direncanakan. Jika berubah, ia akan memberi kabar lebih dahulu, bukan membuat ibunya duduk menunggu sampai hari gelap.
Sebelum keluar, ia mencium tangan Wati. Perempuan itu menepuk bahunya dan mengucapkan terima kasih atas hari itu. Arhan menerima tanpa menambahkan pertanyaan apakah kini ibunya percaya ia sudah menjadi orang yang berbeda. Ada perjalanan yang telah ditempuh, barang yang dipindahkan, dan waktu yang benar-benar diberikan. Untuk sementara hal-hal itu cukup menjelaskan kedatangannya.
Di rumah sendiri, ia menyiapkan makan malam dan menyimpan pengeluaran yang perlu dicatat. Kamar tamu tetap kosong, tidak dipenuhi hadiah untuk seseorang yang belum pernah mengatakan ingin kembali. Ia masih memikirkan Shania pada waktu-waktu tertentu. Namun hari bersama Wati telah berjalan tanpa menggunakan perempuan itu sebagai pengganti tanggung jawabnya sendiri.
Malam itu ia menerima pesan ibunya bahwa tempat penyimpanan baru ternyata lebih mudah dipakai. Arhan membalas singkat, lalu meletakkan ponsel. Tidak ada foto pekerjaan rumah yang dikirim kepada Shania sebagai laporan kelayakan menjadi suami. Besok ia akan bangun, mengurus kebutuhannya, dan meneruskan bagian hidup yang memang berada dalam tangannya.