Atika memilih toko perhiasan di pusat perbelanjaan sebagai tempat bertemu. Pesannya masuk pada Jumat sore, disertai gambar dua cincin yang sejak beberapa waktu lalu disimpannya. Arhan membaca ketika hendak meninggalkan kantor. Ia belum mengatakan bersedia membeli, tetapi pernah menjanjikan bahwa mereka akan membicarakannya setelah perkara selesai. Kini tidak ada lagi sidang ikrar yang dapat disebut sebagai alasan menunda percakapan.
Ia datang dan menemukan Atika di depan etalase. Perempuan itu mengenakan pakaian yang dulu pernah dipujinya. Ketika melihat Arhan, ia tersenyum dan menggeser tubuh agar pria tersebut dapat berdiri di sampingnya. Untuk beberapa detik, tidak ada tagihan atau pertengkaran di antara mereka, hanya pantulan cahaya pada benda kecil di balik kaca.
'Yang ini terlalu besar,' kata Atika, menunjuk salah satu gambar. 'Aku lebih suka yang satunya. Bisa dipakai setiap hari.'
Arhan mengangguk tanpa benar-benar melihat. Seorang pramuniaga mendekat dan menawarkan mengeluarkan contoh. Atika hendak menjawab, tetapi Arhan mengatakan mereka masih ingin melihat dahulu. Senyum perempuan itu menghilang sedikit. Ia menunggu sampai pramuniaga kembali ke sisi lain sebelum bertanya mengapa Arhan bersikap seperti orang yang sedang diseret datang.
'Aku belum siap membeli hari ini,' jawabnya.
'Aku tidak memintamu langsung membayar. Aku mengajak memilih.'
'Aku tahu. Tapi kalau aku mencoba sekarang, kamu akan mengira aku sudah memutuskan semuanya.'
Atika menatapnya. Percakapan yang semula dibayangkannya berlangsung hangat kini membuatnya ingin menjauh dari kaca. Pramuniaga kembali membawa contoh lain yang lebih kecil. Atika melihat benda itu diletakkan di atas kain, persis di tempat yang tadi diinginkannya. Ia mengucapkan terima kasih, tetapi mengatakan mereka tidak jadi mencoba. Arhan hendak mengambil katalog yang ditawarkan, lalu mengurungkan tangan ketika Atika menggeleng. Tidak ada janji akan kembali besok yang diucapkan untuk menyenangkan penjaga toko. Setelah contoh dimasukkan lagi ke etalase, Atika memasukkan ponsel ke tas, lalu berjalan menuju tempat duduk di luar toko, di sisi koridor yang lebih lengang. Arhan mengikutinya dan berhenti ketika perempuan itu memilih duduk sendiri di ujung bangku.
'Kamu sudah menjalani ikrar, kan?' tanyanya.
'Sudah. Dokumennya juga sudah bisa diambil.'
'Lalu apa lagi yang kamu tunggu?'
Arhan memandang orang-orang yang berlalu. Ia ingin menyebut banyak urusan, dari pekerjaannya sampai pembayaran yang baru diselesaikan, tetapi tahu semua itu tidak menjawab pertanyaan Atika. Bahkan jika tidak ada biaya baru, ia belum dapat membayangkan berdiri di hadapan Wati dan mengatakan akan menikah dengan perempuan yang dahulu dibelanya begitu keras.
'Aku tidak bisa menjanjikan tanggal,' katanya.
'Dulu kamu bisa menjanjikan rumah, kehidupan bersama, semuanya. Sekarang memilih cincin saja tidak.'
'Aku memang terlalu mudah berjanji.'
Atika tertawa pendek. 'Mudah sekali mengatakannya setelah aku menunggu.'
Arhan duduk agak jauh. Ia tidak ingin percakapan ini didengar orang, tetapi juga tidak dapat mengajak Atika ke mobil lalu menutup pertanyaan di balik pintu. Ia menerangkan bahwa setelah proses perpisahan benar-benar dijalani, ia menyadari banyak hal yang dahulu diucapkannya belum pernah dipikirkan sampai akibatnya. Atika mendengarkan tanpa mengangguk.
