Pada hari libur, Shania bertemu Shinta setelah butik dibuka. Seorang pegawai sudah siap menangani pekerjaan pagi sehingga sahabatnya dapat pergi sesuai waktu yang dijanjikan. Mereka membawa alamat dua tempat sewa dan janji melihat ruangan, bukan barang pindahan. Shania masih akan kembali ke kamar tamu Arhan malam nanti.
Tempat pertama berada di gang yang cukup jauh dari jalan kendaraan umum. Dari foto, kamarnya tampak terang dan meja kecil di dekat ranjang membuat Shania segera membayangkan ruang menggambar. Namun ketika pintu dibuka, ia melihat cahaya di dalam sebagian besar berasal dari lampu. Jendela menghadap dinding bangunan lain, menyisakan celah sempit yang sulit dipakai untuk menikmati udara.
Pemilik menjelaskan bagian rumah yang dapat digunakan bersama. Shania mendengarkan aturan mengenai dapur, tamu, serta tempat menjemur. Ia tidak keberatan berbagi beberapa fasilitas. Yang membuatnya berhenti ialah meja pada foto ternyata harus dipindahkan jika ia membawa barang lebih dari satu tas besar, sebab pintu lemari tidak dapat dibuka penuh.
Shinta masuk dan mengukur ruang dengan langkah pendek. Ia menggeser kursi setelah meminta izin. Benar saja, kursi akan menyentuh sisi ranjang ketika dipakai duduk menghadap meja. Ia mengatakan Shania masih dapat bekerja di tempat lain pada akhir pekan. Shania mencoba duduk sendiri dan membayangkan mengerjakan satu gambar setelah pulang kantor.
Pundaknya hampir menempel pada lemari. Ia berdiri lagi, berterima kasih karena sudah diperbolehkan melihat, lalu menanyakan letak akses kendaraan umum. Pemilik menunjukkan arah keluar gang. Shania meminta waktu berjalan ke sana sebelum memberi jawaban. Mereka meninggalkan ruangan setelah semua benda yang digeser dikembalikan pada tempatnya.
Jalan yang pada peta terlihat singkat ternyata melewati bagian yang tergenang setelah hujan. Shania memilih tepi yang lebih kering, tetapi sepatunya tetap terkena air ketika sepeda motor lewat. Shinta memegang lengannya sebentar agar ia tidak terpeleset. Sampai di jalan utama, keduanya berhenti di bawah atap toko untuk membersihkan bagian sepatu yang basah.
'Kalau kamu terburu-buru pagi, ini membuat repot,' kata Shinta.
Shania mengangguk. Harga sewa murah tadi belum memperhitungkan kemungkinan ia akan lebih sering memesan kendaraan agar tiba tanpa pakaian kotor. Ia membuka informasi yang disimpan dan menandai alasan tempat itu tidak dipilih. Pemiliknya tidak melakukan kesalahan dengan menyewakan ruangan tersebut; kebutuhan Shania saja tidak cocok di sana.
Mereka melanjutkan ke tempat kedua setelah mengabari waktu kedatangan. Kali ini yang ditawarkan sebuah kontrakan kecil, dengan ruang depan yang juga harus berfungsi sebagai tempat makan dan bekerja. Jendelanya menghadap jalan lingkungan. Tidak besar, tetapi ketika dibuka udara dapat masuk tanpa harus menyalakan lampu pada siang hari.
Shania berdiri cukup lama di dekat jendela sampai Shinta memanggilnya untuk melihat dapur. Ada bagian cat yang mengelupas dan satu kait pintu yang perlu diperiksa. Pemilik mencatat keadaan itu ketika ditunjukkan. Ia menjelaskan apa yang akan diperbaiki sebelum ditempati dan barang apa saja yang memang tidak termasuk dalam sewa.
Shania menanyakan air serta listrik, lalu memastikan kamar mandi dapat digunakan dengan baik. Ia mencoba membuka dan menutup pintu setelah diizinkan, mendengarkan bunyi dari jalan, dan mengukur dengan mata tempat menaruh meja yang sudah dibayangkan. Di rumah Arhan, ia mempunyai ruang yang lebih rapi. Di sini ia akan harus memikirkan sendiri bagaimana menempatkan ranjang, wadah pakaian, dan sudut kerja tanpa memenuhi jalur berjalan.
Shania mencoba menghubungi ponsel Shinta dari ruang depan untuk memastikan sambungan dapat digunakan. Suara sahabatnya terdengar dari dapur, lalu keduanya tertawa karena berbicara melalui telepon di rumah yang masih kosong. Ia menyimpan hasil pemeriksaan kecil itu bersama hal lain yang perlu ditanyakan.
Shinta melihat saluran air dan bertanya ke mana alirannya ketika hujan deras. Shania bersyukur sahabatnya memikirkan hal yang terlewat karena ia terlalu senang melihat jendela. Pemilik menunjukkan bagian luar dan menjelaskan keadaan yang diketahuinya. Mereka tidak menganggap satu jawaban dapat menggantikan seluruh pemeriksaan, tetapi sudah mempunyai hal yang perlu dipertimbangkan.
Ketika harga serta cara pembayaran disebut, Shania berhenti menghitung luas ruangan. Pengeluaran awal lebih besar daripada pilihan pertama. Ia menanyakan apakah dapat menerima keterangan biaya untuk dibaca kembali, termasuk pembayaran yang terpisah dari sewa. Pemilik memberikannya dan menjelaskan kapan rumah dapat mulai digunakan jika ada kesepakatan.
Shania belum bersedia menetapkan hari. Ia mengatakan masih mempersiapkan kepindahan dan belum ingin membayar untuk masa yang tidak akan dipakai. Pemilik mengingatkan bahwa ruangan tidak dapat disimpan tanpa batas jika ada orang lain yang lebih dahulu menyewa. Shania mengangguk. Ia menerima kemungkinan itu, meskipun meninggalkan jendela tadi terasa lebih berat daripada meninggalkan kamar pertama.
Di tempat makan setelah melihat kedua lokasi, Shinta menawarkan agar Shania tinggal bersamanya dahulu jika biaya awal belum cukup. Rumah sahabatnya memang mempunyai ruang, dan tawaran tersebut bukan gurauan. Shania meletakkan sendok sebelum menjawab. Ia ingin tawaran yang baik itu diterima dengan hormat, bukan ditolak seolah hidup dekat teman adalah kekalahan.
'Aku senang kamu menawarkannya,' katanya. 'Tapi aku ingin menghitung pilihan tempatku dulu. Kalau nanti benar-benar membutuhkan tempat sementara, aku akan bertanya lagi, bukan datang membawa koper tanpa kabar.'
Shinta mengangguk dan menggeser daftar biaya agar tidak terkena kuah. Mereka membandingkan harga sewa dengan ongkos perjalanan, lalu berhenti ketika makanan mulai dingin. Shania memesan minuman biasa, menahan keinginan menambah sesuatu hanya karena hari terasa melelahkan. Ia masih harus pulang dan memeriksa simpanan yang sungguh tersedia.
Sore itu Shinta mengantarnya sampai jalan dekat rumah Arhan. Shania turun membawa map tipis berisi keterangan dua tempat. Tidak ada kunci baru di dalam tas, tetapi ia kini tahu bagaimana tubuhnya akan bergerak di ruangan yang mungkin dipilih. Di kamar tamu, ia membuka jendela menghadap taman samping dan meletakkan daftar biaya pada meja. Ia menyukai rumah kecil yang dilihat tadi. Sebelum menyebutnya rumah sendiri, ia masih harus memastikan sanggup membayar kehidupan yang akan berlangsung di dalamnya.