Pesan Shinta datang pada Kamis siang, meminta Shania mampir Jumat selepas kerja untuk bertemu calon pelanggan. Jadwal sudah disebutkan sebagai sesuatu yang pasti. Ketika Shania membaca lebih teliti, ia melihat nama pekerjaannya ikut dicantumkan pada penawaran butik, padahal ia belum pernah menerima pertanyaan tentang waktu atau jumlah rancangan yang harus disiapkan.
Ia menghubungi sahabatnya saat istirahat. Shinta sedang melayani orang dan meminta berbicara beberapa menit lagi. Shania menunggu sampai panggilan kembali, lalu menanyakan apa yang sudah dijanjikan. Jawabannya membuat ia berdiri dari tempat duduk: pertemuan Jumat, pilihan gambar pada akhir pekan, dan percobaan awal yang terlalu dekat dengan jadwal kantor.
'Aku sudah bilang pekan ini padat,' kata Shania.
'Aku tahu. Aku kira Jumat setelah kamu pulang masih bisa. Rancangan awalnya tidak harus rumit.'
'Kamu belum tahu apa yang perlu kukerjakan sampai Jumat. Kenapa sudah bilang aku yang menemui?'
Shinta terdiam. Ia mengatakan pelanggan ingin berbicara langsung dengan orang yang mengerjakan rancangan dan ia terlalu cepat menyanggupi. Ada uang awal yang sudah masuk untuk pemesanan. Shania menahan napas, menyadari penolakannya kini akan membuat orang yang belum pernah ditemuinya ikut kecewa.
'Aku tidak bisa datang Jumat. Gambar untuk pekerjaan kantor harus selesai diperiksa, dan aku tidak mau membawa pekerjaan butik ke jam itu.'
'Kalau sebentar saja?'
'Tetap tidak bisa. Jangan membuat lama pertemuan terdengar kecil supaya aku mengiyakan.'
Kata-kata itu keluar lebih tajam daripada yang direncanakannya. Shinta mengatakan ia sedang berusaha menjaga pelanggan yang datang karena melihat hasil kerja mereka. Shania menjawab ia juga menghargai itu, tetapi pesanan Raka selesai justru karena mereka membicarakan pembagian dan waktu sebelum menjanjikannya kepada pemesan. Sahabatnya tidak menjawab beberapa detik.
'Aku mengira karena dulu kamu selalu bisa membantu, kali ini juga begitu,' kata Shinta akhirnya.
'Dulu aku belum mempunyai jadwal seperti sekarang. Aku tetap ingin membantu. Tapi kamu tidak bisa memakai jawabanku yang dulu untuk setiap pekerjaan baru.'
Mereka mengakhiri panggilan tanpa tawa yang biasa. Shania kembali ke meja dengan tangan dingin. Ia hampir mengirim pesan bahwa ia akan mencoba datang agar hubungan mereka tidak terasa retak. Sebelum melakukannya, ia melihat gambar yang sedang menunggu pemeriksaan rekan. Ia tidak dapat menuntut orang lain menghormati penyerahan kerja jika dirinya sendiri sudah berniat melarikan sebagian waktu untuk janji yang tidak dibuatnya.
Sore itu Shinta mengabari ia telah menghubungi pelanggan. Ia menjelaskan kesalahan pemberian jadwal dan menawarkan pertemuan dengan tim butik atau waktu lain bersama Shania setelah dipastikan tersedia. Pelanggan tetap membutuhkan hari Jumat dan tidak bersedia mengganti orang yang diharapkan. Shinta memutuskan tidak meneruskan pesanan dengan janji yang tidak dapat dipenuhi.
Uang awal dikembalikan melalui rekening usaha sesuai kesepakatan pembatalan. Shinta mengirim konfirmasi setelah penerimaan diperiksa, bukan meminta Shania membayar kehilangan pelanggan. Ia juga menghapus nama Shania dari jadwal pesanan tersebut. Perempuan yang semula hendak datang memang kecewa, tetapi mendapat penjelasan sebelum meninggalkan pekerjaan dan melakukan perjalanan yang sia-sia.
