Pesanan kelompok Raka diserahkan pada Sabtu menjelang siang. Shania sudah datang ke butik setelah sarapan, memeriksa pakaian bersama penjahit sebelum pemesan tiba. Perubahan bahu yang dilakukan pada jadwal mencoba pengganti telah diselesaikan. Mereka menggantung pakaian sesuai nama pemakainya, tidak mengandalkan ingatan tentang siapa yang mempunyai ukuran hampir sama.
Raka datang bersama beberapa anggota. Yang lain sudah memastikan penerimaan melalui pengaturan yang disepakati dengan Shinta. Pakaian tidak langsung dimasukkan ke kendaraan. Orang-orang yang hadir mencoba lagi, menanyakan bagian yang belum dimengerti dan memeriksa hasil perubahan. Shania menunjukkan cara membuka pengait kepada seorang pemakai yang semula menariknya terlalu keras.
Perempuan yang bahunya diperbaiki mengangkat tas ke pundak, lalu tersenyum di depan cermin. Ia mengatakan sekarang tidak merasa harus mengangkat satu lengan lebih dahulu agar pakaian tidak tertarik. Shania meminta ia menurunkan tas dan mencoba duduk sekali lagi. Sesudah semuanya selesai, barulah penjahit membantu merapikan dan membungkus.
Shinta mencocokkan pekerjaan yang diserahkan dengan kesepakatan harga. Raka menyelesaikan sisa pembayaran melalui rekening usaha butik. Mereka memeriksa konfirmasi sebelum pesanan dinyatakan selesai. Tidak ada potongan mendadak karena ia mengenal Shania atau tambahan biaya yang baru disebut ketika barang hendak dibawa pergi.
'Aku akan kirim foto waktu acaranya kalau mereka bersedia,' kata Raka.
'Boleh. Untuk dipakai butik, minta persetujuan mereka dulu,' jawab Shinta.
Shania menambahkan terima kasih, lalu membantu membawa satu kantong sampai dekat pintu. Raka tidak mengubah penyerahan itu menjadi ajakan pergi berdua. Ia mengatakan akan menghubungi melalui butik jika ada kebutuhan lain. Setelah kendaraan berangkat, Shania kembali ke meja tempat gambar awal mereka masih tersimpan.
Sore itu Shinta menyelesaikan bagian upah Shania sesuai pekerjaan yang telah ditetapkan. Pengeluaran bahan dan jahit tidak dicampurkan dengan uang yang diterima sahabatnya. Shania memeriksa, kemudian menyimpan bukti. Ia mengajak Shinta makan sederhana seperti yang dijanjikan ketika mengambil akta, bukan menghabiskan seluruh bagian upah untuk merayakan satu pesanan.
Di sela makan, Shania mengatakan esok ia akan mengunjungi yayasan tempatnya dahulu dirawat. Ia sudah menghubungi pengasuh yang dikenalnya untuk memastikan waktu. Kabar perceraiannya belum disampaikan secara lengkap. Selama beberapa pekan ia menunda, takut kesedihan orang yang menyayanginya terasa seperti perintah agar ia kembali.
'Kamu mau ditemani?' tanya Shinta.
'Aku ingin datang sendiri dulu. Nanti kukabari kalau sudah sampai.'
Shinta mengangguk dan menanyakan apakah Shania perlu membawa sesuatu dari butik. Ia memilih tidak membawa pakaian yang belum jelas cocok bagi penerima. Ada barang kebutuhan yang sudah ditanyakan lebih dahulu, dibelinya secukupnya dari uang sendiri. Ia tidak ingin muncul dengan banyak kantong untuk menyembunyikan alasan sebenarnya datang.
Minggu pagi Shania berangkat setelah menyiapkan perjalanan pulang. Di tempat tujuan, pintu dibuka oleh orang yang dikenalnya. Pengasuh itu memandang wajahnya lebih lama sebelum memeluk, lalu bertanya apakah ia sempat makan. Pertanyaan tersebut membuat Shania ingin menangis lebih cepat daripada sambutan yang berlebihan.
