Minggu pagi, Arhan tiba di rumah Wati sesuai waktu yang diberikan. Ia tidak membawa Atika dan tidak menanyakan apakah Shania akan datang. Setelah dibukakan pintu, ia melepas sepatu lalu mengangkat kantong kebutuhan rumah yang dibeli berdasarkan pesan ibunya. Wati memeriksa isinya sebelum menunjukkan tempat menyimpan, bukan langsung mengambil alih untuk membereskan semuanya.
Arhan salah memilih satu barang. Wati mengatakan ukuran kemasannya terlalu besar untuk tempat penyimpanan yang tersedia. Ia hendak menjawab bahwa isinya sama saja, kemudian melihat perempuan itu mengangkat kemasan dengan kedua tangan. Ia meletakkannya kembali dan mengatakan akan menukar jika toko mengizinkan. Bantuan yang menyulitkan pemakai tidak menjadi benar hanya karena ia merasa telah mengeluarkan uang.
Sesudah menyimpan barang lain, Wati menunjukkan keran yang menetes. Arhan memeriksanya dan menyadari ia tidak tahu bagian mana yang perlu diganti. Ia pernah mengatakan akan melihat ketika datang, tetapi selama itu hanya membayangkan pekerjaan kecil yang dapat selesai dalam beberapa menit. Di bawah bak terdapat wadah penampung air yang harus dikosongkan berkala.
'Ibu sudah lama begini?' tanyanya.
'Beberapa hari. Ibu tidak mau kamu membongkar kalau tidak tahu caranya.'
Arhan mengangguk. Ia menghubungi orang yang dapat memperbaiki melalui keterangan yang diperolehnya dari toko, lalu memastikan waktu kedatangan. Tidak ada cara membuat tukang datang seketika hanya karena ia sedang menyesal kepada ibunya. Mereka mendapat jadwal siang, sehingga ia membatalkan rencana pergi setelah satu jam.
Wati melirik ketika ia menyebutkan perubahan itu melalui ponsel. Arhan mengatakan ia akan menunggu dan membantu mengatur pekerjaan sampai selesai. Ibunya tidak memuji. Ia beranjak menyiapkan minuman, lalu meminta Arhan mengosongkan wadah yang hampir penuh. Pria itu melakukannya tanpa memanggil Shania untuk menanyakan di mana kain pel disimpan.
Mereka duduk di ruang depan sambil menunggu. Arhan akhirnya mengatakan hubungannya dengan Atika telah berakhir. Wati tidak langsung tersenyum lega. Ia meletakkan gelas dan menanyakan apakah itu berarti ia kini akan datang meminta ibunya mengajak Shania kembali. Arhan menggeleng, meskipun pertanyaan itu mengenai keinginan yang masih belum hilang sepenuhnya.
'Aku tidak datang untuk itu,' katanya. 'Aku ingin Ibu tahu dari aku sendiri.'
'Baik. Ibu mendengar.'
Arhan menunggu kalimat lain. Tidak ada pernyataan bahwa hidupnya sekarang pasti lebih baik atau bahwa semua kesalahan berasal dari Atika. Wati menatap tangan putranya, kemudian bertanya apa yang akan dilakukannya dengan rumah yang dulu tidak pernah dihargai. Arhan mengatakan ia sedang belajar mengurus bagian yang selama ini diserahkan kepada Shania.
'Jangan cuma karena dia masih tinggal di sana,' jawab Wati. 'Kalau dia sudah pergi, kamu tetap harus hidup tanpa menyuruh orang lain menanggung semua.'
Arhan mengangguk. Ia tidak menanyakan berapa lama ibunya masih akan marah. Dulu ia pernah meninggalkan rumah ini dengan keyakinan bahwa seorang anak tunggal akhirnya akan diterima apa pun yang dilakukannya. Sekarang ia melihat ada kekecewaan yang dapat berjalan bersama pintu yang kembali dibuka, tanpa otomatis hilang ketika ia duduk di kursi.
