Sabtu siang, Arhan mengirim pesan sebelum berangkat ke apartemen Atika. Balasan datang setelah beberapa menit, mengatakan barangnya sudah siap dan ia dapat datang pada waktu yang disepakati. Ia membaca pesan itu dua kali sebelum mengambil kunci kendaraan. Tidak ada alasan membawa makanan atau menambahkan rencana singgah seharian.
Di dalam lift, ia berpapasan dengan orang yang pernah beberapa kali melihatnya datang. Orang tersebut mengangguk seperti biasa. Arhan membalas tanpa menjelaskan apa pun. Ia baru menyadari betapa banyak ketakutannya mengenai perpisahan berisi bayangan tentang penilaian orang lain, sementara urusan yang harus diselesaikan berada di balik satu pintu yang belum diketuknya.
Atika membuka setelah bel pertama. Barang-barang Arhan diletakkan dekat pintu, tidak di kamar. Perempuan itu mengenakan pakaian rumah dan tampak kurang tidur. Ia tidak mengajaknya duduk di tempat yang sama seperti malam perpisahan. Arhan menanyakan apakah boleh memeriksa agar tidak ada yang harus dicari lagi sesudah hari itu.
Atika mengangguk. Ia menyebut pakaian yang sebelumnya telah dibawa, lalu menunjukkan barang yang tersisa: perlengkapan mandi, pengisi daya, dan beberapa benda kecil yang selama ini tertinggal. Arhan memeriksa tas dengan terburu-buru sampai kabel tersangkut pada resleting. Atika menunggu tanpa membantu melepaskannya seperti dahulu.
Ketika semuanya cocok, Arhan menutup tas dan membuka keterangan pengeluaran yang telah dikirim Atika. Mereka memeriksa bagian yang memang sudah dijanjikannya sebelum hubungan diakhiri. Ada satu pembelian yang tidak termasuk kesepakatan; Arhan mengatakan tidak akan membayarnya sebagai kewajiban baru. Atika sempat membantah, lalu membuka percakapan lama untuk memastikan apa yang benar-benar pernah dikatakan.
'Aku mengira kamu setuju waktu itu,' katanya.
'Aku tidak mengatakannya dengan jelas. Untuk yang ini aku tidak bisa mengambilnya sekarang.'
Percakapan itu berlangsung lebih lama daripada pemeriksaan tas. Mereka tidak sepakat hanya supaya Arhan cepat pergi. Pada akhirnya Atika menerima bahwa pembelian tersebut merupakan pilihannya sendiri, sedangkan bagian yang memang telah dijanjikan Arhan tetap harus diselesaikan. Pria itu mentransfer sisanya dan menunggu sampai penerimaan dikonfirmasi.
Ia tidak mengurangi jumlah dengan menghitung ulang hadiah atau transfer sewa lama. Bukti tiga puluh juta tidak dibuka untuk menakuti Atika agar menerima semua perkataannya. Setelah pembayaran selesai, mereka menyimpan keterangan masing-masing. Tidak ada janji pembiayaan bulan berikutnya yang dibiarkan menggantung sebagai alasan untuk terus menghubungi.
Sebelum pemeriksaan barang berakhir, Atika menanyakan foto mereka yang masih ada di ponsel Arhan. Ia tidak ingin gambar itu dipakai untuk bercerita kepada orang lain ketika pertengkaran mereka dibicarakan. Arhan mengatakan tidak akan menyebarkannya. Ia menghapus salinan yang ditunjukkan Atika, lalu menyimpan kembali ponsel tanpa meminta melihat seluruh galeri milik perempuan itu sebagai balasan. Atika mengucapkan terima kasih pelan, kemudian berdiri. Itu bukan tanda ia sudah memaafkan, hanya satu permintaan yang dapat mereka selesaikan tanpa pertengkaran baru.
