Menjelang akhir bulan keempat sejak talak di rumah, Arhan meminta bertemu Atika. Sesudah percakapan di toko cincin, keduanya hanya bertukar pesan singkat. Ia tidak datang tanpa pemberitahuan. Atika menjawab bahwa mereka dapat bicara di apartemen pada malam yang dipilih, lalu menanyakan apakah Arhan akan membawa jawaban atau alasan baru.
Arhan tiba tanpa makanan dan tanpa hadiah. Ia menekan bel, menunggu sampai pintu dibuka, kemudian masuk ketika dipersilakan. Di dekat meja ada tas berisi beberapa pakaiannya. Atika melihat arah pandangnya dan mengatakan ia sudah mengumpulkannya agar tidak tercampur dengan barang lain. Pria itu mengangguk, tetapi belum meraih tas.
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada televisi menyala untuk mengisi jeda. Atika menaruh ponsel di sisi kursi dan bertanya apakah ia masih ingin menikah dengannya. Pertanyaan itu kembali diberikan tanpa gambar cincin atau orang yang berlalu di koridor. Arhan tidak dapat lagi menunggu suara lain mengalihkan pembicaraan.
'Aku tidak bisa meneruskan janji itu,' jawabnya.
Atika menatapnya lama. 'Tidak bisa sekarang, atau tidak ingin?'
'Aku tidak ingin meneruskan hubungan ini dengan menjanjikan pernikahan yang tidak benar-benar kupilih.'
Kata-kata tersebut membuat wajah Atika menegang. Ia bangkit menuju dapur, mengambil air, lalu kembali tanpa menawarkan gelas kedua. Arhan membiarkannya melakukan itu. Ia tidak berusaha mengganti jawaban dengan sesuatu yang terdengar lebih lembut tetapi membuat Atika harus menunggu lagi.
'Jadi setelah semua yang terjadi, aku yang ditinggalkan,' katanya.
'Aku tahu aku menyakitimu juga.'
'Jangan mulai dengan kalimat yang cocok dipakai kepada siapa saja.'
Arhan menunduk. Atika benar bahwa pengakuan umum tidak menerangkan pilihan yang dibuatnya. Ia mengatakan dulu menikmati perasaan diinginkan kembali oleh seseorang dari masa lalunya. Ia membawa keluhan tentang rumah tangga kepada Atika, mengabaikan apa yang sudah dikerjakan Shania, dan membayangkan kehidupan baru tanpa memikirkan siapa yang harus menanggung kebohongannya.
'Aku membuatmu percaya semua akan mudah setelah aku bercerai,' katanya. 'Aku yang menawarkan banyak hal. Kamu tidak menulis janji itu atas namaku.'
Atika memegang gelas dengan kedua tangan. Ia bertanya apakah Arhan sekarang ingin kembali kepada Shania. Pria itu terdiam sebentar, bukan untuk menyusun kemungkinan yang dapat menyenangkan Atika, melainkan karena ia sendiri belum sanggup memandang kehilangan tersebut dengan jernih.
'Aku kehilangan sesuatu yang dulu kuremehkan. Tapi Shania sudah memilih berpisah. Aku tidak punya hak mengatakan dia akan menerimaku.'
'Itu tetap bukan jawaban tentang apa yang kamu inginkan.'
'Aku masih menyesal. Aku tidak mau menjadikan kamu tempat menunggu sampai aku tahu apa yang bisa kudapatkan lagi.'
Atika tertawa pendek, lalu mengusap wajah. Untuk beberapa saat ia tampak ingin melemparkan gelas, tetapi meletakkannya di meja. Ia mengatakan mengetahui Arhan sudah beristri sejak hubungan mereka dimulai. Ia pernah membiarkan dirinya percaya bahwa keinginan Arhan cukup untuk membenarkan semua yang lain. Panggilan kepada Shania dari ponsel pria itu bukan sesuatu yang dilakukan orang yang tidak tahu ada perempuan lain di rumah.
