Pemberitahuan gaji masuk ketika Shania sedang memeriksa ukuran contoh bersama tim. Ia hanya melihat sekilas, lalu mengembalikan ponsel ke tas sampai pekerjaan selesai. Sudah lebih dari sekali ia menerima penghasilan sejak mulai bekerja, tetapi setiap pemberitahuan masih mengingatkannya pada tahun-tahun ketika keinginannya sendiri selalu harus menunggu uang yang diberikan Arhan.
Sepulang kerja ia duduk di tempat makan dekat perhentian kendaraan dan membuka rincian pengeluaran. Bukan buku lama untuk mencatat belanja rumah tangga, melainkan catatan baru yang hanya memuat kebutuhan yang menjadi tanggungannya. Ongkos perjalanan ternyata lebih besar daripada perkiraan awal. Ada hari ketika ia harus memakai kendaraan lebih mahal agar tidak terlambat, dan ia tidak ingin menghapusnya dari perhitungan hanya supaya tabungan terlihat cepat bertambah.
Ia memisahkan bagian untuk makan, perjalanan, dan kebutuhan pribadi sebelum memindahkan uang ke simpanan tempat tinggal. Jumlah yang tersisa tidak cukup untuk membuatnya langsung memilih rumah yang disukai. Namun ia dapat menyisihkannya tanpa meminta izin atau membuktikan bahwa harga sampo terlalu mahal. Kesadaran sederhana itu membuat matanya berair di depan semangkuk makanan yang belum disentuh.
Ponselnya bergetar. Shinta mengirim foto dua orang dari kelompok Raka yang telah mencoba bentuk awal di butik. Salah satunya perlu perubahan pada bagian bahu. Shania memperbesar foto, lalu mengatakan ia tidak dapat memastikan hanya melalui gambar. Sesuai jadwal pengganti, ia akan datang akhir pekan dan melihat gerak pemakainya sendiri sebelum menentukan perbaikan.
Shinta membalas setuju. Ia juga mengingatkan bahwa bagian upah rancangan Shania akan diselesaikan setelah pekerjaan yang disepakati tuntas. Shania tidak keberatan. Ia pernah membantu karena ingin membuktikan dirinya masih dapat berkarya, tetapi kini keduanya harus membedakan bantuan sahabat dan pekerjaan yang memang mempunyai biaya.
'Aku tidak mau kamu merasa sungkan menanyakan bagianmu,' tulis Shinta.
'Aku tanya kalau ada yang tidak jelas. Tapi jangan keluarkan uangmu sendiri untuk menutup pekerjaan yang belum selesai,' balas Shania.
Sesudah makan, ia berjalan ke toko perlengkapan rumah yang tidak terlalu jauh. Semula ia hanya ingin melihat harga. Di depan rak terdapat satu set peralatan makan yang cantik, jauh lebih indah daripada piring yang biasa dipakainya di kamar tamu. Ia mengangkat kotak tersebut, membayangkan dapur yang belum dimiliki, lalu membaca harga sekali lagi.
Penjaga toko menawarkan barang yang lebih murah. Shania memintanya menunjukkan pilihan satuan, bukan seluruh set. Ia membeli satu wadah makan yang dapat dibawa bekerja dan menunda sisanya. Tempat tinggal barunya nanti tidak harus lengkap pada hari pertama, apalagi masih belum ada alamat yang dipilih. Ia menahan keinginan membeli tanda-tanda kemandirian sebelum mampu membayar ruang untuk menaruhnya.
Di luar toko ia menemukan dua panggilan tak terjawab dari Wati. Ia segera menghubungi. Perempuan itu hanya ingin menanyakan kapan ia dapat mampir karena keadaan badannya sudah membaik. Shania menyebut Minggu sore setelah urusan butik, kemudian bertanya apakah ia memerlukan sesuatu. Wati menjawab kebutuhan kemarin sudah dibawakan Arhan.
'Jangan membeli macam-macam,' kata Wati. 'Ibu cuma ingin ketemu.'
