Memasuki bulan ketiga sejak talak di rumah, Shania sudah dapat berjalan dari tempat kendaraan berhenti ke gedung Megah tanpa memeriksa arah. Ia mengenali penjual sarapan yang membuka dagangan sebelum pegawai datang, tahu pintu mana yang belum dibuka, dan tidak lagi selalu tiba terlalu awal karena takut tersesat. Perkara perceraiannya belum selesai. Namun hari-hari di antara jadwal persidangan tidak berhenti menjadi miliknya.
Pagi itu koordinator meminta ia membawa contoh blus ke rapat keputusan. Sambungan yang ditandai pada pertemuan terakhir telah diperbaiki. Hiasan depan tetap dihilangkan, menyisakan garis yang lebih sederhana. Shania mengusap bagian tersebut sekali sebelum memasukkannya ke pembungkus, kemudian mengikuti koordinator tanpa membawa lagi seluruh gambar yang pernah mereka tolak.
Di ruang rapat, orang yang menangani penjualan memeriksa pakaian dari dekat. Ia menanyakan mengapa versi yang akan ditawarkan berbeda dari foto pameran. Shania menjelaskan tujuan pemakaian dan bagian yang diubah setelah uji. Ia menunjukkan kerah yang sudah tidak menekan, lalu menyerahkan penjelasan biaya kepada bagian yang memang menghitungnya.
'Kalau begitu, apa yang membuat orang mau memilih ini?' tanya orang itu.
Shania sempat mencari jawaban yang terdengar mengesankan. Ia hampir mengulang ungkapan tentang perempuan yang mandiri, kemudian melihat pakaian di atas meja. Pemakainya belum tentu mengetahui siapa pembuatnya atau sedang mengalami perkara seperti dirinya.
'Bisa dipakai duduk dan bergerak tanpa terus dibetulkan,' jawabnya. 'Bentuknya tetap rapi. Tapi itu harus dibuktikan oleh barang yang diterima pembeli, bukan oleh cerita tentang saya.'
Koordinator meminta salah seorang rekan memperagakan gerak yang telah diuji. Pertanyaan berikutnya menjadi lebih jelas: bagaimana bila ukuran berbeda, berapa pilihan warna, dan apa akibatnya terhadap biaya awal. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab Shania. Ia menyebut bagian yang sudah dicoba dan membiarkan anggota lain menjelaskan sisanya.
Usul pertama terlalu besar untuk disetujui. Pilihan beberapa warna dan banyak variasi ukuran akan menyebarkan bahan serta tenaga sebelum tim mengetahui tanggapan pembeli. Bagian pengadaan menunjukkan jumlah yang dapat disiapkan dengan anggaran tersedia. Shania menatap gambar pilihan warna yang dibawanya, menyadari bahwa sebagian tidak akan keluar dari map hari itu.
Ia menyukai warna yang lebih terang. Koordinator memilih warna yang lebih mudah dipadukan, dan bagian penjualan mendukung pilihan tersebut untuk tahap awal. Shania meminta melihat kain di bawah cahaya dekat jendela sebelum menjawab. Dengan bahan yang sudah dipilih, warna itu ternyata memperlihatkan garis jahitan lebih jelas daripada pada gambar.
'Kalau satu warna dulu, aku bisa meneruskan ini,' katanya. 'Tapi tiga ukuran yang kita siapkan harus benar-benar dicoba. Jangan memakai satu contoh lalu hanya membesarkan angka.'
Koordinator mengangguk. Tidak ada orang yang memintanya menghapus kebutuhan itu. Mereka mempersempit jumlah produksi pertama, bukan menganggap pengujian ukuran sebagai kemewahan. Shania mencatat keputusan yang memengaruhi rancangannya, sementara jadwal pembelian bahan ditetapkan oleh orang yang mengurusnya.
