Sesi mencoba dua contoh untuk presentasi diadakan di butik pada waktu yang telah disepakati. Shania datang bersama koordinator. Dua pemakai yang ditunjuk tim penyelenggara membawa alas kaki yang akan digunakan agar panjang busana dapat diperiksa sesuai keadaan sebenarnya. Shinta menyiapkan ruang berganti tanpa menghentikan seluruh pelayanan butik hari itu.
Contoh pertama berupa gaun dengan garis jatuh yang lentur. Ketika dikeluarkan dari pembungkus, Shania menyukai cara lipatannya bergerak. Namun setelah dikenakan dengan alas kaki yang dibawa, ujungnya terlalu dekat dengan lantai. Pemakai menahan langkah dan meminta kepastian apakah ia seharusnya berjalan sambil mengangkat sedikit bagian depan.
Shania menggeleng. Ia meminta orang itu berdiri seperti biasa, lalu bersama penjahit menandai panjang yang perlu diperbaiki. Mereka memeriksa dari depan serta samping. Satu tanda digeser setelah pemakai berjalan beberapa langkah, sebab perubahan yang tampak rata ketika diam belum tentu tepat saat kain mengikuti kaki.
'Saya tidak mau memikirkan ujungnya setiap kali melangkah,' kata pemakai sambil tertawa kecil.
'Itu justru yang sedang kita cari,' jawab Shania. 'Berjalan saja seperti yang akan dilakukan waktu presentasi.'
Mereka mengulangi gerak setelah ujung diamankan sementara. Kali ini pemakai dapat melangkah tanpa menahan kain. Koordinator menyetujui perubahan panjang dan memastikan bagian yang dipotong tidak langsung dibuang sebelum penjahit selesai memeriksa kebutuhan penyelesaian. Shinta meminta waktu yang cukup agar hasilnya rapi dari semua sisi, bukan hanya dari arah orang memotret.
Pada contoh kedua, persoalannya berada pada atasan yang lebih terstruktur. Ketika pemakai duduk, sisi depan membentuk tarikan yang tidak terlihat sewaktu berdiri. Shania mendekat setelah meminta izin melihat sambungan. Ia menanyakan bagian yang menekan, sementara pemakai menunjukkan letaknya tanpa perlu mengatakan seluruh busana tidak nyaman.
Penjahit membuka bagian sementara yang memang belum diselesaikan penuh. Shania membandingkan bentuknya dengan gambar dan menemukan garis yang perlu digeser. Shinta menahan bahan agar jatuhnya dapat diamati, lalu bertanya apakah perubahan itu masih mempertahankan bentuk yang ingin diperlihatkan pada presentasi. Shania mencoba satu kemungkinan dan mengurungkannya ketika bagian depan menjadi terlalu longgar.
Mereka mengambil jeda agar pemakai dapat berganti dan minum. Orang itu meninggalkan ruang mencoba dengan wajah lega karena tidak terus diminta berdiri sementara orang lain berdiskusi tentang tubuhnya. Shania menggunakan waktu tersebut untuk menggambar perubahan kecil yang benar-benar dapat dijahit dalam waktu tersedia, lalu menunjukkannya kepada koordinator sebelum dilanjutkan.
Ketika dicoba kembali, atasan lebih mudah mengikuti gerak duduk. Bentuknya masih tegas, tetapi pemakai tidak perlu menarik sisi depan saat bangkit. Ia mengangkat kedua tangan sebentar, meraih tas, lalu menanyakan apakah bagian dalam akan diselesaikan dengan cara yang sama seperti contoh yang baru dibetulkan. Penjahit menerangkan bagian yang masih sementara dan apa yang akan berubah pada hasil akhir.
Tidak semua keputusan diambil Shania. Koordinator memastikan kesesuaian dengan kebutuhan kegiatan, Shinta mengatur pengerjaan, dan pemakai memberikan pengalaman langsung yang tidak dapat dibaca dari gambar. Shania menuliskan perubahan pada bagiannya, kemudian meminta orang yang akan mengerjakan menunjuk letak yang dimaksud. Kesalahan keterangan pengait pada evaluasi dahulu cukup membuatnya tidak lagi menganggap gambar terbaru pasti dibaca sama oleh semua orang.
