Pada pekan berikutnya, Shania memastikan dokumen perceraiannya sudah dapat diambil sebelum meminta penyesuaian waktu masuk kerja. Ia membawa berkas yang diperlukan dan berangkat sendiri. Kali ini tidak ada panggilan bagi keduanya untuk duduk membicarakan rumah tangga. Ia datang mengambil sesuatu yang menerangkan status yang telah berubah melalui proses yang benar-benar dijalaninya.
Di tempat pelayanan, Shania menunggu giliran dengan map di pangkuan. Seorang perempuan di sebelahnya bertanya apakah ia tahu bagian yang dituju untuk urusan lain. Shania mengatakan belum tahu dan menunjuk petugas yang dapat ditanya. Ia tidak ingin menjawab berdasarkan pengalaman satu perkara seolah telah mengerti semua hal yang berlangsung di gedung tersebut.
Ketika namanya dipanggil, ia menyerahkan identitas serta keterangan yang diminta. Petugas memeriksa sebelum memberikan dokumen. Shania membaca namanya, keterangan perkara, dan bagian lain yang diminta dipastikan. Tangannya berhenti sesaat pada nama Arhan. Nama itu masih ada di atas kertas, tetapi tidak lagi mengandung perintah tentang dengan siapa ia harus pulang.
Ia menanyakan tempat menyampaikan koreksi jika kelak menemukan hal yang tidak sesuai. Setelah menerima penjelasan, ia mengonfirmasi penerimaan dan menyimpan akta cerai dalam pelindung yang telah dibawanya. Tidak ada kesalahan yang perlu dikoreksi saat itu. Ia tidak berjalan keluar sambil memotret seluruh halaman untuk dikirim kepada orang yang pernah bergosip.
Di luar, Shania duduk sebentar sebelum memesan kendaraan. Ia mengabari Wati dan Shinta dengan pesan yang sama singkatnya: dokumennya sudah diterima. Shinta membalas dengan pertanyaan apakah ia ingin ditemani malam nanti. Shania menjawab belum perlu, tetapi ia ingin makan bersama di butik pada akhir pekan setelah pekerjaan yang dijanjikan selesai.
Arhan juga menerima kabar bahwa Shania sudah mengurus bagiannya. Ia tidak diminta mengambilkan atau menyimpan dokumen tersebut. Balasannya hanya mengatakan baik. Shania menutup percakapan tanpa menunggu kata yang lebih panjang, lalu memasukkan ponsel ke tas. Ia harus masuk kerja sesuai waktu yang telah disepakati, dan kendaraan yang dipesannya sedang menuju lokasi penjemputan.
Di Megah, tiga contoh ukuran telah siap ditinjau. Shania meletakkan tas pada tempatnya sebelum mendekati meja. Bahan pengganti yang diterima beberapa waktu lalu kini telah menjadi bagian yang dapat dikenakan, bukan lagi gulungan yang diperdebatkan di dekat jendela. Koordinator mengajaknya memperhatikan hasil bersama orang yang akan mencoba.
Ukuran tengah bergerak sesuai perkiraan. Pada ukuran lain, panjang bagian depan perlu diperiksa karena cara jatuh kain berbeda pada tubuh pemakai. Shania tidak menyuruh orang itu berdiri lebih tegak agar contoh terlihat baik. Ia meminta pemakai duduk sebagaimana biasa, kemudian menunjukkan kepada koordinator bagian yang perlu diubah sebelum pemotongan dilanjutkan untuk jumlah berikutnya.
Perbaikannya tidak mengubah seluruh bentuk. Mereka mencocokkan ukuran dengan gambar dan kesepakatan sebelumnya, lalu penjahit mengatur kembali bagian yang ditandai. Shania menunggu sampai pemakai mencoba lagi. Ia merasakan kegembiraan ketika orang itu meraih tas di lantai dan bangkit tanpa menarik ujung blus, gerakan yang semula membuat sambungan terlihat tegang.
