Pada jadwal persidangan berikutnya, Shania datang dengan map yang lebih tipis. Salinan yang diperlukan sudah dipisahkan sejak malam. Setelah upaya perdamaian tidak berhasil, ia dan Arhan masih harus memenuhi tahapan pemeriksaan perkara. Tidak setiap hari yang tertera pada kalender berisi percakapan panjang, tetapi setiap kehadiran membutuhkan izin, perjalanan, serta keberanian yang tidak selalu sama ketika bangun pagi.
Wati kali ini tidak ikut karena sedang kurang sehat. Ia hanya menghubungi sebelum Shania berangkat untuk memastikan perempuan itu tahu siapa yang dapat ditanya jika ada keterangan yang belum jelas. Shania berjanji menelepon setelah selesai, kemudian memesan kendaraan sendiri. Shinta sudah membantu mengatur penjemputan pada sidang pertama; hari ini ia tidak meminta sahabatnya meninggalkan butik lagi.
Arhan menunggu di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ia menyapa, menanyakan kabar ibunya, lalu menerima jawaban singkat. Shania tidak menjadikannya perantara kabar Wati. Ia mengatakan perempuan itu perlu istirahat dan menyarankan Arhan menghubungi langsung setelah urusan di pengadilan selesai.
Sambil menunggu, Arhan membuka catatan pembayaran di ponsel. Shania melihat gerakan itu, tetapi tidak mengintip layar. Beberapa pengeluaran dan permintaan yang berkaitan dengan perpisahan memang telah dibicarakan dalam proses perkara. Ia membawa keterangannya sendiri, tidak menyerahkan semua keputusan kepada ingatan Arhan tentang uang yang pernah diberikannya selama berumah tangga.
Ketika dipanggil, ia berdiri dan mengikuti petunjuk petugas. Pemeriksaan hari itu tidak membuat perselingkuhan menjadi cerita yang lebih mudah diucapkan. Ada bagian yang harus ditegaskan kembali karena jawaban sebelumnya belum cukup jelas. Shania menunggu pertanyaan selesai sebelum menjawab, berusaha memisahkan hal yang dialaminya dari dugaan tentang apa yang Arhan lakukan ketika tidak berada di rumah.
Arhan tidak membantah bahwa hubungan mereka telah rusak. Ia juga tidak mengubah pertemuan itu menjadi permintaan agar Shania menghitung seluruh kebaikannya. Namun ketika mendengar penjelasan mengenai akibat keputusan yang dimintanya, wajahnya menegang. Dulu ia menyebut pengajuan cerai sebagai sesuatu yang sudah diurus, seolah urusan selanjutnya hanya menunggu kertas dicetak.
Shania tidak dapat membaca pikirannya. Ia hanya melihat pria tersebut beberapa kali meminta pertanyaan diulang dan memeriksa catatannya sebelum menjawab. Ia membiarkannya melakukan itu tanpa menawarkan membantu. Menjadi orang yang paling mengenal kebiasaan Arhan tidak berarti ia harus menyelamatkannya dari rasa gugup setiap kali berhadapan dengan tanggung jawabnya sendiri.
Pada akhirnya, putusan mengenai permohonan itu disampaikan. Shania mendengar dengan teliti, tetapi beberapa istilah masih terasa jauh. Ia menangkap bahwa izin untuk mengucapkan ikrar talak bukan berarti mereka dapat langsung pulang membawa akta cerai. Sesudah keluar, ia bertanya kepada petugas tentang tahapan yang harus ditunggu dan cara memperoleh keterangan jadwal berikutnya.
Petugas menerangkan bahwa putusan harus lebih dahulu berkekuatan hukum tetap sebelum ikrar dapat dilaksanakan. Mereka perlu mengikuti pemberitahuan dan ketentuan proses perkara, bukan menentukan sendiri hari untuk mengucapkan sesuatu lalu menganggap semuanya selesai. Shania mengulangi bagian yang ingin dipastikannya. Ia belum akan mengambil akta pada hari itu.