Di depan butik, seorang pelanggan lain melihat gaun ketika pembungkusnya belum ditutup. Ia bertanya apakah sudah dapat dipesan. Shinta menjelaskan contoh tersebut merupakan pekerjaan khusus yang sedang diselesaikan untuk pemesan dan belum menjadi barang yang ditawarkan butik. Pelanggan itu mengangguk, lalu kembali melihat pilihan yang memang tersedia. Tidak ada pesanan baru diterima atas bentuk milik perusahaan hanya karena seseorang memujinya.
Sebelum melepas atasan, pemakai meminta mencoba membuka pengait sendiri. Tangannya sulit mencapai satu sisi, sehingga Shania meminta penjahit melihat apakah letaknya dapat sedikit disesuaikan. Setelah dicoba, pengait tetap dapat tersembunyi tanpa membuat pemakai perlu selalu memanggil orang lain untuk berganti. Mereka menandai perubahan itu pada contoh, lalu koordinator meminta agar pemeriksaan terakhir mencakup cara mengenakan dan melepas, bukan hanya penampilan di depan cermin. Pemakai tertawa lega ketika akhirnya dapat membuka bagian tersebut sendiri sebelum kembali ke ruang berganti.
Sesudah kedua pemakai selesai, mereka memeriksa kembali alas kaki serta barang pribadi sebelum pulang. Shania mengucapkan terima kasih karena bersedia mengatakan bagian yang mengganggu dengan jelas. Salah seorang menjawab ia lebih senang diperbaiki sekarang daripada harus tersenyum kaku sepanjang kegiatan. Tawa di ruangan membuat ketegangan yang sejak pagi menumpuk akhirnya turun.
Penjahit melanjutkan penyelesaian setelah perubahan disahkan. Shinta menunjukkan jadwal akhir kepada koordinator dan memberi tahu kapan contoh dapat diperiksa untuk penyerahan. Waktu masih cukup karena sesi awal sengaja tidak diletakkan tepat sebelum acara. Shania menatap jadwal itu dengan lega; penolakan satu tanggal pada pertemuan pertama ternyata menghasilkan ruang yang benar-benar dipakai bekerja.
Ketika kedua pemakai dan koordinator yang datang dari perusahaan telah berangkat, Shania masih berada di butik sampai pekerjaan kunjungannya selesai. Ia membantu menaruh gambar pada map yang sesuai, kemudian mengembalikan perlengkapan yang dipinjam. Di dinding dekat ruang depan tampak foto kelompok Raka yang sudah dipilih bersama Shinta dan digunakan atas izin pemakainya. Orang-orang pada foto bergerak di sebuah kegiatan, memakai hasil kerja yang sudah dibayar serta diserahkan.
Shinta melihat arah pandangnya dan bertanya apakah ia masih mengingat perbaikan bahu yang membuat mereka menunda keputusan sampai pemakai datang. Shania tertawa. Ada banyak percakapan di butik ini yang kelihatannya kecil sebelum hasilnya dikenakan orang lain. Ia tidak memerlukan pidato tentang bakat untuk mengingat mengapa ingin terus merancang.
Sore itu ia kembali ke kantor sesuai jadwal, menyerahkan bagian yang perlu diteruskan, lalu pulang ke kontrakan setelah pekerjaan hari itu selesai. Di dekat pintu, ia menemukan pot yang dibawanya ketika pindah perlu diputar karena cahaya lebih kuat dari satu sisi. Ia menggesernya perlahan, menyiram secukupnya, dan menaruh tas pada rak. Dua contoh masih akan melewati pemeriksaan akhir, tetapi sore tersebut tidak perlu diteruskan dengan menjahit sendiri di lantai rumah sampai tengah malam.