Ia meletakkan bawaan dan duduk. Ada kegiatan yang harus diselesaikan lebih dahulu, sehingga ia menunggu di ruang yang ditunjukkan. Dari tempat itu ia mendengar anak-anak berebut giliran meminjam pensil warna. Salah seorang datang mencari warna yang tertinggal di bawah kursi. Shania membantu mengambilnya, lalu mengembalikan tanpa meminta anak itu duduk mendengarkan kisahnya.
Setelah urusan pengasuh selesai, mereka berbicara di tempat yang lebih tenang. Shania menceritakan pekerjaan, pameran, dan perkara yang akhirnya telah diselesaikan. Ia tidak memulai dengan mengatakan dirinya gagal menjadi istri. Ketika menyebut hubungan Arhan dengan perempuan lain, suaranya pecah. Ia berhenti, mengambil air, lalu melanjutkan sampai orang yang mendengarnya mengetahui bahwa perpisahan itu bukan ancaman yang masih akan dibatalkan sore nanti.
Pengasuhnya tampak terkejut dan sedih. Ada pertanyaan mengapa ia baru bercerita setelah lama menanggungnya. Shania menjawab ia takut orang yang dahulu membesarkannya mengira semua perhatian mereka terbuang karena hidupnya tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Ia tahu ketakutan itu tidak sepenuhnya adil kepada orang di depannya, tetapi itulah yang membuat panggilan berkali-kali ditunda.
'Kamu sedang sakit hati. Bukan berarti kamu tidak boleh pulang membawa kabar buruk,' kata perempuan itu.
Shania menunduk. Ia tidak menerima pidato bahwa perceraian membuat semua menjadi mudah atau bahwa ia harus segera menemukan suami lain. Mereka membicarakan tempat tinggalnya sekarang, alasan ia belum pindah, dan pekerjaan yang sedang dipertahankan. Pengasuh bertanya apakah ia mempunyai orang yang dapat dihubungi jika membutuhkan bantuan. Shania menyebut Shinta dan Wati, menjelaskan hubungan dengan ibu Arhan tetap dijaga tanpa kewajiban kembali kepada putranya.
Pembicaraan terputus ketika seorang anak membutuhkan bantuan mengancingkan pakaian. Pengasuh hendak bangkit, tetapi Shania meminta izin membantu. Kancingnya tidak sulit; lubangnya yang tertarik karena dipaksakan. Ia membetulkan posisi kain, kemudian menunjukkan perlahan agar anak itu dapat mencoba sendiri. Sesudah berhasil, anak tersebut langsung berlari kembali tanpa mengucapkan sesuatu yang luar biasa.
Shania tertawa kecil. Ia menanyakan apakah beberapa pakaian yang memerlukan perbaikan ringan dapat dikumpulkan untuk dilihat pada kunjungan lain. Ia tidak menjanjikan seluruhnya selesai hari itu. Pengasuh mengiyakan, lalu mengingatkan agar ia juga menyisihkan waktu istirahat. Kesediaannya membantu diterima sebagai kemampuan yang kini dimiliki, bukan pembayaran karena dahulu pernah diasuh.
Menjelang pulang, Shania mengirim kabar kepada Shinta bahwa ia sudah selesai berkunjung dan akan menempuh perjalanan kembali. Ia memeluk pengasuhnya, kali ini tanpa merasa harus menyerahkan uang lebih banyak agar berita perceraiannya terdengar pantas. Di dekat pintu ia menoleh sekali lagi. Pengasuhnya masih berdiri bersama anak yang tadi kesulitan mengancingkan pakaian, lalu mengangkat tangan ketika Shania melambai. Ia membalas sebelum melangkah menuju kendaraan. Yang dibawanya pulang bukan hanya ingatan tentang tempat itu, melainkan janji kunjungan yang dapat diteruskan tanpa menyembunyikan keadaan dirinya.
Di perjalanan, ia melihat bukti pembayaran pekerjaan butik sekali lagi. Sebagiannya akan menambah simpanan sewa, sisanya tetap disediakan untuk kebutuhan harian. Ia sudah bekerja dan menerima upah sebelum berkunjung, tetapi baru setelah mengatakan kabarnya sendiri ia merasa tidak sedang menumpuk keberhasilan untuk meminta izin tetap disayangi.