Salinan yang dipinjam Arhan kembali pada Kamis malam. Ia mengetuk dan menunggu di luar kamar, menyerahkan kertas tanpa berusaha melihat isi ruangan. Shania memeriksanya, mengucapkan terima kasih, kemudian menutup pintu. Tidak ada percakapan tambahan. Perubahan itu kecil, tetapi ia tidak perlu mengulang pertengkaran agar benda miliknya berada kembali di tempat semula.
Dua hari kemudian ia pergi ke butik Shinta. Pekerjaan perusahaan ditinggalkan di kantor; yang dibawanya hanya meteran sendiri dan buku gambar yang selama ini dipakai bersama sahabatnya. Pelanggan Sabtu lalu akan mencoba bentuk awal pakaian, dan Shania ingin melihat apakah perubahan pada lengan benar-benar menolong saat perempuan itu bergerak.
Di ruang mencoba, pelanggan tersebut mengangkat kedua tangan seolah hendak mengambil barang dari rak. Bagian pinggang ikut tertarik. Shania berjongkok untuk melihat letak sambungan, meminta izin sebelum menyentuh kain, lalu menandai bagian yang perlu dilepas sedikit. Perempuan itu menghela napas lega ketika dapat duduk tanpa menarik pakaiannya berulang kali.
'Kalau berdiri di depan cermin tadi bagus,' katanya. 'Begitu duduk, rasanya mau cepat pulang.'
Shinta tertawa, kemudian meminta penjahit menyisihkan contoh itu untuk diperbaiki. Shania mencatat ukuran yang berubah. Tidak ada janji pakaian selesai hari itu. Pelanggan menerima waktu mencoba berikutnya setelah Shinta memeriksa pekerjaan lain yang sudah lebih dahulu masuk.
Ketika mereka kembali ke ruang depan, Raka sedang menunggu. Ia berdiri dan menyapa tanpa mendekat untuk memeluk. Shinta mengatakan pria itu telah menghubunginya mengenai kebutuhan beberapa orang yang akan menghadiri kegiatan komunitas. Pertemuan baru disepakati setelah jelas bahwa pembicaraan dilakukan melalui butik, bukan undangan pribadi untuk Shania.
'Kita belum sempat bicara lagi sejak persiapan pameran,' kata Raka. 'Aku melihat hasilnya lewat Shinta. Selamat untuk pamerannya.'
'Terima kasih. Sekarang aku juga bekerja di Megah. Kalau soal butik, waktuku terutama di luar jam kerja.'
Raka mengangguk dan mengeluarkan gambar suasana acara yang hendak dihadiri. Ia tidak meminta Shania menyalin pakaian dari foto tersebut. Yang dibutuhkan ialah penampilan yang serasi tanpa membuat semua pemakai terlihat memakai seragam yang sama persis. Shinta menanyakan jumlah, waktu, dan siapa yang akan memberikan keputusan akhir ketika ada perbedaan pendapat.
'Aku yang mengumpulkan jawaban mereka,' kata Raka. 'Tapi aku tidak bisa memutuskan ukuran orang lain.'
'Berarti kami perlu waktu mencoba, bukan cuma daftar ukuran lewat pesan,' jawab Shinta.
Shania melihat foto, lalu menggambar dua kemungkinan bentuk. Ia menanyakan apakah pemakainya akan lebih banyak berdiri atau duduk dan apakah tempat acaranya terbuka. Raka menghubungi salah seorang anggota untuk memastikan, bukannya menebak agar pertemuan cepat selesai. Dari jawaban itu, salah satu bahan yang semula disodorkan Shinta langsung disisihkan.
Pembicaraan tersendat pada waktu pengerjaan. Raka mengira seluruh pesanan dapat selesai dengan waktu yang sama seperti satu pakaian. Shinta membuka kalender dan menunjukkan hari mencoba yang sudah terisi. Ia bersedia menerima hanya jika kelompok itu dapat datang dalam waktu yang tersedia dan menentukan pilihan tanpa mengganti seluruh bentuk menjelang penyerahan.