Arhan berdiri di sisinya ketika penjelasan diberikan. Ia bertanya tentang kewajiban yang berkaitan dengan perpisahan mereka dan bagaimana memastikan pelaksanaannya sesuai perkara. Petugas mengarahkan pada keterangan yang harus mereka periksa, tidak menjawab dengan satu angka yang berlaku untuk semua orang. Shania meminta agar ia juga mendapatkan penjelasan yang sama sebelum membuat kesepakatan mengenai penyerahan uang atau barang.
Di tempat menunggu, keduanya duduk lagi untuk merapikan berkas. Arhan mengatakan ia semula mengira hari ini merupakan sidang terakhir. Shania menjawab bahwa ia juga perlu bertanya, tetapi tidak mau lagi membawa perkiraan tersebut sebagai kepastian kepada orang lain.
'Aku akan mengabari kalau ada pemberitahuan yang masuk,' kata Arhan.
'Aku juga akan memeriksa bagian yang perlu kuterima. Jangan tunggu sampai sehari sebelumnya kalau ada yang berkaitan dengan kehadiranku.'
Arhan mengangguk. Mereka tidak saling menawarkan makan siang. Shania menghubungi Wati dari luar gedung dan menjelaskan prosesnya belum selesai. Perempuan itu bertanya apakah ia sudah minum, lalu menghela napas ketika mendengar suaranya mulai serak. Tidak ada pertanyaan apakah ia menyesal datang.
'Aku mampir lain hari setelah Ibu lebih enak badan,' kata Shania.
'Jangan langsung ke sini kalau kamu lelah. Pulang istirahat dulu.'
Shania mengiyakan. Ia berdiri sebentar di bawah atap, membiarkan matanya terbiasa dengan cahaya di luar. Dulu ia pernah menghitung tiga bulan di kamar tamu sebagai akhir yang dapat ditandai sekali pada kalender. Kini ia harus menerima bahwa rencana pergi membutuhkan status yang jelas, pekerjaan yang dapat diandalkan, serta tempat tinggal yang benar-benar siap. Menunggu tidak berarti ia setuju kembali, tetapi menebak tanggal juga tidak akan mempercepat perkara.
Pesan koordinator masuk ketika ia menunggu kendaraan. Bahan pengganti telah diterima dan diperiksa sesuai pembanding. Pemotongan dilanjutkan mengikuti urutan baru, tanpa mencampurkan pengiriman yang dipersoalkan. Shania membalas singkat bahwa ia akan membaca catatan setelah masuk kerja. Ia tidak meminta foto seluruh pekerjaan untuk diperiksa dari tepi jalan.
Di perjalanan, ia membeli bubur untuk dirinya sendiri karena belum ingin makan yang berat. Sampai di rumah Arhan, ia membuka jendela kamar tamu, menggantung pakaian, lalu makan sebelum merebahkan badan. Map perkara diletakkan di meja, tidak di bawah bantal. Ia menyisihkan kuitansi perjalanan bersama pengeluaran hari itu, lalu memindahkan uang makan esok ke dompet agar tidak perlu mencari lagi saat pagi. Hari itu memberikan jawaban yang belum sama dengan akhir, dan ia merasa sedih karenanya. Ia membiarkan rasa sedih itu ada tanpa menambah pekerjaan rumah agar pantas mendapat istirahat.
Menjelang sore, Arhan mengirim kabar bahwa ia sudah menghubungi Wati dan akan datang membawakan kebutuhan ibunya. Shania membaca tanpa merasa harus menawarkan ikut atau menyusun daftar untuknya. Ia membalas bahwa Wati memang perlu istirahat. Setelah itu ponsel diletakkan jauh dari tempat tidur. Ia masih harus melewati beberapa langkah sebelum benar-benar berpisah, tetapi tidak semua langkah Arhan berikutnya harus dikerjakan olehnya.