Shania mengunjungi Wati pada Minggu yang mereka sepakati melalui pesan. Ia membawa buah secukupnya dan tiba sebelum waktu makan siang. Di ruang depan, perempuan itu sedang melipat seprai. Ada bantal tambahan pada kursi dan pintu salah satu kamar terbuka, memperlihatkan jendela yang baru dibersihkan.
'Ada yang akan menginap, Bu?' tanya Shania setelah meletakkan bawaan.
Wati tidak langsung menjawab. Ia merapikan lipatan yang sebenarnya sudah lurus, lalu mengatakan sedang menyiapkan kamar kosong. Shania ikut mengangkat bantal agar kursi dapat diduduki. Ketika ia hendak membawa seprai masuk, Wati menyentuh lengannya dan mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dahulu.
Mereka duduk di ruang depan. Bunyi kendaraan lewat terdengar dari luar, sementara makanan masih berada di dapur. Wati bertanya apakah pencarian tempat sewa sudah mendapat pilihan baru. Shania menjawab belum ada yang cocok untuk waktu serta biaya yang disiapkan. Rumah yang disukai memang sudah diisi orang lain, dan ia tidak hendak mengambil ruangan pertama hanya karena lebih murah.
'Kalau kamu tinggal di sini setelah siap meninggalkan rumah Arhan, bagaimana?' tanya Wati.
Shania menatap seprai di pangkuan perempuan itu. Ia baru memahami alasan kamar dibersihkan. Ada rasa hangat yang datang bersamaan dengan keinginan mundur, membuat ia kesulitan memberi jawaban sederhana. Ia pernah tinggal bersama keluarga ini pada awal pernikahan. Tawaran itu bukan alamat asing atau bantuan orang yang hanya ingin tahu kisah perceraiannya.
'Ibu sudah menyiapkannya untuk aku?'
'Baru dibersihkan. Belum berarti kamu harus bilang iya.'
Shania mengangguk, tetapi tenggorokannya terasa sempit. Wati mengatakan ia tidak akan meminta Shania mengurus Arhan atau kembali menjadi istrinya. Jika putranya datang, kedatangannya sebagai anak. Rumah tersebut bukan tempat menunggu sampai mantan menantunya dapat dibujuk berubah pikiran.
'Aku percaya Ibu tidak bermaksud begitu,' jawab Shania.
'Tapi kamu kelihatan takut.'
'Aku takut mengecewakan Ibu kalau jawabanku tidak seperti yang diharapkan.'
Wati meletakkan seprai di samping. Sesaat wajahnya tampak tersinggung, lalu ia menghela napas dan mengaku memang berharap Shania bersedia. Rumah terasa berbeda ketika ada orang yang dapat diajak berbicara tanpa perlu membuat janji melalui telepon. Ia merindukan suara di dapur, bukan hanya seseorang yang datang menanyakan kebutuhan lalu pergi lagi.
'Arhan sudah beberapa kali membantu,' katanya. 'Ibu senang dia datang. Tapi setelah dia pulang, ya begini lagi.'
Shania melihat ruang yang lengang di belakang mereka. Ia mengenal kesepian, tetapi tidak ingin menggunakan rasa itu untuk berjanji tinggal jika kemudian merasa sesak. Ia bertanya apakah Wati ingin tinggal bersama putranya. Perempuan itu menggeleng, mengatakan belum ingin mengubah hidupnya sejauh itu dan tidak mau semua urusan ditempuh sebagai cara menyatukan kembali rumah yang sudah pecah.
Percakapan berhenti ketika Wati berdiri memeriksa masakan. Shania mengikuti ke dapur, mencuci tangan, lalu membantu mengambil piring. Seprai ditinggalkan di kursi. Mereka makan tanpa langsung meneruskan tawaran, membicarakan buah yang ternyata belum terlalu matang dan jadwal pekerjaan Shania yang belakangan padat.
