Pada Rabu malam, Shania pulang lebih lambat karena kendaraan yang ditumpanginya lama menunggu penumpang. Ia tidak sedang menghadiri rapat tambahan. Di sepanjang perjalanan ia membayangkan mandi, makan sederhana, lalu tidur tanpa membuka gambar lagi. Ketika melewati taman samping, ia melihat cahaya dari jendela kamar tamu dan berhenti. Ia ingat sudah mematikan lampu sebelum berangkat.
Pintunya terbuka sedikit. Arhan berdiri dekat lemari sambil memegang selembar kertas. Tas kerja Shania belum sempat diturunkan ketika ia bertanya apa yang sedang dilakukan pria itu di dalam kamarnya. Arhan menoleh terlalu cepat, lalu menunjukkan lembar tersebut seolah benda di tangannya sudah cukup menjelaskan kehadirannya.
'Aku mencari salinan yang kemarin kita cocokkan. Ada bagian yang diminta lagi.'
'Kenapa tidak menunggu aku pulang?'
'Aku pikir ada di mapmu. Aku cuma mencari itu.'
Shania meletakkan tas di kursi, tetap berdiri di dekat pintu. Lemari tidak terbuka lebar, tetapi map yang biasanya disimpan tegak kini berada di atas tempat tidur. Ia mengambilnya dari sana. Kertas yang dicari Arhan memang termasuk salinan perkara. Itu tidak membuat seluruh barang di kamar ini boleh diperiksa tanpa bertanya.
'Kamu sudah membuka apa saja?'
'Arsip di dalam map. Aku tidak mengambil barangmu.'
'Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku.'
Arhan memandang lemari, kemudian menyebutkan laci yang sempat ditariknya ketika map tidak langsung terlihat. Shania menutup mata sejenak. Ia teringat kotak hadiah dari Shinta yang pernah dibuka untuk mencari bukti tentang dirinya. Dahulu penemuan memo sahabatnya seakan membuat persoalan selesai karena ia terbukti tidak menerima hadiah dari pria lain. Malam ini ia baru dapat mengatakan bahwa tidak ditemukannya kesalahan bukan alasan menganggap penggeledahan itu tidak pernah melukainya.
'Waktu baju dan tas dari Shinta kamu periksa, aku tidak jadi kehilangan barang,' katanya. 'Tapi aku tetap tidak ingin diperlakukan seperti itu.'
'Aku sedang mencari berkas, Shan. Bukan menuduhmu macam-macam.'
'Aku dengar. Aku juga sedang mengatakan kamu harus bertanya sebelum masuk dan membuka penyimpananku.'
Arhan meletakkan kertas di atas meja. Ia mulai menyebut rumah tersebut sebagai rumah mereka, kemudian berhenti sebelum kalimatnya selesai. Selama beberapa pekan, ia sendiri telah terbiasa membiarkan Shania tinggal di kamar tamu tanpa mengatur lagi pakaian atau makanannya. Ternyata menerima perubahan jadwal belum sama dengan menerima bahwa ia tidak berhak mengetahui seluruh isi ruang perempuan itu.
Shania memeriksa salinan yang dibutuhkan, lalu mengambilnya. Ia tidak merobek atau menahannya sebagai balasan. Ia memberikan lembar tersebut dan meminta Arhan keluar dahulu. Pria itu ingin menjelaskan bahwa ia terburu-buru, tetapi Shania tidak beranjak dari pintu. Setelah beberapa detik, Arhan berjalan melewatinya menuju ruang tengah.
'Aku tidak tahu kamu akan semarah ini,' katanya.
'Aku lelah karena harus menjelaskan ketika sudah terjadi.'
Pintu ditutup setelah Arhan keluar. Shania duduk di tepi tempat tidur dengan kedua telapak tangan di lutut. Jantungnya masih berdebar, meskipun tidak ada teriakan dan tidak satu pun barang hilang. Ia memeriksa dokumen pribadinya, bukan untuk mencari alasan bertengkar lebih lama, melainkan memastikan tahu letaknya setelah orang lain memindahkan map tersebut.
