Arhan meminta waktu berbicara pada Selasa malam. Pesannya masuk ketika Shania masih di perjalanan pulang. Ia menyebutkan urusan yang ingin dibahas: pembayaran yang berkaitan dengan perkara dan barang yang masih disimpan masing-masing. Shania membalas bahwa ia bersedia sesudah makan, di ruang tengah. Ia tidak ingin kembali menemukannya berdiri di depan lemari untuk mencari sesuatu yang belum ditanyakan.
Ketika ia keluar dari kamar tamu, Arhan sudah meletakkan salinan keterangan perkara di meja. Ada pena dan ponsel, tetapi tidak ada makanan atau hadiah untuk mengubah suasana. Shania membawa catatannya sendiri dan duduk di kursi seberang. Ia memeriksa lembar yang ditunjuk sebelum mendengar penjelasan pria tersebut.
'Aku ingin memastikan yang ini selesai sebelum jadwal berikutnya,' kata Arhan.
Shania membandingkan keterangannya dengan berkas yang dimiliki. Hal yang berkaitan dengan hak serta kewajiban mereka telah ditanyakan melalui proses perkara. Ia tidak mau menyepakati sesuatu yang bertentangan dengan keterangan itu hanya karena lebih mudah berbicara di rumah. Pada bagian yang masih membuatnya ragu, ia meminta Arhan menunggu sampai mereka memperoleh penjelasan, bukan menebak bersama.
Arhan mengangguk. Untuk jumlah yang sudah jelas, ia menunjukkan kesiapan pembayarannya. Shania menyebut rekening yang digunakannya sendiri dan meminta keterangan transfer ditulis sesuai tujuan. Ia ingin dapat memisahkannya dari belanja rumah biasa maupun penghasilan bekerja. Arhan sempat bertanya apakah semua itu perlu dibuat begitu terperinci.
'Aku tidak ingin beberapa bulan lagi kita memperdebatkan uang yang sama karena mengingatnya berbeda,' jawab Shania.
Kalimat tersebut membuat keduanya diam. Ada banyak uang yang dahulu berpindah dalam rumah ini tanpa pernah dipersoalkan selama Shania tetap mengurus semuanya. Kini ia harus mengatakan dengan terang apa yang diterima dan apa yang belum. Ia tidak sedang membalas setiap ketidakpercayaan dengan pemeriksaan baru, tetapi menolak bergantung pada kalimat bahwa Arhan pasti akan mengurus.
Arhan membuka aplikasi rekening. Sebelum melanjutkan, ia bertanya tentang perhiasan mahar yang masih disimpan Shania. Pertanyaan itu membuat perempuan tersebut langsung menegakkan punggung. Ia mengatakan benda-benda itu masih utuh, sebagaimana pernah dijelaskannya sesudah talak.
'Aku tidak meminta kamu menjualnya,' kata Arhan.
'Aku juga tidak pernah mengatakan akan menyerahkannya kembali sebagai syarat supaya urusan kita lebih cepat.'
'Aku hanya memastikan barangnya ada.'
Shania mengangguk, namun tidak berdiri mengambil kotak untuk diperlihatkan. Arhan sudah mendengar jawabannya. Benda tersebut bukan uang baru yang harus ia terima malam ini, dan ia tidak ingin mencampurkannya dengan pembayaran yang sedang diperiksa. Setelah jeda, pria itu mengalihkan pandangannya kembali kepada layar.
Arhan sempat menawarkan menyerahkan sebagian secara tunai karena uang itu sudah diambilnya. Shania memilih satu cara pembayaran agar penerimaannya mudah diperiksa, bukan dua jumlah yang terpisah tanpa catatan. Pria itu memasukkan kembali uang ke dompet. Ia memeriksa nama penerima pada layar dan membacanya sebelum meminta Shania memastikan tidak ada angka rekening yang keliru.
