Memasuki bulan ketujuh sejak ucapan talak di rumah, Shania membuka catatan yang dibuat setelah ikrar di pengadilan. Lebih dari tiga bulan telah berlalu sejak peristiwa resmi itu. Acuan yang diterangkan kepadanya dalam proses perkara berbeda dari hitungan yang dahulu ditulis sendiri ketika pindah ke kamar tamu. Ia telah memeriksa kembali hal yang diragukan, menyimpan akta, dan kini dapat menyiapkan kepindahan pada waktu yang sesuai dengan keterangan bagi dirinya.
Tidak ada satu tanggal yang menghapus semua perasaan. Ia masih terbangun dengan mengenali langit-langit kamar yang sama, mendengar langkah dari lantai atas, lalu menyiapkan bekal pada dapur yang selama ini dipakai bersama. Namun ia sudah mempunyai pekerjaan dan simpanan, sementara keputusan tentang tempat tinggal tidak lagi menunggu dokumen yang belum terbit.
Shania menghubungi pemilik kontrakan yang pernah ditemuinya. Ia tidak menanyakan rumah lama seolah belum menerima kabar bahwa orang lain telah menyewa. Ia menerangkan sekarang sudah siap menentukan waktu dan ingin mengetahui apakah ada pilihan lain yang tersedia. Pemilik mengirim keterangan mengenai rumah berbeda di lingkungan yang sama, baru selesai dikosongkan penghuni sebelumnya.
Alamatnya tidak sama. Shania menyalinnya sebelum membuat janji melihat. Pada Sabtu pagi ia datang bersama Shinta yang memang sudah menyetujui waktu, membawa daftar kebutuhan yang kini lebih pendek. Cahaya, perjalanan ke kantor, dan biaya tetap masih menjadi pertimbangan. Ia tidak mencari ruangan yang persis seperti foto yang dahulu membuatnya kecewa.
Rumah yang baru diperiksa ini mempunyai pintu yang lebih dekat ke jalan lingkungan dan ruang depan yang sedikit berbeda bentuk. Ada bekas gantungan pada dinding, serta bagian lantai yang warnanya tidak seragam karena lama tertutup lemari. Shania berjalan dari pintu menuju dapur dan kembali, memastikan ia dapat menempatkan barang tanpa menutup jalur keluar. Jendela dibuka, keran dicoba, dan keadaan yang perlu dibereskan diperiksa bersama pemilik.
Shinta menunggu ketika ia menanyakan biaya. Kali ini Shania sudah membawa perhitungan yang sungguh dapat dipenuhi. Sewa dapat dibayar bulanan dengan ketentuan yang dijelaskan, disertai jaminan yang dicatat terpisah. Ia membaca bagian mengenai pembayaran berikutnya, keadaan rumah saat diterima, serta cara menyampaikan perbaikan yang menjadi urusan pemilik. Jika ada kalimat yang belum jelas, ia bertanya sebelum menyetujui.
Mulai sewa ditetapkan Jumat berikutnya. Ia ingin waktu singkat untuk membersihkan dan menerima barang sebelum pindah Sabtu, bukan membayar berbulan-bulan untuk rumah kosong. Pemilik menerima jadwal tersebut setelah memeriksa kesiapan perbaikan yang telah disepakati. Shania memastikan bagian yang masih harus dikerjakan tidak berubah menjadi janji lisan yang hanya diingatnya sendiri.
Sesudah seluruh ketentuan dipahami, ia menyelesaikan pembayaran yang disepakati dan memeriksa tanda terimanya. Dana berasal dari simpanan yang telah dipisah serta penghasilan yang benar-benar diterima. Ia tidak menambahnya dengan upah pesanan yang belum masuk atau menjual mahar karena takut kehilangan pilihan baru. Shinta berdiri di samping, tetapi tidak membayarkan kekurangan yang disembunyikan Shania.