Pada akhir rapat, persetujuan diberikan untuk produksi terbatas dengan satu warna dan tiga ukuran. Ada batas biaya dan peninjauan sebelum hasil masuk penjualan. Mereka belum menyebutnya koleksi yang sukses. Shania memastikan contoh yang akan menjadi acuan ditandai bersama koordinator, lalu menyerahkannya untuk penyimpanan tim. Ia membawa pulang salinan catatan kerjanya sendiri, bukan pakaian perusahaan.
Sebelum mereka meninggalkan ruangan, bagian pengadaan menanyakan kapan bahan harus sudah tersedia. Koordinator membandingkan jadwal itu dengan waktu penjahit, lalu menolak usul yang terlalu dekat dengan batas pemeriksaan. Shania mendengar mereka menggeser hari pemotongan, bukan meminta semua orang menutup kekurangan waktu dengan lembur. Ia mencoret jadwal lama pada catatannya. Keputusan pagi itu berarti satu contoh akan berkembang menjadi barang yang benar-benar harus diserahkan, dengan orang lain menunggu pekerjaan yang ia janjikan selesai.
Di luar ruang rapat ia sempat kecewa melihat gambar warna yang tidak terpilih. Rekannya bertanya apakah ingin menyimpannya di meja gambar. Shania menjawab iya, kemudian tersenyum ketika kertas itu dilipat terlalu kecil dan segera dibuka lagi. Mereka meratakannya di atas map agar garis rancangan tidak rusak. Usul yang ditunda tidak harus diperlakukan seperti sesuatu yang memalukan.
Siang itu Shinta mengirim penawaran yang telah disiapkan untuk pesanan kelompok Raka. Shania membacanya saat istirahat, memastikan bagian rancangannya sesuai dengan yang dibicarakan. Jumlah pakaian, jadwal mencoba, serta biaya perubahan dicantumkan dengan jelas. Ia meminta satu penjelasan mengenai batas perubahan bentuk ditambahkan sebelum Shinta mengirimkannya kepada pemesan.
Jawaban Raka datang sore, ketika Shania sudah menyelesaikan pekerjaan kantor. Kelompoknya menerima bentuk dan harga yang ditawarkan. Uang muka masuk ke rekening usaha butik setelah Shinta mengonfirmasi, bukan ke rekening pribadi Shania. Sahabatnya mengirimkan bukti beserta kabar bahwa pemesanan bahan dapat dilakukan. Shania menyimpan informasi waktu pengerjaan, lalu bertanya kapan ia perlu hadir untuk pengepasan.
Penghasilannya dari pekerjaan tersebut belum dapat dihitung sebagai uang yang bebas dibelanjakan. Ada bahan, upah jahit, dan pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak mengurangi rencana tabungan sewa hanya karena satu pesanan telah diterima. Meski begitu, melihat kesepakatan yang sungguh dijalankan membuatnya lebih bersemangat daripada pujian yang tidak disertai pekerjaan.
Sepulang kerja, ia singgah membeli isi ulang makanan kucing yang biasa diletakkannya dekat rumah. Harganya membuat ia mengembalikan satu barang lain yang sempat diambil tanpa berpikir. Ia memilih membawa belanja sendiri agar tidak menambah ongkos. Di gerbang kompleks seekor kucing mendekat, tetapi ia menunggu sampai berada di tempat yang tidak menghalangi kendaraan sebelum menaruh sebagian makanan.
Malam itu Shania membuka catatan tabungannya di kamar tamu. Rumah yang hendak ditinggalkan masih mempunyai suara tangga yang dikenalnya, cahaya dari kamar atas, serta taman yang pernah dirawatnya. Ia tidak perlu membenci setiap sudut untuk memilih pergi ketika waktunya tiba. Ia menuliskan pengeluaran hari itu, meletakkan sisa uang pada tempatnya, dan membiarkan gambar warna yang belum terpilih tetap tersimpan. Tidak semuanya berhasil sekaligus. Dua pekerjaan yang kini mempunyai keputusan nyata sudah cukup untuk membuatnya ingin bangun dan meneruskan hari berikutnya.