'Aku tahu dia ada,' katanya pelan. 'Aku memilih tidak peduli seperti apa rasanya bagi dia.'
Arhan mengangkat wajah. Ia tidak menyambut pengakuan itu sebagai kesempatan membagi kesalahan agar bebannya berkurang. Ia menjawab bahwa dirinya tetap orang yang mempunyai pernikahan dan mengkhianatinya. Tidak ada permintaan agar Atika menghubungi Shania malam itu untuk memperbaiki citranya.
Mereka kembali pada pertanyaan yang paling sulit. Atika mengatakan ia tidak ingin menerima kunjungan hanya ketika Arhan merasa kesepian. Ia juga tidak mau menjadi tempat pria itu membandingkan siapa yang lebih baik mengurus rumah atau mengerti kebutuhan suami. Jika hubungan akan selesai, ia ingin keputusan itu benar-benar dijalankan, bukan dibatalkan ketika mereka bertemu lagi di akhir pekan.
'Arhan, aku masih marah,' katanya. 'Aku tidak akan bilang tidak apa-apa supaya kamu pulang lega.'
'Aku tidak memintamu bilang begitu.'
'Lalu kita selesai?'
Arhan mengangguk. 'Kita selesai.'
Atika memalingkan wajah. Kalimat yang hanya terdiri dari beberapa kata itu membuat seluruh ruangan terasa berbeda. Tidak ada lagi rencana singgah besok yang dapat menutupi percakapan. Arhan melihat tas pakaiannya, kemudian meminta memastikan barang dan urusan biaya yang masih perlu ditutup tanpa mencampurkannya dengan pemberian lama.
Atika menyebut beberapa kebutuhan yang sudah dijanjikannya sebelum pertemuan itu. Arhan meminta rincian agar ia dapat memeriksa dan menyelesaikan bagian yang memang telah disepakati. Ia tidak meminta kembali transfer tiga puluh juta atau barang yang diberikan sebagai hadiah. Ketika Atika bertanya apakah ia sedang berusaha membeli perpisahan yang tenang, Arhan mengatakan tidak ada pembayaran yang mewajibkannya berhenti marah.
Atika menunjuk satu tas kecil di rak dan bertanya apakah benda itu juga ingin dibawa Arhan. Hadiah tersebut pernah diterimanya ketika mereka masih mudah tertawa bersama. Arhan menggeleng, mengatakan barang itu milik Atika untuk disimpan atau diberikan kepada orang lain. Atika tidak segera mengambilnya. Ia hanya memindahkan gelas dari meja agar tidak tersenggol tas pakaian ketika pria itu berdiri.
Mereka sepakat Arhan mengambil sisa barang pada Sabtu, setelah Atika mempunyai waktu memisahkan semuanya. Ia akan mengabari sebelum datang dan tidak masuk jika belum mendapat jawaban. Malam itu ia hanya membawa tas yang sudah disiapkan. Atika berdiri di dekat pintu, tidak mengantarnya sampai lift.
'Jangan datang membawa janji yang berbeda minggu depan,' katanya.
'Aku tidak akan begitu.'
Pintu ditutup setelah Arhan keluar. Ia berdiri sebentar dengan tas di tangan, mendengarkan bunyi lift yang bergerak dari lantai lain. Ia tidak mengirim pesan tambahan untuk meminta Atika memahami maksud baiknya. Yang baru saja dilakukan bukan memperbaiki perselingkuhan yang telah terjadi; ia hanya berhenti meneruskannya.
Dalam perjalanan pulang, ia mematikan musik dan membiarkan jalanan terdengar. Ia tidak menelepon Shania atau mengabarkan bahwa sekarang dirinya sendiri. Putus dari Atika bukan undangan bagi mantan istrinya untuk mengisi ruang kosong. Ketika tiba di rumah, ia membawa tas ke kamarnya sendiri dan mengeluarkan pakaian satu per satu, tanpa meninggalkannya di depan kamar tamu untuk dibereskan orang lain.