Kunci akan diserahkan Jumat ketika rumah diperiksa kembali. Shania belum membawanya hari itu. Ia memotret keadaan yang disepakati bersama pemilik, menyimpan keterangan pembayaran, lalu mengucapkan terima kasih. Ketika keluar, ia berhenti di dekat gerbang untuk melihat arah menuju perhentian kendaraan. Langkah pertama dari alamat baru ternyata menuju urusan yang amat biasa: bagaimana berangkat kerja setiap pagi.
Mereka mencoba rute pulang yang akan dipakai Shania, kemudian makan sebelum Shinta kembali ke butik. Sahabatnya menanyakan apa yang paling ingin dilakukan pada malam pertama. Shania tertawa dan menjawab ingin mencari tempat untuk menaruh gelas tanpa harus memindahkannya setiap kali menggambar. Shinta mengatakan ia mungkin masih akan memindahkan gelas itu karena meja kecil juga perlu dipakai makan.
Percakapan itu membuat rencana terasa sungguh terjadi. Mereka membagi bantuan Sabtu: Shinta dapat hadir pada jam yang ditentukan, sementara pengangkutan barang akan dipesan sesuai jumlah yang perlu dibawa. Tidak semua barang di rumah Arhan termasuk milik Shania. Ia akan memisahkannya dahulu dan menanyakan bagian yang masih belum jelas, bukan meminta sahabatnya menyapu seluruh kamar ke dalam kardus.
Sebelum kembali ke rumah Arhan, Shania memesan kasur lipat, meja kecil, dan rak pakaian sederhana dari toko yang telah diperiksanya. Ia memilih barang yang dapat dibayar dalam anggaran awal, lalu menetapkan pengantaran Jumat setelah kunci diterima. Penjual meminta alamat lengkap dan nomor yang dapat dihubungi. Shania memeriksanya sebelum pesanan dicatat. Kamar tamu tidak akan dikosongkan dengan membawa ranjang atau lemari milik rumah itu; ia menyiapkan tempat tidur serta penyimpanannya sendiri.
Malam itu ia mengabari Wati mengenai alamat serta tanggal pindah. Perempuan itu bertanya apakah rumah sudah dilihat dan pembayaran dipahami. Shania menjawab satu per satu, lalu mengatakan ingin mengundangnya berkunjung setelah barang tertata. Wati mengiyakan. Kamar kosong di rumah ibunya tetap menjadi tawaran yang pernah disayangi, bukan alasan Shania perlu meminta maaf karena mempunyai alamat sendiri.
Ia juga memberi tahu Arhan secara langsung di ruang tengah. Pria itu mendengarkan tanggal yang disebut, lalu bertanya apakah ada barang besar yang perlu dibantu. Shania mengatakan akan mengurus pengangkutan dan meminta waktu mencocokkan barang sebelum hari itu. Mereka menyepakati malam yang tersedia. Arhan tidak mengubah perencanaan menjadi pertanyaan apakah keputusan berpisah masih dapat dibatalkan.
Di kamar tamu, Shania membuka lemari dan mengeluarkan kardus yang selama ini disimpan. Kotak lampu pemberian Wati berada di bawah meja. Ia menegakkannya kembali, memastikan cukup kuat untuk perjalanan pendek, lalu mulai memisahkan pakaian yang masih diperlukan bekerja pekan depan. Persiapannya kini mempunyai urutan yang dapat dijalankan, bukan koper yang ditutup ketika tangis terlalu keras.
Sebelum tidur ia menyimpan pembayaran sewa bersama dokumen pribadi. Akta cerai tetap berada pada tempat yang terlindung. Jumat ia akan menerima kunci setelah pemeriksaan, Sabtu ia akan meninggalkan kamar tamu. Ada sedih yang datang ketika menatap taman samping dari jendela, tetapi kali ini ia tidak perlu menggantinya dengan janji tinggal lebih lama. Ia mematikan lampu setelah menyiapkan pakaian kerja, membawa satu pekan terakhir menuju kepindahan yang benar-benar telah dipilih dan dibayar.