Undangan syukuran seorang rekan masih mencantumkan Arhan beserta istri. Ia membacanya pada akhir pekan setelah urusan presentasi selesai. Nama Shania tidak tertulis, tetapi kebiasaan datang berdua terasa begitu dekat sampai ia sempat membayangkan meminta perempuan itu hadir sebagai teman. Bayangan tersebut bertahan beberapa detik sebelum ia menghubungi pengundang untuk mengonfirmasi hanya satu orang yang akan datang.
Penyelenggara meminta maaf karena belum mengetahui perubahan keadaan keluarganya. Arhan menjawab cukup singkat, lalu memastikan waktu yang ditentukan. Ia tidak membiarkan satu kursi kosong sengaja disiapkan sebagai alasan mengajak Shania mendadak. Setelah panggilan ditutup, ia mengeluarkan pakaian dari lemari dan memeriksa bagian yang perlu disetrika sendiri.
Ardi juga menerima undangan. Mereka berangkat terpisah dan bertemu di tempat kegiatan. Sahabatnya tidak menanyakan siapa yang gagal diajak atau apakah Arhan sedang mencoba memperbaiki hubungan. Ia hanya menunjuk tempat menaruh barang, lalu mengajaknya menyapa tuan rumah sebelum ruangan semakin ramai.
Di meja, seorang rekan menanyakan mengapa Arhan datang sendiri. Pria itu menjawab ia dan Shania sudah bercerai. Kalimat tersebut terasa lebih berat ketika diucapkan pada orang yang dahulu mengenal mereka sebagai pasangan, tetapi ia tidak menambah cerita bahwa Shania terlalu sibuk untuk menemani. Kedudukan mereka telah berubah, bukan sekadar jadwalnya yang sedang tidak cocok.
'Orang kantor memang cepat sekali berubah setelah punya pekerjaan bagus,' kata orang lain, menyambung tanpa mengetahui sebabnya.
Arhan meletakkan gelas. 'Jangan simpulkan begitu tentang Shania. Perpisahan kami bukan karena gajinya naik.'
'Lho, aku cuma bilang secara umum.'
'Tapi tadi kita sedang menyebut dia. Aku juga harus bertanggung jawab pada pilihanku sendiri.'
Arhan tidak melanjutkan dengan rincian perselingkuhan di depan orang yang datang untuk acara lain. Ia mengalihkan pembicaraan pada tuan rumah, lalu membiarkan pertanyaan tentang kehidupan pribadi berhenti. Ardi duduk di sebelahnya tanpa menyela untuk memberi pembenaran atau memuji keberaniannya mengaku datang sendiri.
Mereka makan sambil mendengarkan beberapa percakapan yang berganti. Ada orang membicarakan perjalanan, sekolah anak, dan rencana memperbaiki rumah. Arhan tidak dapat ikut pada semua bagian, tetapi juga tidak harus terus menyebut kehilangan untuk mempunyai tempat di meja. Ia menjawab ketika ditanya mengenai pekerjaan dan mengakui satu urusan yang pernah kacau kini ditangani dengan lebih teratur.
Ketika piringnya kosong, ia berdiri untuk membantu membawanya ke tempat yang disediakan. Gerakan itu sempat membuatnya mengingat berapa sering ia meninggalkan piring begitu saja ketika Shania ada. Ingatan tersebut tidak dibagikan sebagai kisah penyesalan kepada orang yang sedang menumpuk alat makan. Ia hanya menaruhnya dengan benar, mengambil gelas yang sempat tertinggal, lalu kembali duduk.
Tuan rumah kemudian meminta bantuan memindahkan beberapa kursi dari jalur keluar. Arhan dan Ardi berdiri bersama dua rekan lain. Mereka mengangkat sedikit demi sedikit sampai orang yang masih membawa piring dapat lewat tanpa berdesakan. Seseorang salah menumpuk kursi dan harus membongkar susunannya kembali, membuat mereka tertawa ketika pekerjaan yang tampak mudah justru lama selesai. Arhan ikut tertawa. Untuk beberapa menit ia tidak sedang memikirkan apa yang harus dikatakan agar terlihat menyesal; ia hanya berada di antara orang lain, melakukan hal yang diminta dan mengembalikan jalan agar dapat dilewati dengan nyaman.