Shania tersenyum. Ia menjanjikan waktu, bukan kantong belanja yang besar. Setelah panggilan ditutup, ia memperhatikan wadah makan di tangannya. Dulu hadiah untuk Wati sering dipilihnya sambil berharap hubungan keluarga itu akan semakin kokoh. Kini ia harus belajar bahwa berkunjung tanpa membawa pengorbanan baru tetap dapat berarti menyayangi.
Pada Sabtu yang dijadwalkan, ia tiba di butik sebelum pemakai yang perlu perbaikan datang. Raka mengantar orang itu, lalu menunggu di depan ketika proses mencoba dimulai. Shania meminta pemakai mengangkat tangan dan duduk. Bagian bahu ternyata bukan satu-satunya persoalan; lengan ikut menarik karena posisi sambungan kurang tepat.
Ia melepaskan beberapa jahitan sementara dengan bantuan penjahit. Pemakai itu cemas bentuknya akan menjadi terlalu longgar. Shania menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit di depan cermin, menanyakan mana yang sungguh terasa berbeda. Sesudah orang itu dapat bergerak tanpa menarik pakaian, penjahit menandai letak baru untuk diteruskan.
Raka menanyakan apakah perubahan tersebut akan menggeser waktu penyerahan. Shinta memeriksa sisa pekerjaan sebelum menjawab. Waktu masih dapat dipertahankan karena perbaikan ditemukan pada tahap mencoba, bukan sesudah seluruh bagian diselesaikan. Tidak ada orang yang berjanji mengejar semalam untuk menutup keterlambatan yang sebenarnya belum terjadi.
Ketika pemakai berterima kasih, Shania mengangguk dan mengembalikan meteran ke meja. Ia menyukai pujian itu, tetapi yang lebih membuatnya lega ialah melihat perempuan tersebut berjalan keluar tanpa sibuk menarik bagian bahu. Uang yang kelak diterimanya mempunyai hubungan dengan perubahan yang dapat dirasakan orang lain, bukan hanya dengan rasa kasihan terhadap hidupnya.
Minggu sore ia menepati janji mengunjungi Wati. Ia datang tanpa belanja besar, hanya membawa dirinya dan waktu yang sudah disisihkan. Di dapur, perempuan itu memperlihatkan bahan makanan yang dibawakan Arhan. Ada yang tidak sesuai kebiasaannya, sehingga keduanya tertawa kecil. Shania tidak menawarkan membereskan seluruh kekurangan sebelum pulang.
Wati mengajaknya duduk dekat jendela karena ruang makan terasa pengap. Mereka memindahkan dua piring dan semangkuk sayur, lalu berdebat kecil tentang kipas yang selalu diarahkan terlalu dekat. Shania memilih kursi yang tidak langsung terkena angin. Untuk pertama kali sejak datang, ia melepas tas dari pangkuan dan menyandarkannya di sisi kursi. Wati mulai bercerita tentang tetangga yang menitipkan tanaman ketika pergi, lengkap dengan keluhannya karena pot itu terlalu berat.
Mereka makan dan berbicara tentang hari-hari biasa. Wati menanyakan pekerjaan, bukan saldo tabungan. Shania menceritakan wadah makan yang dibelinya, lalu mengaku masih memikirkan biaya sewa. Wati mendengarkan tanpa segera menyodorkan alamat rumahnya sendiri sebagai jawaban. Ketika Shania berpamitan, ia tidak dipaksa tinggal sampai Arhan datang.
Di kamar tamu malam itu, wadah makan sudah dicuci dan dikeringkan. Shania menyiapkan nasi untuk bekal esok, menutupnya setelah tidak terlalu panas, lalu menyimpan sesuai kebutuhan. Simpanan tempat tinggal belum banyak berubah sejak gaji masuk. Namun ia telah melewati satu akhir pekan tanpa membelanjakan seluruh harapan sekaligus, dan masih mempunyai sesuatu yang dipilih untuk memudahkan hari kerjanya sendiri.