Menjelang akhir bulan ketiga sejak percakapan talak di rumah, panggilan untuk ikrar akhirnya tiba. Putusan yang sebelumnya diterangkan kepada Shania telah berkekuatan hukum tetap. Ia memeriksa keterangan itu sebelum mengajukan izin lagi, tidak menuliskan jadwal hanya berdasarkan kabar singkat Arhan. Hari yang ditunggu ternyata membuat tangannya gemetar seperti ketika menerima amplop pertama.
Pertanyaan mengenai pembayaran yang mereka sisakan pada pembicaraan terakhir sudah diajukan melalui proses perkara. Keterangannya diperiksa bersama berkas yang berkaitan, sehingga keduanya mengetahui bagian mana yang masih perlu dituntaskan. Arhan menyelesaikan bagian tersebut sesuai yang telah dipastikan dan menyerahkan bukti. Shania memeriksa penerimaan, lalu menyimpan catatannya. Tidak ada syarat agar ia kembali atau menjual mahar yang masih utuh.
Pagi persidangan, Wati datang menjemput dengan kendaraan yang dipesannya. Keadaannya sudah membaik. Ia membawa air dan obat yang biasa digunakannya sendiri, tidak menyembunyikan rasa gugup dengan menyiapkan terlalu banyak bekal. Shania menanyakan apakah ia yakin ingin ikut. Wati menjawab bahwa ia ingin berada di dekatnya, tetapi akan menunggu di luar ketika tidak diperlukan.
Arhan tiba terpisah. Ia menyapa ibunya dan Shania, kemudian duduk tanpa mencari kursi di antara mereka. Ponselnya dimasukkan ke tas setelah dimatikan suaranya. Shania membawa map yang sama dengan saat pertama datang, kini berisi keterangan yang tidak lagi harus ditanyakan letaknya kepada Arhan.
Mereka melapor dan mengikuti arahan petugas. Ketika menunggu panggilan, Wati meraih tangan Shania sebentar, lalu melepaskan ketika perempuan itu perlu merapikan kertas. Tidak ada ucapan bahwa semua masih dapat dibatalkan demi orang tua. Wajah Wati sedih, dan Shania tidak meminta ia berpura-pura gembira agar keputusannya terasa benar.
Di ruang sidang, Arhan diminta memastikan identitas dan kesiapannya. Suaranya tidak sekeras ketika mengucapkan keinginan berpisah di rumah. Ia mendengar arahan, kemudian menjalani ikrar di hadapan persidangan. Shania menunduk sesaat, memandangi ujung jarinya yang memutih karena menekan map. Peristiwa itu berlangsung lebih singkat daripada malam-malam yang dihabiskannya membayangkan bagaimana rasanya.
Suara petugas terdengar ketika berkas kembali diperiksa. Shania merapatkan map di pangkuannya dan menunggu sampai penjelasan dapat didengar dengan jelas. Setelah ikrar selesai dan penjelasan diberikan, ia mengangkat wajah untuk memastikan apa yang masih perlu dilakukan. Yang dibicarakan berikutnya adalah pencatatan serta pengambilan dokumen, bukan apakah ia sudah cukup bersabar sebagai seorang istri.
Shania bertanya tentang keterangan yang berlaku bagi dirinya setelah proses itu dan hal yang harus diperhatikan sebelum rencana kepindahannya dijalankan. Ia mendengarkan penjelasan petugas, kemudian meminta bagian yang belum dipahami diulang. Petugas menjelaskan bahwa acuan resmi masa tunggu dalam perkaranya dihitung dari ikrar di persidangan, bukan dari hitungan pribadi setelah ucapan Arhan di rumah. Shania menuliskan tanggal ikrar pada halaman baru, terpisah dari catatan tentang ucapan talak di rumah. Ia menunjukkan kedua tanggal itu kepada petugas dan mengulang pertanyaannya mengenai rencana pindah. Setelah penjelasan dipastikan, ia menggarisbawahi tanggal ikrar sebagai acuan yang akan dipakai.