'Berarti kamu menyesal memilih aku?'
'Aku menyesal dengan caraku mengambil keputusan.'
'Jangan jadikan kalimat itu jalan untuk tidak menjawab.'
Arhan menunduk. Atika mengatakan ia tidak akan berpura-pura tidak tahu Arhan sudah beristri ketika hubungan mereka dimulai. Namun pengetahuan itu tidak berarti ia bersedia terus dijanjikan sesuatu yang selalu bergeser. Ia ingin pernikahan, bukan sekadar seseorang yang datang membawa makanan ketika mempunyai waktu dan pulang saat pembicaraan mulai sulit.
'Aku tidak bilang aku tidak punya salah,' katanya. 'Tapi kamu tidak boleh membuat seolah semuanya terjadi karena aku meminta terlalu banyak.'
Arhan mengangguk. Ia tidak menyebut Shania yang dahulu jarang menuntut. Ia tahu perbandingan tersebut pernah dipakai untuk menyenangkan dirinya sendiri, baik ketika merendahkan istrinya maupun ketika kesulitan memenuhi permintaan Atika. Perempuan di depannya bukan alat untuk menunjukkan bahwa kehidupan lamanya ternyata lebih nyaman.
'Kalau aku bilang kita menikah bulan depan, itu hanya membuatmu berhenti marah sekarang,' jawabnya. 'Aku tidak mau mengatakan sesuatu yang belum sanggup kujalankan lagi.'
Atika meraih tasnya. 'Aku juga tidak mau pura-pura kita sedang baik-baik saja.'
Mereka berdiri hampir bersamaan. Arhan menawarkan mengantar, tetapi Atika memilih memesan kendaraan sendiri. Ia mengatakan beberapa barang Arhan masih ada di apartemen, lalu bertanya apakah pria itu ingin mengambilnya hari itu. Pertanyaan tersebut membuat Arhan terdiam lebih lama. Atika tidak menunggu jawabannya untuk membuka aplikasi pemesanan.
'Aku belum mengatakan ingin berpisah,' kata Arhan.
'Kamu juga tidak mengatakan ingin meneruskan dengan jelas.'
Arhan tidak menyentuh lengannya ketika ia melangkah menjauh. Ia menunggu di dekat pintu pusat perbelanjaan sampai kendaraan yang dipesan datang. Atika masuk tanpa melambaikan tangan, dan Arhan kembali ke tempat parkir dengan gambar cincin yang belum pernah benar-benar diperiksanya.
Di dalam mobil, ia menerima pesan bahwa Atika tidak ingin ditemui malam itu. Ia membalas akan menghormatinya. Tidak ada permintaan agar perempuan itu tenang dahulu atau mengingat semua uang yang sudah diberikan. Ia tahu tiga puluh juta yang pernah ditransfer bukan jaminan seseorang harus terus menyambutnya, sebagaimana pembayaran kepada Shania tidak membeli perubahan keputusan.
Ketika pulang, rumahnya sunyi. Lampu kamar tamu tidak tampak dari ruang tengah karena pintunya tertutup. Arhan meletakkan kunci dan duduk tanpa menyalakan televisi. Ia tidak mengetuk untuk bertanya kepada Shania apa yang harus dilakukan menghadapi perempuan lain. Persoalan yang dimulainya sendiri tidak dapat dijadikan alasan meminta kembali pelayanan yang telah hilang.
Malam itu ia membuka pesan-pesan Atika dari masa ketika hubungan mereka baru terasa menyenangkan. Ada janji yang ditulisnya tanpa didesak, ada pengiriman uang yang membuatnya merasa hebat, dan ada banyak pertanyaan yang dahulu dijawab dengan rencana yang tidak pernah dibicarakan bersama orang yang akan terluka. Ia tidak menghapus percakapan tersebut. Untuk pertama kalinya ia membacanya tanpa mencari kalimat Atika yang dapat dipakai sebagai pembenaran bagi dirinya sendiri.