Shania menghitung biaya awal kontrakan pada malam setelah kunjungan. Sewa bukan satu-satunya angka yang harus disiapkan. Ada perjalanan pindah, perlengkapan yang belum dimiliki, serta pembayaran kebutuhan sehari-hari ketika gaji berikutnya belum masuk. Ia membuka catatan dana yang diterima melalui perkara dan simpanan kerja, memastikan tidak menjumlahkan uang yang sama dari dua halaman berbeda.
Ia sebenarnya dapat membayar biaya awal dengan mengurangi sebagian besar simpanan. Yang membuatnya ragu ialah waktu. Ia belum berencana menempati rumah pada saat pemilik menginginkan masa sewa dimulai. Membayar sekarang berarti membiayai tempat kosong sambil masih menyiapkan kepindahan dan menyelesaikan waktu yang telah diputuskan untuk dijalaninya. Ia menulis sisa uang setelah kemungkinan itu, lalu menatap jumlah yang terlalu sedikit untuk membuatnya tenang.
Keesokan harinya ia menghubungi pemilik. Shania menanyakan apakah awal sewa dapat disesuaikan dengan rencananya, tanpa meminta rumah disimpan gratis sampai waktu yang belum dekat. Jawabannya jelas: tempat itu tersedia untuk orang yang dapat mulai menyewa lebih dahulu. Jika ia belum siap, ia boleh bertanya kembali, tetapi tidak ada kepastian rumah masih kosong nanti.
Shania mengucapkan terima kasih. Ia tidak mentransfer uang sebagai tanda jadi yang syaratnya belum disepakati. Ia menutup percakapan, kemudian duduk cukup lama memandangi foto jendela yang menghadap jalan. Cahaya di dalamnya masih membuatnya ingin berkata iya. Ia akhirnya memindahkan foto ke tempat menyimpan pilihan, bukan memasangnya sebagai gambar rumah yang sudah menjadi miliknya.
Senin di kantor, ia mulai mengerjakan penugasan baru dari hasil evaluasi. Dua bentuk lengan digambar untuk dibandingkan, tetapi ia belum memilih bahan sebelum kebutuhan geraknya jelas. Koordinator mengingatkan agar bagian yang pernah dikeluhkan pembeli dipakai sebagai pertanyaan, bukan satu-satunya alasan membuat semua ukuran lebih panjang. Shania mengubah salah satu pilihan sehingga perbandingannya benar-benar menunjukkan dua cara yang berbeda.
Ia bekerja sampai waktu istirahat, makan bekal, lalu kembali meninjau gambar dengan rekan. Ada perasaan lega karena kekecewaan tentang rumah tidak harus diselesaikan sebelum ia dapat bekerja. Di meja, ia masih dapat membuat keputusan kecil yang benar-benar akan dipakai hari itu. Ia menyerahkan pilihan sesuai jadwal dan menyimpan catatan yang tidak lagi saling bertentangan seperti salinan lama yang ditemukan pada evaluasi.
Dua hari kemudian, pemilik mengabari bahwa kontrakan yang dilihatnya sudah disewa orang lain. Shania sedang di perhentian kendaraan ketika pesan masuk. Ia membaca sambil memegang tas lebih erat, lalu membalas terima kasih telah diberi kabar. Ia meminta izin menghubungi lagi jika mendekati waktu pindah dan ingin mengetahui pilihan yang tersedia. Pemilik mengiyakan tanpa menjanjikan satu rumah tertentu.
Di perjalanan pulang, Shania merasa malu karena begitu sedih untuk alamat yang bahkan belum pernah ditinggali. Ia telah membayangkan meja, ranjang, serta wadah makan di dapur kecil. Kini semua itu harus dilepaskan dari satu ruang nyata. Ia tidak membuka aplikasi belanja atau mencari foto rumah yang lebih mahal untuk menutupi kekecewaan. Ia hanya menunggu sampai tempat turunnya tiba, lalu berjalan pulang dengan langkah lebih lambat.
Arhan sedang makan ketika ia masuk ke dapur untuk mengambil air. Ia menanyakan bagaimana pencarian tempat tinggalnya. Shania menjawab satu pilihan yang cocok sudah disewa orang lain karena ia belum siap memulai masa sewa. Ia tidak menguraikan seluruh saldo, tetapi cukup bagi pria itu untuk memahami bahwa penundaan bukan karena ia berharap tetap tinggal bersamanya.
'Kalau yang kurang biaya awal, aku bisa membantu,' kata Arhan.
Shania meletakkan gelas. 'Bagian yang perlu diselesaikan lewat perkara sudah kuterima. Aku sedang mengatur uang itu bersama penghasilanku. Aku belum ingin menerima tambahan.'
'Aku tidak sedang meminta apa-apa.'
'Aku mengerti. Tapi jawabanku tetap begitu. Aku perlu tahu berapa yang sanggup kutanggung setelah pindah, bukan cuma bagaimana membayar hari pertama.'
Arhan diam. Ia tidak mengulangi tawaran dengan jumlah yang lebih besar. Shania mengambil air dan duduk sebentar, membiarkan percakapan itu berhenti tanpa harus memenangkan perdebatan tentang maksud baik. Tidak semua bantuan yang ditolak berasal dari orang yang berniat buruk. Ada pilihan yang ingin dibuatnya agar kehidupan berikutnya dapat dipahami dengan jelas oleh dirinya sendiri.
Malam itu ia menghubungi Shinta dan memberitahu rumah kedua sudah tidak tersedia. Sahabatnya menghela napas kecewa, lalu bertanya apakah Shania ingin melihat pilihan lain pada akhir pekan. Ia menjawab akan memeriksa informasi lebih dahulu dan tidak ingin menghabiskan setiap libur dengan perjalanan tanpa janji. Mereka memilih satu waktu untuk mencari, menyisakan hari lain bagi istirahat dan pekerjaan yang telah disepakati.
Sesudah panggilan, Shania membuka kotak tempat perhiasan mahar disimpan. Benda-benda itu masih ada. Ia belum perlu menjualnya untuk mengejar rumah yang sudah diisi orang, dan ia tidak mengubahnya menjadi bukti bahwa semua dana harus berasal dari gaji. Yang sedang diputuskan bukan lomba membayar hidup dengan satu sumber uang, melainkan cara membuat biaya tetap sebanding dengan penghasilan yang dapat diandalkan.
Ia menutup kotak, menyimpannya kembali, lalu mencoret alamat yang tidak tersedia dari daftar aktif. Nama jalan itu tetap disimpan sebagai tempat yang pernah diperiksa, bersama alasan ia menyukainya. Kelak ia mungkin menemukan rumah lain yang serupa atau harus mengubah sebagian harapan. Untuk malam ini, tidak ada uang yang hilang karena ia terlalu cepat ingin memegang kunci.
Ia juga mengirim kabar kepada Wati bahwa pencarian belum menghasilkan tempat yang dapat dipakai. Perempuan itu membalas dengan menanyakan waktu berkunjung, bukan memintanya berhenti mencari. Shania menyebut hari yang mungkin, lalu menunggu konfirmasi sebelum menambahkannya pada jadwal.
Sebelum tidur, Shania membuka jendela kamar tamu sedikit. Udara taman masuk, membawa bau tanah yang basah. Ia masih di sini dan masih ingin pergi pada waktunya. Kehilangan satu pilihan membuat rencananya perlu dikerjakan lagi, tetapi tidak mengembalikan keputusan tentang hidupnya kepada Arhan. Ia menyiapkan ongkos esok, meletakkan wadah makan di dekat tas, dan mematikan lampu dengan daftar yang lebih pendek daripada malam sebelumnya.