Dari laci yang terbuka ia menemukan memo Shinta terjepit di bawah kain. Sudutnya terlipat setelah barang-barang dipindahkan. Shania meratakannya dengan jari dan memasukkannya kembali ke kotak hadiah. Tas pemberian sahabatnya masih dipakai bekerja, sementara pakaian itu telah beberapa kali dicuci. Barang-barang tersebut sudah menjadi bagian hari biasa, tetapi ia masih mengingat betapa hati-hati Shinta memilihnya agar ia berani memulai hari pertama kembali merancang bersama tim butik, sebelum tawaran kerja Megah datang.
Ketika mengetuk lagi, Arhan menunggu sampai Shania menjawab. Ia berdiri di luar sambil membawa lembar yang tadi diambil. Ia bertanya apakah diperbolehkan membuat salinan, karena berkas miliknya terselip di antara kertas yang telah diserahkan saat mengurus perkara. Shania mengatakan boleh, lalu menyebutkan kapan ia memerlukan kertas itu kembali.
'Aku seharusnya menghubungimu tadi,' kata Arhan.
'Iya.'
Jawaban pendek itu membuat pria tersebut kehilangan kalimat lanjutan. Shania menambahkan bahwa urusan dokumen dapat dibicarakan melalui pesan bila ia belum pulang. Ia tidak perlu menerima kabar panjang, cukup pertanyaan tentang lembar tertentu. Jika memang belum mendapat jawaban, Arhan harus menunggu atau mencari salinannya sendiri.
Arhan mengangguk dan pergi. Shania tidak segera menghubungi Shinta untuk meminta sahabatnya menilai apakah ia terlalu keras. Ia membuka jendela sedikit, menghirup udara taman, lalu mengeluarkan pakaian ganti. Waktu mandi dan makan yang dibayangkannya tadi sudah bergeser, tetapi ia tidak ingin membiarkan seluruh malam dikuasai kejadian di depan lemari.
Di dapur ia menanak sedikit nasi dan memanaskan lauk yang dibelinya. Arhan sedang duduk di ruang tengah. Tidak ada yang menawarkan pembicaraan kedua. Shania makan di meja, membilas piringnya, lalu mengambil air minum untuk dibawa ke kamar. Ia masih tinggal di alamat yang sama, namun tidak ingin kembali menjadi orang yang harus mengurus kebutuhan semua penghuni untuk mendapat hak beristirahat.
Sebelum tidur, ia memeriksa kunci kamar. Sejak pindah ke kamar tamu ia jarang menggunakannya pada siang hari. Kali ini ia menyimpannya bersama kunci lain yang selalu dibawa bekerja. Ia tidak mengganti kunci rumah atau menghalangi Arhan memakai ruang bersama. Ia hanya memastikan dapat menutup kamar yang selama ini menjadi tempat tinggalnya sendiri di dalam rumah itu.
Pada layar ponsel ada pesan Arhan yang dikirim dari ruang lain: salinan akan dikembalikan besok malam setelah selesai diperbanyak. Shania membalas terima kasih dan menyimpan percakapan tersebut bersama jadwal perkara. Ia tidak memberi ucapan yang membuat pria itu merasa tindakan sederhana tadi telah memulihkan hubungan mereka.
Lampu kamar akhirnya padam. Shania berbaring menghadap jendela, mendengarkan bunyi air dari taman samping. Ia masih ingin mempunyai tempat yang tidak harus dijelaskan setiap kali seseorang membuka pintu. Keinginan itu belum berubah menjadi kunci kontrakan dalam tangannya, tetapi malam ini ia tahu satu hal yang perlu dipertahankan selama menunggu: persiapannya untuk pergi tidak menghapus haknya untuk dihormati selagi masih tinggal.