Jumat sore, Shania menerima kunci kontrakan setelah memeriksa keadaan rumah bersama pemilik. Perbaikan yang disepakati telah dikerjakan. Ia mencoba kait pintu, menyalakan air, lalu mencocokkan keterangan penerimaan sebelum menyimpan kunci pada gantungan yang dibawa. Masa sewa mulai berjalan hari itu, sesuai pembayaran dan kesepakatan pekan sebelumnya.
Barang dari toko tiba setelah rumah dapat dibuka. Kasur lipat, meja kecil, dan rak pakaian dihitung serta diperiksa sebelum pengantar pergi. Shania meminta meja diletakkan di sisi yang tidak menghalangi pintu, kemudian menyapu debu yang masih ada. Ia membawa beberapa kain pembersih sendiri, mengelap tempat yang akan dipakai, lalu menutup rumah setelah memastikan barang aman ditinggalkan sampai esok.
Malam terakhir di kamar tamu dipakai menyelesaikan kemasan. Pakaian kerja dipisahkan dari barang yang belum segera diperlukan. Mahar serta dokumen penting masuk tas yang akan dibawa sendiri, bukan ke tumpukan kardus di kendaraan pengangkut. Lampu pemberian Wati dimasukkan ke kotaknya. Hadiah baju dan tas dari Shinta tetap menjadi barang pribadinya, bersama perlengkapan yang memang telah disepakati untuk dibawa.
Barang rumah diperiksa dengan Arhan pada malam yang sudah dijanjikan. Ranjang dan lemari tetap tinggal. Buku anggaran rumah yang dahulu dibuat Shania dipisahkan dari catatan keuangannya sekarang; bagian yang perlu diketahui penghuni rumah disampaikan tanpa menyerahkan seluruh catatan pribadi. Ada satu pot yang boleh dibawanya setelah ditanyakan. Ia memilih yang paling mudah dipindahkan dan menyiapkan alas agar tanah tidak tumpah.
Sabtu pagi, Shinta datang pada waktu yang ditentukan. Kendaraan pengangkut barang tiba tidak lama kemudian. Shania menunjukkan mana yang masuk kendaraan, mana yang dibawa sendiri, dan barang yang harus tetap di kamar. Mereka mengangkat kardus bergantian, menyisakan jalur berjalan agar tidak perlu melangkahi tas setiap kali kembali.
Arhan membantu memindahkan satu kardus setelah bertanya. Shania menerimanya, lalu meminta ia berhenti pada barang yang belum ditutup karena masih harus diperiksa. Ia tidak ingin berdebat tentang bantuan pada hari pindah. Ia ingin barang tiba lengkap dan semua orang tahu apa yang sedang dibawa. Shinta memeriksa daftar singkat sementara Shania mengambil tas dokumen dari kamar.
Di dekat taman samping, seekor kucing yang dikenalnya mendekat. Shania menaruh makanan pada tempat yang biasa dipakai sebelum membersihkan tangan. Ia telah berbicara dengan tetangga yang juga sering memberi makan di kompleks, sehingga kebiasaan itu tidak hanya bergantung pada apakah ia pulang ke alamat ini. Ia tidak menjanjikan datang setiap hari dengan alasan makanan kucing ketika sebenarnya belum mampu meninggalkan rumah.
Setelah barang terakhir diangkat, ia masuk sekali lagi untuk memeriksa kamar tamu. Laci kosong, rak sudah dibersihkan, dan tidak ada pengisi daya tertinggal di stopkontak. Ia menutup jendela menghadap taman samping. Dari ruangan inilah dahulu ia mulai menghitung hari sendirian, mencari pekerjaan, membaca panggilan, dan menyimpan akta yang kini berada di tasnya.
Shania membawa kunci rumah serta kamar tamu ke ruang tengah. Arhan menunggu dekat meja. Ia meletakkannya pada tempat yang dapat dilihat, lalu mengatakan seluruh barang yang disepakati sudah diangkat. Tidak ada amplop atau perhiasan yang diserahkan sebagai harga untuk boleh pergi.