Raka berpikir cukup lama. Shania tidak menawarkan bekerja setiap malam untuk mengatasi keraguan tersebut. Ia menyukai kesempatan itu, tetapi mengenal tubuhnya yang masih harus berangkat pagi ke kantor. Ia menerangkan bagian yang dapat dikerjakannya dan bagian yang harus melalui penjahit butik, sehingga keberhasilannya tidak bergantung pada satu orang yang terus terjaga.
'Kalau mereka tidak bisa datang bersamaan?' tanya Raka.
'Bisa bergiliran dalam jadwal yang disepakati,' jawab Shinta. 'Yang tidak bisa, jangan baru kita tahu ketika pakaian sudah dijahit.'
Akhirnya mereka menyepakati Raka akan membawa jawaban kelompok sebelum pesanan diterima. Gambar awal tetap berada di butik. Shania menjelaskan bahwa perubahan sesudah pilihan disahkan akan diperhitungkan menurut pekerjaan yang bertambah, bukan diberikan cuma-cuma karena mereka pernah duduk semeja di kafe.
Raka tersenyum kecil. 'Aku datang sebagai pemesan. Bilang saja kalau ada yang tidak masuk akal.'
Kalimat itu membuat Shania lebih santai daripada pujian tentang keberaniannya memulai hidup baru. Ia tidak perlu menceritakan perkara rumah untuk memperoleh kesediaan orang membayar kerja mereka. Ketika Raka meminta nomor yang dapat dihubungi, Shinta memberikan kontak usaha butik dan mengatakan pembicaraan pesanan akan disimpan di sana.
Seusai Raka pergi, Shania merapikan gambar dan baru menyadari ia belum makan. Shinta mengajaknya ke belakang, tempat dua bungkus nasi sudah menunggu. Sahabatnya bertanya apakah ia merasa keberatan Raka datang. Shania menjawab tidak, lalu meminta diberi tahu lebih dahulu bila ada pertemuan serupa pada kesempatan berikutnya.
'Kamu menyampaikan pesanan, bukan menjodohkan aku, kan?'
Shinta meletakkan sendok. 'Aku tahu kamu belum ingin itu. Aku tetap seharusnya mengabari siapa yang akan datang.'
Shania mengangguk. Mereka makan sambil membahas pelanggan yang tadi mencoba pakaian, tidak mengubah seluruh siang menjadi pembicaraan tentang pria. Sesudah makan, Shania membantu memeriksa letak tanda pada lengan, kemudian menunggu sampai perubahan itu dicatat oleh orang yang akan menjahitnya.
Menjelang pulang, jawaban Raka masuk ke kontak butik. Kelompoknya bersedia mengikuti jadwal mencoba. Shinta belum meminta uang sebelum rincian pekerjaan serta harga selesai disepakati. Ia menunjukkan pesan kepada Shania dan keduanya memilih waktu singkat untuk menyelesaikan rancangan penawaran, bukan langsung mengambil kain dari gudang.
Sebelum keluar, Shania mengembalikan meteran pinjaman ke tempatnya dan memastikan meterannya sendiri masuk tas. Shinta masih menerima pelanggan di depan; ia berpamitan dengan lambaian, tidak memotong percakapan tentang pakaian yang sedang dicoba.
Shania meninggalkan butik saat langit masih terang. Ia membawa salinan gambar miliknya sendiri dan dua buah yang dibeli untuk dimakan di kamar. Di perjalanan ia tidak membayangkan Raka datang menyelamatkannya dari rumah Arhan. Ia memikirkan bagaimana membuat beberapa orang merasa serasi tanpa menghapus bentuk tubuh mereka yang berbeda, dan apakah ongkos tambahan dari pesanan itu kelak dapat disimpan untuk tempat tinggalnya. Belum ada uang yang diterima. Untuk sekarang, ia mempunyai kemungkinan kerja yang dapat dijawab dengan keputusan, bukan harapan yang harus dibayar orang lain.