Pembayaran sewa berikutnya jatuh pada pekan ketika Shania juga harus membeli beberapa kebutuhan kerja. Ia memeriksa jumlah yang telah disisihkan sejak menerima gaji, lalu menyelesaikan pembayaran menurut ketentuan yang disepakati. Bukti penerimaan disimpan bersama catatan rumah. Setelah itu ia baru melihat sisa dana yang dapat dipakai untuk barang tambahan, bukan menghitung semuanya sebagai uang bebas sejak awal bulan.
Meja kecilnya masih dipakai untuk makan dan menggambar. Ada hari ketika ia merasa perlu membeli yang lebih besar, terutama saat gambar harus dibuka penuh. Namun setelah memindahkan beberapa benda yang jarang digunakan, ia menemukan ruang yang cukup untuk pekerjaan saat ini. Lampu Wati digeser ke sisi yang lebih tepat, sementara kotak penyimpanan ringan diletakkan pada bagian yang tidak menghalangi kaki.
Ia mengatur satu tempat untuk alat gambar dan satu bagian bagi keperluan makan. Ketika keduanya tercampur, ia menghabiskan terlalu banyak waktu mencari pensil di dekat wadah bumbu. Shania menertawakan kebiasaan itu dan memindahkan barang sambil mencoba benar-benar duduk mengerjakan sesuatu. Rumah akan dipakai setiap hari, bukan disusun sekali untuk foto lalu dibiarkan menyulitkan penghuni.
Sabtu siang Shinta datang sebagai tamu. Pada hari pindah ia lebih banyak mengangkat serta merakit daripada melihat bagaimana Shania menggunakan ruangan. Kini ia membawa bahan makanan yang sudah ditanyakan lebih dahulu. Shania menyiapkan minuman dan menunjukkan tempat menaruh belanja, kemudian mengajak sahabatnya memasak sebelum keduanya terlalu lapar untuk sabar.
Dapur kecil membuat mereka harus bergantian bergerak. Ketika Shinta berdiri di depan tempat mencuci, Shania tidak dapat sekaligus membuka wadah yang disimpan di bawah. Mereka berhenti, memindahkan satu barang, lalu membagi pekerjaan: seorang mencuci dan memotong, seorang menyiapkan bagian masak. Percakapan sering terputus oleh pertanyaan di mana alat disimpan, lalu kembali berjalan sesudah benda yang dicari ditemukan.
Shinta sempat mengambil wadah makan yang biasa dibawa Shania bekerja. Pemiliknya tertawa dan menukarnya dengan piring yang memang akan digunakan. Banyak benda masih mempunyai satu fungsi utama karena belum semua kebutuhan dilengkapi. Namun keduanya dapat makan hangat tanpa harus membeli satu lemari peralatan agar dapur terasa pantas didatangi teman.
Di meja kecil, Shinta menanyakan bagian tinggal sendiri yang paling berbeda dari bayangan Shania. Jawabannya bukan tentang keberanian menghadapi malam, melainkan betapa sering ia harus memikirkan makanan sebelum lapar dan air minum sebelum habis. Sahabatnya tertawa karena itu terdengar sangat biasa dibandingkan rencana besar yang dahulu mereka bicarakan di butik.
'Justru sekarang hal biasa itu bagianku,' kata Shania. 'Kalau lupa, aku sendiri yang repot. Tapi kalau berhasil, aku juga bisa menikmatinya.'
Mereka makan perlahan. Dari jalan terdengar sapaan tetangga dan kendaraan yang sesekali lewat. Shinta bertanya apakah orang sekitar sudah dikenali. Shania menyebut beberapa kebiasaan yang mulai dipahaminya, termasuk waktu pengambilan sampah yang ditanyakan pada pagi pertama. Ia belum mengenal semua orang, tetapi kini dapat membalas sapaan tanpa merasa sedang melewati lingkungan orang lain.
Hujan turun ketika mereka baru selesai makan. Angin membawa percikan melalui jendela yang tadi dibuka lebar, membuat Shania segera mengangkat gambar dari meja. Shinta membantu memindahkan gelas sementara ia menutup sebagian daun jendela. Ada sedikit air pada lantai, cukup diusap dengan lap yang disimpan dekat dapur. Mereka tertawa melihat bagaimana satu ruangan kecil dapat berubah sibuk hanya karena lupa memperhatikan arah angin. Setelah lantai kering, Shania memindahkan map ke bagian yang terlindung dan membiarkan udara tetap masuk melalui celah yang aman dari percikan.
Setelah makan, keduanya duduk di dekat jendela dengan minuman yang tidak diletakkan di atas gambar. Shinta bercerita tentang pekerjaan butik yang kembali lebih teratur setelah jadwal diperbaiki. Tidak semua pesanan diterima, tetapi yang masuk dapat dikerjakan tanpa terus menunggu Shania datang selepas kantor. Perempuan itu mendengarkan dengan lega, mengetahui perselisihan mereka menghasilkan sesuatu yang nyata bagi usaha sahabatnya.
Shania memperlihatkan rancangan kedua yang masih dikembangkan setelah usul pertama ditolak. Ia tidak meminta Shinta memberi keputusan menggantikan koordinator. Ia hanya menunjukkan mengapa ia tetap menyukai pekerjaan tersebut meskipun satu pilihan harus disimpan. Sahabatnya mengamati sebentar, lalu mengatakan bagian gerak tampak lebih jelas ketika Shania memperagakan dengan tangannya sendiri.
Mereka merapikan meja setelah gambar ditutup. Shinta hampir mencuci semua alat makan, tetapi Shania memintanya menyisakan sebagian agar mereka dapat selesai bersama. Perempuan itu tidak perlu menjadi tamu yang selalu harus dilayani, sebagaimana Shania tidak ingin setiap kunjungan teman berubah menjadi kesempatan membereskan rumahnya. Mereka bekerja sambil melanjutkan cerita sampai suara kendaraan yang dipesan terdengar mendekat.
Shinta berpamitan pada sore hari. Shania mengantarnya sampai depan, mengucapkan terima kasih atas bahan makanan dan waktu berkunjung. Tidak ada barang yang ditinggalkan sebagai alasan wajib datang lagi besok. Mereka akan mencari waktu lain ketika memang ingin bertemu dan keduanya mempunyai kesempatan.
Sesudah pintu ditutup, Shania melihat ruang depan yang dipakai makan serta berbicara selama beberapa jam. Ada gelas yang masih perlu dikeringkan dan satu kursi yang harus digeser kembali. Ia mengurusnya, lalu menyiram pot di dekat jendela. Tanaman yang dibawa dari rumah lama mulai menyesuaikan arah daunnya dengan cahaya di tempat baru.
Malam itu ia memeriksa pengeluaran hari itu dan menemukan pembayaran sewa sudah tercatat tanpa menghabiskan seluruh kebutuhan bulan berjalan. Ia masih harus menjaga belanja serta menerima bahwa barang tertentu perlu menunggu. Namun ia telah makan bersama seorang sahabat, membayar tempat yang dipakai, dan mempunyai meja yang cukup lapang untuk meneruskan pekerjaan esok.
Shania mengambil buku yang lama belum dibaca tuntas. Untuk beberapa halaman, ia tidak memikirkan produksi, sidang, atau apakah ada orang yang perlu segera dihubungi agar tidak merasa ditinggalkan. Dari tempat duduknya ia dapat melihat kunci tergantung dekat tas. Ia menutup buku ketika mengantuk, mematikan lampu yang tidak diperlukan, dan membawa malam menuju tidur dengan urusan yang sungguh dapat ditunda sampai pagi.