'Kalau ada barangmu yang ternyata tertinggal, aku kabari,' kata Arhan.
'Terima kasih. Aku akan atur pengambilannya kalau memang ada.'
Pria itu mengangguk. Ia melihat gantungan kunci yang tidak lagi berada di tangan Shania, kemudian memandang wajahnya. Untuk beberapa detik, keduanya mendengar suara kendaraan dari luar tanpa menemukan percakapan yang perlu ditambahkan.
'Semoga tempatnya cocok,' katanya akhirnya.
Shania mengiyakan dan berpamitan. Ia berjalan keluar dengan tas sendiri, melewati teras, lalu masuk kendaraan Shinta. Arhan tetap di depan rumah ketika mereka berangkat. Shania tidak membuka kaca untuk melanjutkan pembicaraan yang sudah selesai. Dari jalan, rumah itu tampak seperti tempat yang pernah ditinggalinya, sementara kendaraan terus bergerak menuju alamat yang sudah dibayar atas namanya.
Di kontrakan, Shania membuka pintu dan menunjukkan letak barang kepada pengangkut. Ia memeriksa kardus sebelum pekerjaan pengantaran dinyatakan selesai, kemudian menyelesaikan pembayaran sesuai yang disepakati. Shinta membantu merakit rak sederhana, sementara Shania membuka pakaian yang perlu digantung agar tidak kusut. Mereka tertawa ketika satu kaki rak terpasang miring dan harus dibetulkan.
Wati tiba menjelang siang setelah memastikan Shania sudah sampai. Ia membawa makanan serta air minum yang memang diminta untuk membantu hari pindah. Perempuan itu berdiri sebentar di pintu, melihat ruangan, kemudian bertanya di mana makanan dapat diletakkan. Shania menunjuk meja kecil, menggeser satu kardus, dan mempersilakannya masuk.
Ketika pot dipindahkan dari dekat pintu, sedikit tanah tumpah ke lantai. Shania spontan meminta maaf, lalu berhenti ketika Wati tertawa dan bertanya mengapa ia meminta maaf di rumahnya sendiri. Mereka mengambil penyapu, mengumpulkan tanah ke alas, dan menggeser pot sebelum makanan dibuka. Shinta menahan kardus lampu agar tidak ikut tersenggol. Keadaan ruangan masih berantakan, tetapi kini ada tempat cukup bersih untuk duduk tanpa menginjak kemasan atau sisa tanah.
Mereka makan sebelum membuka semua kemasan. Di lantai ada alas sederhana, di meja ada lampu yang belum dipasang, dan pot berada dekat jendela. Wati menanyakan apakah satu sisi terlalu panas untuk tanaman tersebut. Shania berjanji memperhatikan sore nanti, lalu mengambilkan air tanpa merasa sedang memenuhi tugas sebagai menantu yang diuji.
Menjelang sore, pekerjaan yang harus dibantu orang lain selesai. Shinta memeriksa apakah Shania mempunyai nomor pemilik dan cukup uang kecil untuk kebutuhan mendadak. Wati mengajak mereka berfoto bersama di ruang depan. Shania setuju untuk disimpan pribadi; ia belum ingin menjadikan kepindahan sebagai pengumuman untuk semua orang yang pernah mengenalnya.
Setelah keduanya berpamitan, Shania menutup pintu dari dalam dan berdiri mendengarkan bunyi jalan lingkungan. Kunci kontrakan ada di tangannya, bukan salinan yang harus dikembalikan sebelum malam. Ia menaruhnya dekat tas, membuka kotak lampu, dan mulai menata sudut meja. Masih banyak kardus tertutup, tetapi ia dapat memilih mana yang dikerjakan sekarang dan mana yang boleh menunggu esok.