Koordinator memastikan contoh acuan untuk ketiga ukuran telah sesuai sebelum memberi jalan pada produksi terbatas yang disetujui. Shania mencatat perubahan pada bagiannya agar jahitan berikutnya tidak kembali memakai letak lama. Sesudah itu ia meninggalkan meja untuk mengerjakan tugas lain, tidak menunggu setiap potongan kain berubah menjadi pakaian di depan matanya.
Pada jam istirahat ia membuka wadah makan yang dibeli beberapa waktu lalu. Nasinya sedikit terlalu lembek karena air yang digunakan malam sebelumnya kebanyakan. Rekan di sebelah menawarkan sebagian lauk, dan Shania berbagi potongan buah dari bekalnya. Mereka menertawakan perkiraan memasak yang sering meleset ketika hanya menyiapkan satu porsi. Ia tetap dapat memakan nasi itu tanpa menganggap kesalahan kecil tersebut bukti bahwa ia belum mampu hidup sendiri.
Sore hari, Shinta mengirim kabar bahwa pakaian kelompok Raka memasuki penyelesaian akhir. Perubahan setelah mencoba sudah dikerjakan. Mereka menjadwalkan pemeriksaan sebelum penyerahan, sehingga pemesan tidak hanya menerima kantong tertutup dan baru menemukan masalah ketika hendak berangkat ke acara. Shania mengonfirmasi waktu yang dapat dihadirinya di luar jam kantor.
Ia baru kembali ke rumah Arhan menjelang malam. Di kamar tamu, ia mengeluarkan dokumen dari tas dan memeriksanya lagi sebelum disimpan. Akta itu tidak diletakkan bersama gambar pelanggan atau struk perjalanan. Ia memilih bagian map yang terlindung dan mencatat di mana salinan dapat ditemukan ketika diperlukan. Persiapan menyewa tempat tinggal tidak lagi bergantung pada janji bahwa surat akan diurus suatu hari nanti.
Di dasar laci terdapat foto pernikahan kecil yang sempat dilihatnya saat panggilan pertama datang. Shania mengambilnya dan duduk di tepi tempat tidur. Perempuan pada foto tampak percaya bahwa rumah baru akan membuatnya tidak lagi merasa sendirian. Ia tidak mengejek harapan itu. Ia mengambil sebuah amplop untuk menyimpannya terpisah dari berkas yang perlu dipakai untuk hari-hari mendatang.
Amplopnya ternyata terlalu kecil. Ia mencari yang lain, lalu menunda memasukkan foto daripada melipatnya. Di sela benda-benda itu ia menemukan pita dari kotak hadiah Shinta dan memindahkannya ke tempat perlengkapan jahit. Tangan yang tadi bergetar mulai dapat bekerja seperti biasa. Setelah menemukan amplop yang cukup, ia memasukkan foto tanpa menatapnya lagi terlalu lama dan menaruhnya di bagian belakang laci.
Ketukan terdengar ketika ia selesai. Arhan menanyakan apakah ia membutuhkan tempat menyimpan dokumen penting di ruang kerja. Shania menjawab barangnya sudah mempunyai tempat. Pria itu tidak masuk dan tidak meminta melihat. Setelah langkahnya menjauh, Shania meneruskan menyiapkan pakaian untuk esok, bukan memeriksa lagi apakah lemari berubah letak.
Malam semakin tenang. Ia masih berada di kamar tamu, masih menunggu waktu serta kesiapan yang diperlukan sebelum pergi. Namun dokumen resmi kini berada di tangannya, pekerjaan mempunyai hasil yang dapat disentuh, dan kepindahan kelak tidak perlu disamarkan sebagai kunjungan sementara kepada sahabat. Shania mematikan lampu setelah memastikan kunci berada di dekat tas. Ia belum mempunyai alamat baru, tetapi ia tidak lagi menunggu Arhan menentukan siapa dirinya.