Shania membaca kabar itu di kendaraan pulang. Ia mengucapkan terima kasih karena kesalahan disampaikan dengan jujur, kemudian mengatakan ingin bertemu Sabtu sebentar tanpa menerima pekerjaan baru. Shinta membalas bahwa ia akan menunggu setelah urusan pagi butik selesai. Tidak ada permintaan agar Shania menggambar sesuatu dahulu sebagai pengganti.
Pada Jumat, Shania menuntaskan pemeriksaan gambar sesuai waktu. Salah satu pilihannya masih perlu ditinjau lagi sebelum dapat dibawa pada tahap berikut. Ia menerima catatan tersebut dan menetapkan waktu mengerjakannya, bukan memindahkan semuanya ke malam ketika ia sudah kelelahan. Pekerjaan kantor tidak menjadi sempurna hanya karena ia telah menolak pekerjaan lain, tetapi setidaknya ia hadir untuk menjawab bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Sabtu siang, suasana butik terasa asing sesaat ketika Shania masuk. Shinta sedang merapikan gantungan dan memintanya duduk. Keduanya menunggu pelanggan lain selesai dilayani sebelum berbicara di belakang. Di meja tersedia dua gelas minum, salah satunya masih hangat karena dibuat ketika Shania mengabari sedang menuju ke sana.
'Aku salah sudah menjanjikan waktumu,' kata Shinta. 'Bukan cuma salah menghitung berapa menit kamu bisa mampir.'
Shania mengangguk. Ia mengatakan takut terdengar tidak berterima kasih ketika menolak, sebab begitu banyak hal dimulai dari bantuan sahabatnya. Shinta menggeleng dan menyebut bantuan itu bukan alasan dirinya mendapat hak mengisi jadwal Shania tanpa bertanya. Pernyataan tersebut tidak menghapus kerugian butik, tetapi membuat mereka dapat membicarakannya tanpa mengubah utang budi menjadi biaya tersembunyi.
Shinta mengaku ia sedang khawatir karena beberapa pesanan lain juga bergeser, sementara pekerjaan pegawai tetap perlu dibayar. Kesempatan yang datang membuatnya ingin segera berkata sanggup. Shania mendengarkan sampai selesai, lalu mengatakan ia tidak tahu keadaan itu ketika menerima pesan Kamis. Keduanya masih perlu berbicara terus terang, bahkan ketika jawabannya bukan bantuan yang langsung tersedia.
Mereka menata ulang cara menerima pekerjaan bersama. Nama Shania hanya akan dicantumkan setelah ia menyetujui lingkup serta waktu; pekerjaan yang dapat ditangani tim butik tidak harus selalu menunggu dirinya. Untuk pelanggan yang memang menginginkan rancangan langsung darinya, Shinta akan menyampaikan waktu yang tersedia sesudah menerima jawaban, bukan menyebut tanggal yang berharap dapat dikejar kemudian.
Sesudah itu mereka berhenti berbicara tentang aturan. Shinta mengambil dua bungkus makanan dan bertanya apakah Shania masih suka lauk yang dahulu sering dibeli ketika persiapan pameran. Shania tertawa, mengatakan ia tetap suka selama tidak terlalu pedas. Mereka makan di meja yang sama, masih sedikit canggung, tetapi tidak perlu saling menghibur dengan janji menerima pekerjaan sebanyak mungkin.
Menjelang pulang, Shania membantu mengangkat satu gulung kain yang menghalangi jalan. Ia melakukannya karena berada di sana dan bersedia, bukan karena harus membuktikan penolakannya kemarin tidak membuatnya menjadi orang lain. Shinta membuka pintu, mengingatkan membawa payung karena langit gelap. Shania mengambilnya dari tas dan melambai sebelum berjalan menuju kendaraan. Persahabatan mereka bertahan melalui satu pekerjaan yang benar-benar dibatalkan, bukan melalui kesanggupan yang dipaksakan sampai salah satu kehabisan tenaga.