Shinta memberi tahu Raka akan datang ke butik Sabtu membawa satu pakaian dari pesanan kelompok yang dahulu telah selesai. Pemakainya ingin mengganti kancing yang hilang setelah beberapa bulan digunakan. Pekerjaan itu dapat ditangani tim butik. Shania kebetulan sudah berencana datang untuk membicarakan jadwal lain, sehingga sahabatnya bertanya lebih dahulu apakah waktu tersebut tetap nyaman baginya.
Shania menjawab tidak keberatan. Ia tidak menganggap setiap pertemuan dengan pria yang pernah memuji karya pasti mempunyai maksud tersembunyi, tetapi senang Shinta kini mengabari dengan jelas. Ia tiba setelah sarapan dan membawa waktu yang memang sudah disisihkan, bukan meninggalkan pekerjaan kantor karena seseorang mendadak menunggu di butik.
Raka datang dengan pakaian yang dibungkus rapi. Ia menyerahkannya kepada Shinta bersama keterangan bagian yang perlu ditangani, lalu menunggu penjahit melihat. Tidak ada keluhan bahwa barang harus terus diperbaiki gratis karena mereka pernah bekerja sama. Kancing tersebut hilang setelah pemakaian, dan tim perlu memastikan pengganti sesuai sebelum mengatakan dapat menyelesaikannya.
Shania melihat pakaian ketika diminta membantu mengingat pilihan awal. Ia menunjukkan letak kancing cadangan yang masih tersimpan pada bagian dalam. Pemakainya ternyata belum memeriksa tempat itu. Penjahit mengambilnya dan memastikan bentuk serta warna sesuai sebelum menjahit kembali. Raka tertawa lega karena ia semula membayangkan harus mencari sesuatu yang persis sama ke banyak toko.
Sambil menunggu, mereka membicarakan kegiatan kelompok yang fotonya pernah dikirim. Sebagian pakaian telah dipakai lagi pada kesempatan lain. Raka mengatakan itu alasan beberapa orang masih menyimpan baik-baik keterangan perawatannya. Shania senang mendengarnya, lalu menanyakan apakah ada bagian lain yang menyulitkan setelah digunakan. Tidak semua orang mempunyai jawaban, dan Raka tidak mengarang pujian atas nama mereka.
Raka menceritakan seorang anggota yang memakai busana pesanannya lagi dengan aksesori berbeda. Pada kegiatan pertama ia mengikuti susunan yang disepakati kelompok, sedangkan pada kesempatan berikutnya ia menyesuaikannya dengan barang yang sudah dimiliki. Shania menanyakan apakah bentuk utama tetap nyaman setelah dipadukan. Raka menunjukkan foto yang memang diizinkan untuk diperlihatkan, lalu tertawa ketika mengakui ia sendiri baru memperhatikan perbedaan itu setelah diberi tahu pemakainya.
Shania melihat gambar tanpa menyimpannya ke ponsel sendiri. Ia menyukai kenyataan bahwa pakaian tidak berhenti menjadi seragam satu kegiatan. Ada orang yang memilih mengenakannya kembali karena merasa cocok, dengan cara yang tidak perlu persis seperti gambar pertama di meja butik. Ia mengembalikan ponsel Raka dan mengucapkan terima kasih atas kabar tersebut.
Shinta memanggil ketika perbaikan selesai. Raka memeriksa kancing bersama penjahit, menerima penjelasan mengenai jahitan yang baru dibuat, dan menyelesaikan biaya pengerjaan yang disampaikan. Pakaian dimasukkan kembali setelah dipastikan tidak ada jarum atau benang lepas tertinggal. Urusan kecil itu selesai melalui butik, sebagaimana pesanan awal dahulu dibayar melalui usaha yang mengerjakan.
