Wati mengundang Shania makan siang pada Minggu berikutnya. Sebelum perempuan itu menjawab, ia mengatakan Arhan akan datang membawa kebutuhan rumah dan mungkin masih berada di sana ketika makan disiapkan. Jika Shania ingin waktu lain, mereka dapat mengaturnya. Pesan itu dibaca setelah Shania pulang bekerja, di meja kecil yang kini sudah lebih mudah dipakai karena kardus pindahan hampir seluruhnya dibuka.
Ia memilih tetap datang pada waktu yang ditawarkan. Ia ingin bertemu Wati dan merasa mampu berada pada satu meja tanpa menyamakan kunjungan dengan kepulangan sebagai istri. Ia membalas akan tiba menjelang siang dan membawa satu lauk. Sesudah itu ia memeriksa bahan yang dapat dibeli secukupnya, agar niat memberi tidak berakhir dengan memasak terlalu banyak untuk satu rumah kecil.
Minggu pagi ia menyiapkan lauk sederhana menggunakan perlengkapan yang telah dilengkapi sedikit demi sedikit. Ada satu bagian terlalu asin, sehingga ia memisahkannya dan memperbaiki sebelum dikemas. Ia menulis kecil pada wadah agar Wati tahu makanan perlu disimpan bagaimana jika tidak habis. Untuk dirinya sendiri, ia menyisihkan satu porsi sebelum membawa bagian yang akan diberikan.
Ketika tiba, Arhan sedang memeriksa barang belanja dengan ibunya. Ia menyapa dan menaruh kantong pada tempat yang diminta, lalu memberi jalan agar Shania dapat masuk. Wati menerima wadah makanan dengan senang, menanyakan apa yang dimasak, dan langsung tertawa ketika Shania mengaku hampir membawakan versi yang terlalu asin.
'Untung kamu mencoba dulu,' katanya.
Shania tertawa dan mengikuti ke dapur. Ia membawa makanan sebagai tamu yang ingin berbagi. Wati meminta ia duduk sebentar sementara menyiapkan minuman, sedangkan Arhan diminta mengambil piring. Pembagian itu berjalan dengan sedikit kebingungan ketika pria tersebut memilih wadah yang terlalu kecil untuk hidangan, lalu menggantinya setelah ibunya menunjuk yang dimaksud.
Mereka makan pada meja yang cukup untuk bertiga. Percakapan dimulai dari kebutuhan rumah dan rencana Wati menata tanaman, kemudian beralih pada pekerjaan. Shania bercerita mengenai presentasi yang sudah selesai dan satu usul model yang ditolak. Wati menanyakan apakah penolakan itu membuatnya harus berhenti merancang. Ia menjawab tidak, lalu menjelaskan ada pilihan lain yang sedang diperbaiki.
Arhan mendengarkan tanpa menawarkan menghubungi atasan agar keputusan diubah. Ketika Wati bertanya tentang urusan pemasaran pada kegiatan yang sama, ia menjawab bagiannya sendiri. Tiga orang tersebut dapat membicarakan satu acara dari tanggung jawab berbeda, tanpa menjadikan kerja bersama sebagai tanda hubungan yang ingin dipulihkan.
Sesudah makan, Shania hendak membawa piring ke tempat cuci, tetapi Arhan sudah berdiri mengambil sebagian. Ia menyerahkan yang berada di depannya dan mengikuti Wati ke ruang depan. Tidak ada orang yang memanggil agar ia kembali mengerjakan seluruh dapur karena sudah terbiasa. Ia duduk, membuka jendela sedikit setelah diminta, lalu menerima potongan buah dari perempuan itu.
Wati memperlihatkan satu tanaman yang daunnya menguning. Shania memeriksa tempat pot serta tanahnya, lalu menyarankan mencoba menggeser ke cahaya yang tidak terlalu keras dan memperhatikan air yang diberikan. Ia tidak mengaku mengetahui seluruh penyebab hanya dari satu daun. Mereka memilih tempat yang mudah dijangkau Wati agar perawatan tidak berubah menjadi pekerjaan berat baru.
Arhan menyusul setelah piring selesai dicuci. Ia membawa lap yang masih basah, menanyakan tempat menggantung, lalu kembali setelah mendapat jawaban. Shania melihat perubahan kecil tersebut tanpa merasa perlu menilainya keras atau memujinya berlebihan. Ia pernah menginginkan banyak hal menjadi lebih setara ketika masih menikah. Melihatnya dilakukan sekarang menimbulkan sedih singkat yang tidak harus disampaikan di depan ibunya.
Wati meminta resep lauk yang dibawa tadi. Shania menyebut bahan satu per satu, lalu berhenti ketika ibunya menanyakan ukuran yang tepat. Ia ternyata banyak memakai perkiraan. Arhan tertawa ketika Wati meminta ia mencatat sebelum keduanya mengubah pembicaraan menjadi perdebatan tentang satu sendok yang berbeda besar. Mereka menyelesaikan catatan sederhana bersama, dan Shania mengingatkan bagian garam perlu dicoba sedikit dahulu agar pengalaman paginya tidak terulang.
Wati mengajak mereka melihat foto yang baru dicetak dari hari pindah Shania. Ada gambar bertiga bersama Shinta di kontrakan, dengan kardus dan pot masih terlihat di sekitar kaki. Arhan melihat sekilas ketika diminta membantu menaruh foto pada tempatnya. Ia tidak meminta satu salinan untuk dipajang di rumahnya atau bertanya mengapa tidak ada dirinya dalam gambar.
Menjelang sore, Arhan berpamitan lebih dahulu karena ada urusan yang harus diselesaikan sendiri. Ia memastikan kebutuhan Wati sudah cukup, lalu menyapa Shania sebelum keluar. Tidak ada pesan yang dititipkan melalui ibu atau janji akan menunggu di luar untuk mengantar. Shania melanjutkan makan buah sambil mendengar suara kendaraan pergi, kemudian kembali pada cerita Wati tentang rencana kunjungan tetangga.
Setelah hanya berdua, perempuan itu mengaku senang makan siang tadi dapat berlangsung tenang. Shania mengangguk dan mengatakan ia juga senang datang. Keduanya tidak perlu segera menjelaskan arti setiap senyum yang muncul. Ada makanan yang habis, pekerjaan dapur yang dibagi, dan waktu bersama yang dapat dikenang tanpa mengubah keputusan yang telah dijalani.
Shania berpamitan pada waktu yang dipilih. Wati mengembalikan wadah setelah dibersihkan dan menambahkan sedikit makanan yang memang masih dapat dihabiskan. Ia meminta Shania memberi kabar ketika sampai. Perempuan itu mencium tangan, membawa tas serta wadah, lalu memesan kendaraan menuju kontrakan.
Sampai di rumah, ia meletakkan wadah pada dapur kecil dan menggantung pakaian. Sebagian makanan disimpan sesuai kebutuhan, sementara yang perlu segera dimakan disiapkan untuk malam. Di meja ada gambar yang akan diperbaiki Senin. Shania memandangnya sebentar, lalu memilih mandi dan beristirahat sebelum melanjutkan apa pun.
Ia mengirim kabar tiba kepada Wati, kemudian menutup ponsel. Makan siang bersama mantan suaminya tidak membuatnya kehilangan rumah yang baru dibangun melalui kebiasaan sendiri. Ia masih mempunyai rasa sayang pada orang-orang tertentu, kenangan yang belum seluruhnya tenang, serta hari esok yang membutuhkan pekerjaannya. Malam itu ia dapat pulang dari kunjungan keluarga dan tetap menemukan kunci kontrakan pada tempat yang dipilih sendiri.