Atika memeriksa ruang sebentar dan kembali membawa selembar kertas catatan yang pernah dibuat Arhan. Ia menyelipkannya ke tas, lalu mengatakan tidak ada lagi barang yang diketahuinya tertinggal. Arhan mengucapkan terima kasih. Ucapan tersebut terdengar kecil di antara seluruh hal yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula.
'Kalau menemukan yang lain, aku kirim kabar untuk pengambilan,' kata Atika. 'Bukan untuk datang mendadak.'
'Aku mengerti.'
Arhan mengangkat kedua tas. Atika menahan pintu agar tidak menabrak barangnya, kemudian melepaskan begitu ia melewati ambang. Tidak ada pelukan terakhir. Ia berjalan menuju lift tanpa menoleh sampai pintu di belakangnya tertutup.
Sore itu ia bertemu Ardi di tempat makan yang mereka pilih sebelumnya. Tas dibiarkan di kendaraan. Arhan mengatakan hubungannya dengan Atika telah berakhir dan urusan barang serta pembayaran sudah ditutup. Ardi mendengarkan sambil menggeser gelas dari tepi meja. Ia tidak menyambut kabar itu dengan tawa kemenangan atau mengatakan akhirnya Arhan dapat memperbaiki semuanya bersama Shania.
'Aku ingin pulang ke keadaan dulu,' kata Arhan setelah lama diam.
'Keadaan yang mana? Yang kamu punya istri, atau yang kamu tidak harus memikirkan akibat pilihanmu?'
Arhan tidak segera menjawab. Ia mengaduk minuman yang sebenarnya sudah tercampur. Ardi menunggu, kemudian menyebut kembali cara Arhan dahulu membicarakan Shania ketika mengejar Atika. Bukan untuk memperpanjang penghukuman, tetapi karena kalimat tentang kembali seperti dulu terlalu mudah menghapus siapa yang telah diminta pergi.
'Aku tidak akan menghubunginya untuk membujuk,' kata Ardi. 'Kalau kamu mau bicara dengan dia suatu saat, jangan lewat aku dengan alasan kamu sedang sedih.'
'Aku tidak memintamu begitu.'
'Baik. Aku ingin itu jelas sebelum kita memikirkan hal lain.'
Arhan mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka kontak Shania yang masih tersimpan. Sesaat jarinya berhenti pada layar, lalu ia menutupnya dan menyimpan ponsel kembali tanpa mengirim pesan. Mengakhiri hubungan lain tidak mengubah penolakan yang pernah diterimanya. Ia belum tahu bagaimana hidup sendiri tanpa menjadikan orang lain penyangga setiap malam yang terasa buruk.
Percakapan mereka beralih kepada pekerjaan. Laporan koreksi biaya acara sudah diterima untuk pemeriksaan lanjutan, dan Arhan harus menjawab pertanyaan yang masih tersisa pada Senin. Ardi menyebut bagian yang perlu dibawa, bukan menawarkan mengerjakan semuanya. Arhan mencatat dengan ponselnya sendiri. Ia tidak memesan makan tambahan hanya untuk menunda waktu pulang.
Dalam perjalanan, ia menghubungi Wati. Ia mengatakan ingin datang pada Minggu untuk membantu pekerjaan rumah jika ibunya bersedia. Wati bertanya urusan apa yang hendak dibicarakan. Arhan menjawab tidak akan datang membawa permintaan agar Shania dipanggil. Ada barang yang perlu diperiksa di rumah ibunya dan ia ingin menemuinya sebagai anak.
Wati diam sejenak, lalu memberikan waktu. Ia tidak mengatakan seluruh kekesalannya sudah hilang. Arhan mengucapkan terima kasih dan menyimpan telepon. Sampai di rumah, ia membawa kedua tas ke kamarnya, memisahkan pakaian yang perlu dicuci, serta membuang kemasan kosong ke tempat sampah. Tidak satu pun tas ditinggalkan di lorong sebagai pekerjaan untuk Shania. Hari itu memang berakhir dengan lebih sedikit barang tertinggal di apartemen Atika, tetapi akibat hubungannya tidak dapat dirapikan semudah isi tas.