Sesudahnya Raka meminta waktu berbicara sebentar dengan Shania di ruang depan, jika ia bersedia. Shania mengangguk. Shinta kembali melayani pekerjaan lain tanpa menjauh begitu dramatis seolah sedang mengatur pertemuan rahasia. Ada orang lain di butik, cahaya siang masuk dari jendela, dan Shania tetap dapat mengatakan waktunya sudah habis kapan saja.
'Aku senang melihat kamu terus merancang,' kata Raka. 'Waktu pertama ketemu, kita lebih banyak bicara rencana. Sekarang aku sudah melihat hasilnya dipakai orang.'
'Terima kasih. Banyak yang ikut membuatnya selesai,' jawab Shania.
Raka mengangguk. Ia memandang sejenak ke arah foto di dinding, kemudian kembali kepadanya. 'Aku ingin mengajakmu minum kopi suatu hari, di luar urusan pekerjaan. Kalau kamu nyaman.'
Shania diam beberapa saat. Undangan itu disampaikan dengan terang, tidak disembunyikan sebagai pekerjaan yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia tidak perlu menebak maksud, tetapi juga tidak mempunyai kewajiban menjawab iya karena pria tersebut telah membeli hasil kerja mereka.
'Aku menghargai kamu bertanya langsung,' katanya. 'Aku belum ingin memulai hubungan. Sekarang aku ingin menjalani hidupku sendiri dulu.'
Raka menarik napas pelan, lalu mengangguk. 'Baik. Terima kasih sudah mengatakan dengan jelas.'
Ia tidak menanyakan berapa bulan yang diperlukan agar jawaban berubah. Ia mengambil pakaian yang sudah selesai, menanyakan kepada Shinta apakah seluruh pembayaran tercatat, lalu berpamitan. Ketika menyapa Shania sebelum keluar, nada suaranya tetap wajar. Tidak ada hadiah yang ditarik kembali atau pekerjaan yang dipakai sebagai alasan bahwa ia telah bersikap baik terlalu lama.
Shania melihat kendaraan pergi dari depan butik, kemudian kembali duduk. Ada rasa lega, juga sedikit sedih karena ia tahu penolakan dapat mengecewakan orang yang tidak melakukan sesuatu yang buruk. Ia tidak mengubah jawaban hanya untuk menghilangkan rasa itu secepat mungkin.
Shinta datang membawa minuman dan bertanya apakah ia ingin berbicara atau melanjutkan urusan yang sudah direncanakan. Shania memilih minum dahulu, lalu menceritakan singkat pertanyaan Raka serta jawabannya. Sahabatnya mendengarkan tanpa mengatakan kesempatan baik akan hilang jika ia tidak cepat memilih pasangan baru.
'Aku senang tidak harus menebak,' kata Shania. 'Aku juga senang bisa menjawab sendiri.'
Shinta tersenyum dan mendorong jadwal butik ke tengah meja. Mereka kembali membicarakan waktu yang memang perlu disepakati. Shania tidak memerlukan seluruh siang untuk membuktikan penolakannya benar. Ada pekerjaan yang dapat diterima, ada yang perlu ditunda, dan ada persahabatan yang sudah cukup tenang untuk menampung jawaban tersebut tanpa mengisinya dengan nasihat.
Ketika pulang, ia singgah membeli kebutuhan makan sesuai daftar. Di antara rak, ia sempat teringat undangan minum kopi dan membayangkan betapa berbeda hidupnya jika segera memilih orang lain sebagai arah berikut. Bayangan itu lewat, lalu ia membandingkan harga bahan yang akan dimasak untuk dirinya sendiri malam nanti.
Sampai di kontrakan, Shania membuka jendela dan menggantung tas. Ia tidak merasa perlu mengabari Arhan bahwa ada pria yang tertarik kepadanya atau menggunakan penolakan tersebut sebagai bukti ia masih menunggu mantan suami. Jawaban kepada Raka lahir dari keinginannya sendiri. Ia menyalakan lampu dapur, mengambil satu porsi bahan makanan, dan meneruskan malam tanpa menambahkan janji yang tidak ingin dijalaninya.