Akta belum dibawa keluar hari itu. Ia mencatat cara memeriksa kesiapan dokumen dan apa yang perlu dibawa saat mengambilnya. Arhan menanyakan apakah ia harus mengambilkan. Shania menjawab akan mengurus bagiannya sendiri sesuai petunjuk, lalu menyimpan kertas yang baru diterimanya di depan map.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Shania membuka kembali dompet untuk memasukkan identitas. Tangannya sempat menjatuhkan satu kartu ke lantai. Arhan bergerak hendak membantu, tetapi ia sudah berjongkok dan memungutnya sendiri. Ia membersihkan ujung kartu dengan tisu, memastikan tidak ada yang tertinggal di kursi, lalu berdiri. Kartu itu diselipkannya ke tempat yang benar sebelum dompet ditutup, kemudian ia mengambil map yang masih berada di kursi.
Di luar, Wati segera mendekat. Ia melihat wajah keduanya sebelum bertanya apakah sudah selesai untuk hari ini. Shania mengangguk. Wati memeluknya, tidak kuat, tetapi cukup lama sampai bahunya yang tegang mulai turun. Arhan berdiri beberapa langkah dari mereka, memegang tas dengan tangan yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
'Ibu pulang dengan siapa?' tanyanya.
'Aku antar Ibu dulu,' jawab Shania. 'Setelah itu aku pulang sendiri.'
Wati setuju. Arhan menawarkan membantu membawa tas, dan ibunya menyerahkan miliknya tanpa membuat tawaran tersebut menjadi pembicaraan tentang Shania. Mereka berjalan menuju kendaraan. Di dekat pintu keluar, Arhan memanggil nama perempuan yang kini tidak lagi dapat dipanggilnya dengan kedudukan yang sama seperti pagi sebelumnya.
Shania menoleh. Ia tidak mendekat ketika Arhan mengatakan ingin menanyakan apakah ia baik-baik saja.
'Aku perlu waktu,' jawabnya.
Arhan mengangguk. Ia tidak meminta perempuan itu menghiburnya karena suaranya tadi terdengar gemetar. Setelah Wati masuk kendaraan, Shania duduk di sampingnya dan menutup pintu. Tidak ada percakapan lanjutan melalui jendela.
Dalam perjalanan, Wati mengeluarkan air minum. Shania baru menyadari ia belum minum sejak berangkat. Ia menerima botol itu dan meneguk perlahan. Jalanan tetap ramai, pedagang mengangkat barang di tepi trotoar, dan seorang pengendara tergesa menyalip kendaraan mereka. Dunia di luar tidak berhenti hanya karena satu hubungan telah berakhir.
Di rumah Wati, Shania duduk sebentar dan makan sesuatu yang ringan. Ia tidak tinggal sampai malam. Ketika berpamitan, Wati memanggilnya lagi, bukan untuk meminta pesan disampaikan kepada Arhan, melainkan memastikan janji kunjungan berikutnya tetap boleh dibuat.
'Boleh, Bu. Nanti kita cari hari yang cocok.'
Wati mengangguk, menahan air mata yang membuat Shania kembali memeluknya. Mereka tidak memutuskan hubungan itu harus diberi nama apa. Cukup bahwa keduanya masih ingin bertemu, tanpa menempatkan Shania lagi sebagai jalan untuk memperbaiki anaknya.
Sore hari Shania kembali ke kamar tamu di rumah Arhan. Ia mengganti pakaian, meletakkan map di meja, lalu duduk di lantai dekat jendela. Tidak ada keinginan merayakan dengan membeli sesuatu. Ia menangis ketika melihat pantulan cahaya pada lantai yang selama ini dipijaknya setiap pulang kerja.
Tangis itu tidak mengubah jawaban di ruang sidang. Ia telah kehilangan pernikahan yang pernah diinginkan, bukan membuktikan perpisahannya keliru. Setelah napasnya lebih tenang, ia menghubungi Shinta dan mengatakan proses ikrar sudah dijalani. Sahabatnya menawarkan datang, tetapi Shania memilih beristirahat sendiri malam itu. Ia akan mengabari lagi ketika memerlukan bantuan. Ponsel diletakkan di meja, dan untuk pertama kalinya hari itu ia membiarkan dirinya berbaring tanpa menunggu keputusan orang lain.