Cahaya di ruang depan mulai berubah ketika Shania selesai memasang lampu meja. Ia berdiri dan menyadari belum tahu sakelar mana yang menyalakan bagian luar. Selama pemeriksaan Jumat ia telah mencobanya bersama pemilik, tetapi saat itu semua tampak mudah diingat. Ia berjalan ke dekat pintu, menekan satu sakelar, lalu melihat cahaya jatuh pada jalan kecil di depan rumah.
Suara dari luar terdengar lebih dekat daripada di kamar tamu. Ada kendaraan melewati jalan lingkungan, anak yang dipanggil pulang, dan pintu pagar tetangga yang ditutup. Shania membuka tirai secukupnya, melihat keadaan, kemudian menutup kembali ketika lampu dalam membuat ruangan terlihat jelas dari luar. Ia masih perlu mengenali kebiasaan di sekitarnya, bukan membiarkan setiap bunyi menjadi tanda bahwa keputusan pindah terlalu berani.
Perutnya lapar. Makanan siang dari Wati telah habis dibagi bersama, dan ia belum mempunyai dapur yang siap dipakai memasak. Di dalam kardus ada perlengkapan makan pribadi serta beberapa benda yang memang dibawa, tetapi ia tidak memindahkan peralatan rumah Arhan seolah semuanya boleh menjadi miliknya. Ia mengambil dompet, mengunci pintu, dan berjalan ke tempat makan yang dilihat ketika memeriksa rute.
Perempuan penjual menyebut pilihan yang masih tersedia. Shania memilih satu porsi yang dapat dimakan segera, lalu meminta sedikit kuah dipisahkan agar tidak tumpah dalam perjalanan pendek. Sambil menunggu, ia melihat orang-orang yang datang mengambil pesanan keluarga. Ia sempat hendak menambah satu porsi karena terbiasa memikirkan orang lain yang mungkin belum makan, kemudian mengingat malam ini ia hanya perlu menyiapkan untuk dirinya.
Di toko kecil yang masih terbuka ia membeli air minum dan ketel listrik sederhana. Barang itu sudah masuk daftar kebutuhan awal, tetapi belum dibeli bersama kasur serta meja. Ia memeriksa harga dan keterangan pemakaian sebelum membayar, lalu membawa belanja tanpa menambah perabot lain. Besok ia dapat mencari apa yang sungguh diperlukan untuk memasak setelah melihat tempat penyimpanan dengan lebih tenang.
Saat kembali, ia meletakkan belanja pada meja dan mengunci pintu dari dalam. Ia memastikan pintu tertutup baik sebelum mengeluarkan makanan. Kebiasaan kecil yang dahulu dilakukan tanpa berpikir kini harus menemukan tempat baru: di mana menaruh dompet, di mana menggantung kunci, dan bagaimana menjaga meja tetap cukup luas untuk makan.
Shania duduk di alas lantai dengan satu piring. Suap pertama terasa terlalu panas dan membuatnya tertawa sendiri. Tidak ada orang yang mendengar, lalu kesunyian itu mendadak membuat matanya berair. Ia memandang kasur lipat yang belum ditutup seprai rapi. Rumah ini bukan gambar setelah semua kardus hilang. Ada nasi yang perlu dihabiskan dan tubuh yang mulai terasa pegal.
Ia membiarkan air mata turun sambil makan perlahan. Yang dirindukannya bukan pertengkaran atau kewajiban menunggu Arhan pulang, melainkan rasa akrab pada tempat yang telah ditinggalkan. Tangannya sempat meraih ponsel, kemudian berhenti untuk menentukan siapa yang ingin dihubungi. Ia memilih menghubungi Wati melalui panggilan video, sebab sejak siang ia ingin memberitahu bahwa barang sudah cukup tertata untuk beristirahat.