Sesudah sebagian tamu pulang, Ardi mengajaknya berjalan sebentar sebelum mengambil kendaraan. Udara malam lebih tenang dibandingkan suara ruangan tadi. Arhan mengatakan hal yang paling sulit ternyata bukan menjawab pertanyaan, melainkan menyadari tidak ada seseorang yang perlu ditunggu sebelum ia dapat berangkat pulang.
'Aku masih ingin mencoba bicara dengan Shania,' katanya.
'Bicara untuk apa?' tanya Ardi.
'Aku belum tahu cara menjawab tanpa terdengar seperti cuma tidak tahan sendiri.'
Ardi mengangguk. Ia tidak langsung mengatakan keinginan itu harus dipenuhi atau dilarang selamanya. Ia menanyakan apakah Arhan sanggup mendengar jawaban yang tidak memberinya kesempatan, dan tetap menghormati keputusan tersebut setelah percakapan selesai. Arhan memandang jalan yang mulai sepi, menyadari ia belum mempunyai keyakinan yang dapat diucapkan dengan mudah.
'Kalau belum bisa, jangan membuat dia menanggung percobaanmu belajar menerima,' kata Ardi.
Arhan menarik napas. Ia mengatakan belum akan menghubunginya malam itu. Ia ingin memahami lebih dahulu apa yang sungguh hendak disampaikan, bukan mencari kalimat yang paling mungkin membuat perempuan itu pulang. Sahabatnya tidak menawarkan menyampaikan pesan. Mereka berpisah di tempat parkir setelah menyepakati urusan kerja yang masih perlu dihadiri pada Senin.
Dalam perjalanan pulang, Arhan berhenti membeli kebutuhan makan untuk esok. Ia memilih jumlah yang dapat dihabiskan sendiri dan tidak memasukkan barang hanya karena dahulu Shania selalu menyiapkannya. Di kasir, ia baru menyadari lupa membawa kantong yang biasanya disimpan di kendaraan. Ia kembali mengambilnya, membiarkan orang berikut dilayani, lalu menyelesaikan belanja tanpa mengomel kepada orang lain.
Rumahnya gelap ketika tiba. Ia menyalakan lampu seperlunya, menyimpan makanan, dan menggantung pakaian yang masih dapat dirapikan. Kamar tamu sudah kosong sejak kepindahan. Ia membukanya untuk memeriksa jendela yang tadi dibersihkan, lalu menutup lagi tanpa menyusun barang agar ruangan tampak sedang menunggu penghuni lama kembali.
Di meja ruang tengah terdapat catatan kebutuhan Wati untuk kunjungan berikut. Ia memeriksa waktu yang sudah dijanjikan dan menambahkan satu pertanyaan yang perlu diajukan sebelum membeli. Ia tidak akan datang membawa jumlah besar yang justru menyulitkan seperti kemasan yang pernah harus ditukar. Ingatan terhadap kesalahan dapat dipakai untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, meskipun tidak seorang pun akan memberi kesempatan baru sebagai imbalan.
Malam itu ia duduk sebentar dengan minuman hangat. Ia masih merindukan Shania dan merasa malu pada sebagian pilihan yang telah dibuat. Kedua perasaan tersebut tidak harus langsung berubah menjadi pesan yang masuk ke ponsel orang lain. Ia membiarkan rumah sunyi, lalu mematikan lampu ketika tiba waktu tidur. Besok ia mempunyai kebutuhan sendiri serta janji kepada ibunya yang harus ditepati, dan untuk sementara itulah pekerjaan yang dapat dilakukan tanpa meminta siapa pun kembali.