Matanya berhenti pada foto Mardi di ruang depan. Wati mengikuti pandangannya, lalu meraih kain untuk membersihkan debu pada bingkai. Arhan mengulurkan tangan dan ibunya menyerahkannya. Ia mengangkat bingkai dengan hati-hati, membersihkan bagian belakang, kemudian meletakkan kembali setelah Wati menunjukkan arah yang benar. Untuk beberapa saat mereka berdiri berdampingan tanpa berbicara tentang siapa yang pasti akan kecewa jika masih hidup. Arhan tidak meminta nama ayahnya dipakai untuk menguatkan penyesalannya. Ia hanya merapikan kain dan menyerahkannya kembali.
Menjelang siang, orang yang ditunggu datang. Arhan mendampingi pemeriksaan dan mendengarkan penjelasan sebelum menyetujui pekerjaan yang diperlukan. Ia membayar bagian perbaikan yang dimintanya dilakukan, lalu memastikan keran tidak lagi menetes. Wati mencoba sendiri, memutar perlahan dan melihat apakah tangan serta pergelangannya nyaman menggunakannya.
Sesudah tukang pergi, Arhan membersihkan sisa air dan memindahkan wadah ke tempat semula. Ia menemukan satu lap terlalu basah untuk dipakai mengeringkan, lalu mengambil yang lain setelah bertanya. Wati mulai menyiapkan makan siang. Ketika ia hendak duduk menunggu, perempuan itu memintanya mengambil piring serta menata tempat makan.
'Aku tidak tahu Ibu mau makan di mana,' katanya.
'Kalau tidak tahu, tanyakan. Jangan langsung menunggu semua selesai.'
Arhan berdiri lagi dan bertanya. Mereka memilih meja yang tidak terlalu dekat dengan cahaya panas dari jendela. Tidak ada masakan khusus yang dipesan untuk menandai kepulangannya sebagai anak baik. Mereka makan apa yang telah disiapkan, lalu Arhan membawa piring kotor ke tempat cuci.
Sore hari ia pergi menukar barang yang tidak cocok ke toko. Kemasan masih utuh, dan setelah memeriksa bukti pembelian toko mengizinkan pertukaran sesuai ketentuannya. Arhan kembali dengan pilihan yang lebih mudah dipakai Wati, bukan sekadar lebih besar. Ia meminta ibunya menunjukkan apakah sekarang sudah dapat disimpan sebelum meninggalkan kantong di dapur.
Wati mengangguk. Saat pria itu hendak pulang, ia mengatakan minggu depan perlu membeli beberapa kebutuhan lain. Arhan menyebut waktu yang benar-benar dapat dihadirinya dan meminta daftar lebih dahulu. Ia tidak menjanjikan datang kapan saja hanya agar wajah ibunya menjadi lebih lunak. Wati menerima waktu itu, lalu mengingatkan agar ia tidak membatalkan tanpa kabar.
'Kamu tetap anak Ibu,' katanya setelah jeda. 'Tapi Ibu tidak akan mengatakan pilihanmu dulu benar.'
'Aku tahu, Bu.'
Arhan mencium tangannya. Wati menepuk lengannya sekali, lalu melepaskan. Hubungan itu tidak kembali seperti sebelum ia memperkenalkan Atika sebagai rencana hidup baru. Namun hari ini ia telah datang, menunggu, membetulkan sesuatu dengan bantuan yang tepat, dan pulang tanpa membawa pesan untuk Shania.
Di rumahnya sendiri, Arhan menaruh bukti pembayaran perbaikan bersama pengeluaran yang harus dicatat. Kamar tamu tertutup. Ia mendengar suara Shania dari balik pintu sedang berbicara dengan seseorang, lalu meneruskan langkah ke dapur. Ia perlu menyiapkan makan malam dan membaca berkas untuk Senin. Tidak ada cerita tentang hari bersama Wati yang dipakai untuk meminta perempuan itu kembali menilainya sebagai suami.