Wati menyisihkan lauk untuk dirinya sendiri sebelum menawarkan sisanya dibawa pulang. Shania mengambil sedikit, tidak seluruhnya. Ia bertanya apakah ibunya ingin ditemani berjalan sebentar setelah makan. Wati setuju jika tidak terlalu jauh. Keduanya keluar dengan langkah pelan, menghindari bagian jalan yang tidak rata.
Di dekat rumah, mereka berhenti ketika seorang tetangga menyapa. Orang itu bertanya apakah Shania sedang berkunjung dan ia menjawab iya. Wati tidak mengatakan sebentar lagi ia akan tinggal di sana. Jawaban itu membuat Shania sedikit lega; tawaran belum diubah menjadi pengumuman yang akan sulit dibatalkan tanpa mempermalukan siapa pun.
Sesudah kembali, Shania membantu menaruh piring yang sudah kering. Wati mengajak melihat kamar sebentar, jika ia bersedia. Ruangan itu cukup untuk ranjang dan tempat menyimpan pakaian. Tidak ada barang Shania yang diam-diam sudah dipindahkan dari rumah Arhan. Yang ada hanyalah ruang yang sungguh dapat digunakan jika ia memilih menerimanya.
Shania berdiri di dekat jendela. Ia membayangkan pulang kerja dan menemukan Wati menunggu makan, lalu sekaligus membayangkan dirinya menunda rencana karena tidak sanggup mengatakan sedang ingin sendirian. Semua itu belum tentu terjadi. Ketakutannya tidak adil jika dianggap bukti Wati pasti menuntut, tetapi tetap perlu didengar sebelum ia membawa koper.
'Aku boleh memikirkan dulu, Bu?' tanyanya.
'Boleh. Ibu tidak menyiapkan kamar untuk membuatmu terpojok.'
'Aku tahu. Aku juga tidak ingin bilang iya karena sedang menangis, lalu membuat Ibu lebih sedih ketika ternyata aku ingin tinggal di tempat lain.'
Wati menatapnya, kemudian mengangguk.
'Kalau nanti kamu memilih tempat lain, Ibu mungkin masih sedih,' katanya.
'Aku mengerti, Bu. Aku tidak meminta Ibu langsung senang. Aku cuma ingin kita tetap bisa bicara dengan jujur tanpa aku harus menjawab karena takut kehilangan Ibu.' Wati tetap duduk dengan tangan di pangkuan. Ia tidak segera memindahkan bantal keluar atau mengatakan lebih baik tidak menawarkan apa-apa. Shania duduk di tepi kursi dekat pintu, meraih tangan perempuan itu, dan berterima kasih karena masih menyediakan tempat setelah hubungan dengan Arhan berakhir.
Menjelang sore ia berpamitan. Wati menanyakan apakah perlu diantar sampai jalan, tetapi Shania mengatakan kendaraan dapat berhenti dekat rumah. Ia mengirim kabar ketika sudah naik, sesuai permintaan perempuan itu. Tidak ada salinan kunci yang dimasukkan ke tas sebagai cara mengikat jawaban sebelum ia sempat berpikir.
Di perjalanan pulang, Shania menerima pesan Shinta yang menanyakan kabar kunjungan. Ia membalas ada tawaran tinggal bersama Wati dan ia belum menjawab. Sahabatnya tidak langsung memilihkan. Ia menanyakan apakah Shania ingin bercerita, lalu mengatakan dapat mendengarkan malam nanti setelah butik tutup.
Shania memandang jalan dari balik jendela kendaraan. Ia tidak sedang memilih antara disayangi atau dibuang. Ada orang yang sungguh ingin dekat dengannya, dan justru karena itu ia perlu memberikan jawaban yang dapat dijalani. Ia menyimpan ponsel sampai tiba di rumah Arhan, membawa perasaan hangat serta ragu ke kamar tamu tanpa menganggap salah satunya harus segera disingkirkan.