Wati menjawab setelah beberapa nada. Ia baru selesai makan dan menanyakan apakah Shania juga sudah makan. Shania mengangkat ponsel sebentar untuk menunjukkan piringnya, lalu mengaku nasinya terlalu panas tadi. Perempuan itu tertawa dan bertanya apakah lampu sudah menyala dengan baik. Mereka membicarakan tempat meletakkan pot, bukan cara mengisi rumah agar Shania tidak kesepian lagi malam itu.
'Aku masih belum terbiasa,' kata Shania.
'Ibu juga kadang begitu kalau rumah habis ramai lalu semua pulang.'
Mereka diam sesaat, sama-sama mendengar bunyi dari tempat masing-masing. Shania mengucapkan terima kasih atas makanan dan bantuan tadi. Ia berjanji mengabari besok setelah memeriksa rute ke kantor, lalu mengakhiri panggilan karena Wati ingin beristirahat. Rasa sepi tidak hilang seluruhnya, tetapi kini ia tidak sedang menghadapinya dengan menunggu seseorang memutuskan boleh pergi atau harus kembali.
Malam itu ia membersihkan alat makan, menaruh sampah pada wadah yang disiapkan, dan meratakan seprai. Kardus yang belum dibuka digeser ke satu sisi agar jalur menuju kamar mandi tidak terhalang. Ia mengambil tas dokumen, memeriksa tempat penyimpanan yang dipilih, lalu meletakkannya terpisah dari belanja agar tidak terbawa ketika kemasan dibuang.
Ketika berbaring, udara terasa berbeda. Ia bangkit sekali untuk mengatur jendela serta tirai, kemudian kembali ke kasur. Cahaya dari luar masih tampak tipis di bawah pintu. Ia mendengarkan sampai dapat membedakan bunyi kendaraan lewat dari suara langkah orang yang berjalan di depan. Tidak ada kejadian besar malam itu. Ia akhirnya tertidur dalam rumah kecil yang masih menyimpan bau pembersih dan kardus.
Minggu pagi, Shania terbangun lebih awal dari yang direncanakan. Sesaat ia mencari letak lemari yang biasa dilihat di kamar tamu, lalu menemukan rak pakaian barunya. Ia tertawa kecil, bangkit, dan menyeduh minuman dengan ketel yang telah dibersihkan sesuai petunjuk. Gelas diletakkan pada sisi meja yang dapat dijangkau tanpa menutup gambar.
Sesudah sarapan, ia mencoba perjalanan menuju perhentian yang akan dipakai Senin. Ia menghitung waktu berjalan secukupnya dan melihat tempat membeli kebutuhan sederhana di sepanjang rute. Seorang tetangga menyapanya ketika ia kembali dan bertanya apakah baru menempati rumah. Shania memperkenalkan diri, lalu menanyakan tempat meletakkan sampah rumah tangga. Orang itu menunjukkan lokasinya dan memberitahu waktu pengambilan yang biasa berlaku. Shania berterima kasih, mencatat hal yang perlu diingat, lalu melanjutkan beberapa langkah menuju pintunya sendiri. Ketika kembali, ia tidak perlu bertanya apakah alamat itu cukup layak untuk disebut pulang. Ia membuka pintu, menggantung kunci pada tempatnya, dan menuliskan satu daftar belanja yang sesuai dengan kehidupan seorang penghuni. Setelah kembali dari memeriksa perjalanan itu, ia mengabari Wati bahwa rute ke tempat kerja sudah dicoba. Wati membalas lega dan mengingatkan agar ia sempat makan sebelum membereskan sisa barang.
Pada siang hari ia mengabari Shinta bahwa malam pertama telah dilalui dengan makan panas, sedikit menangis, dan tidur cukup. Sahabatnya membalas dengan foto meja butik yang sedang berantakan. Shania tersenyum, lalu meletakkan ponsel untuk meneruskan pekerjaannya sendiri. Masih ada pakaian yang perlu digantung sebelum Senin. Ia memilih mengerjakannya sambil memutar lagu yang dapat didengar tanpa perlu meminta orang lain mengecilkan suara televisi.