Ia menyelesaikan transfer untuk bagian yang telah dipastikan, kemudian menunjukkan bukti. Shania memeriksa rekeningnya sendiri dan menunggu sampai dana benar-benar tercatat. Ia tidak membalas dengan pelukan atau ucapan yang membuat tindakan itu terdengar seperti kemurahan hati tanpa kaitan dengan kewajiban. Ia hanya mengonfirmasi penerimaan dan menyimpan keterangannya.
Pada bagian lain yang belum dipahami, mereka membuat pertanyaan singkat untuk disampaikan melalui jalur perkara. Shania menuliskan pertanyaannya sendiri. Tidak ada surat baru yang memintanya melepaskan seluruh tuntutan di luar apa yang telah dijelaskan. Ia tidak mau membubuhkan tanda tangan pada kalimat yang terlalu luas, dan Arhan menutup kembali map tanpa memaksakan.
'Dengan ini kamu bisa lebih cepat mencari tempat?' tanyanya kemudian.
'Mungkin membantu. Tapi aku tidak akan menyewa tempat sebelum menghitung semuanya.'
'Kamu tidak harus langsung pergi.'
Shania menatapnya. Ucapan itu menyentuh kekhawatirannya sendiri tentang keamanan tempat tinggal dan repot mengangkat barang. Malam ini ia tidak tahu apakah Arhan sedang merasa bersalah atau benar-benar takut rumah menjadi kosong. Ia tidak harus memilih salah satu tafsiran untuk memberi jawaban.
'Aku masih menunggu prosesnya selesai. Setelah itu aku akan mengatur kepindahanku. Jangan menganggap aku belum pergi karena berubah pikiran.'
Arhan menunduk. Ia mengatakan mengerti, meskipun tangannya lama berada pada sudut map yang tidak lagi dibuka. Shania menyebut beberapa barang pribadi yang kelak akan dibawanya, termasuk hadiah Shinta dan perlengkapan yang memang digunakannya. Barang bersama yang belum jelas tidak diputuskan berdasarkan siapa yang lebih cepat memasukkannya ke kardus.
Mereka memeriksa dua benda yang sempat disebut berbeda. Satu adalah jam meja milik Arhan sebelum menikah, sehingga Shania tidak memasukkannya dalam daftar yang akan dibawa. Yang lain, wadah makan, dibelinya sendiri sesudah bekerja dan masih mempunyai bukti pembayaran. Arhan menerimanya tanpa meminta Shania membuktikan bahwa ia pantas memiliki sesuatu. Tidak ada pembagian seluruh isi rumah malam itu; yang mereka selesaikan ialah hal yang dapat dipastikan, bukan memperbesar percakapan menjadi pertengkaran tentang setiap sendok.
Sesudah selesai, Shania membawa catatannya kembali ke kamar. Ia memisahkan dana yang diterima dari tabungan gaji agar tidak menghitung satu sumber uang dua kali. Jumlahnya memberi ruang bernapas, tetapi tidak menghapus ongkos hidup bulan-bulan berikutnya. Ia tidak memesan perabot atau mengirim foto saldo kepada orang yang pernah meragukannya.
Di ruang tengah, Arhan masih duduk sendirian. Ponselnya menampilkan pesan Atika yang menanyakan kapan ia dapat datang. Ia menjawab belum bisa memastikan malam itu. Ada urusan yang telah dipilihnya sendiri dan tidak lagi dapat dibebankan kepada perempuan di kamar tamu. Menyelesaikan pembayaran tidak mengembalikan cara Shania dahulu menatapnya.
Sebelum tidur, Shania menghubungi Shinta untuk memastikan jam mencoba berikutnya tidak berbenturan dengan jadwal kantor. Ia tidak menceritakan jumlah uang yang baru diterima. Yang ingin disampaikannya hanyalah bahwa ia sedang menyiapkan hidup yang lebih teratur dan perlu mempertahankan pekerjaannya. Setelah percakapan selesai, ia menutup map dan mengunci kamar. Uang telah berpindah sesuai bagian yang jelas, tetapi keputusan untuk tidak kembali tetap berada di tangannya.