Senin berikutnya, Arhan menemukan dua orang rekan menatap ke arah ruang tim busana. Shania baru saja melewati koridor bersama koordinator, membawa contoh yang telah dipilih Jumat lalu. Salah seorang rekan bertanya apakah Arhan dapat menitipkan permintaan agar pesanan keluarganya dikerjakan lebih cepat. Pria itu mengatakannya sambil tersenyum, seolah hubungan dengan istri orang lain adalah jalan pintas yang wajar.
'Aku tidak mengatur pekerjaan Shania,' jawab Arhan.
'Bukan mengatur. Cuma menyampaikan. Dia kan masuk sini juga karena kenal orang.'
Arhan meletakkan gelas yang baru diisinya. Beberapa waktu lalu ia mungkin akan membiarkan kalimat tersebut, senang dianggap masih mempunyai pengaruh. Pagi ini ia mendengar kembali ucapannya sendiri ketika bertanya mengapa Shania dapat bekerja begitu cepat. Ia pernah membuat kecurigaannya terdengar seperti informasi, meskipun tidak mengetahui proses yang dijalani perempuan itu.
'Aku pernah bicara sembarangan tentang itu,' katanya. 'Aku tidak ikut menerima atau menilai pekerjaannya. Jangan memakai namaku untuk minta didahulukan.'
Keduanya terdiam. Seorang mengangkat bahu dan mengatakan ia hanya bercanda. Arhan tidak mengejar untuk membuktikan siapa yang paling bersalah. Ia mengambil gelasnya, lalu meninggalkan tempat itu sebelum pembicaraan berubah menjadi cerita tentang keadaan rumahnya.
Di meja kerja, ia menerima pesan Ardi mengenai laporan yang masih harus dirapikan. Arhan membuka berkas, tetapi matanya tidak segera mengikuti angka. Ia ingin menemui Shania dan mengatakan apa yang baru dilakukan. Keinginan tersebut terasa seperti hendak menyerahkan kuitansi kebaikan agar namanya diingat. Ia menahan diri sampai pekerjaan yang ditanyakan Ardi benar-benar dikirim.
Menjelang istirahat, Arhan mengirim pesan singkat kepada Shania. Ia tidak meminta perempuan itu datang ke ruangnya. Ia mengatakan ada ucapan mengenai cara Shania diterima bekerja yang pernah disampaikannya sendiri kepada rekan, dan ia ingin meluruskannya tanpa membahas perkara pribadi. Shania membalas beberapa menit kemudian, meminta bertemu sebentar di tempat terbuka dekat kantin.
Ketika Arhan tiba, Shania sudah membeli air minum. Map tipis berada di sisinya. Ia menunjuk kursi di seberang, lalu menunggu tanpa membuka pembicaraan tentang persidangan. Arhan duduk dan menyebutkan secara jelas kalimat yang pernah diucapkannya, termasuk bagian yang ternyata hanya berasal dari rasa curiga.
'Kenapa kamu baru mengatakan ini kepadaku sekarang?' tanya Shania.
'Ardi pernah menegurku soal caraku bicara. Tadi aku mendengar orang memakainya untuk meminta sesuatu. Aku tidak bisa berpura-pura tidak ada hubungannya denganku.'
Shania memutar botol di antara kedua tangan. Ia ingat rekan yang pernah meminta maaf setelah pameran. Permintaan maaf itu tidak berarti setiap orang di gedung telah memahami pekerjaannya, apalagi menghapus cerita lain yang mungkin masih beredar. Namun ia tidak ingin menghabiskan waktu mencari setiap percakapan yang terjadi tanpa dirinya.
'Aku tidak mau kamu mengumpulkan orang untuk mendengarkan kisah perkawinan kita,' katanya.
'Aku tidak akan begitu.'
'Dan jangan mengatakan aku sebenarnya istri yang baik sebagai alasan pekerjaanku harus dihargai. Mereka perlu melihat pekerjaan yang memang kukerjakan.'
Arhan mengangguk. Shania bertanya kepada siapa ucapan itu dahulu disampaikan. Ia menyebut lingkup percakapannya, bukan menambahkan orang yang mungkin hanya mendengar dari orang lain. Shania memintanya mengoreksi bagian tersebut kepada orang yang sama dan berhenti menjawab permintaan yang seharusnya melalui butik atau perusahaan.
'Kalau mereka punya pesanan, ada caranya sendiri. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa hanya karena kamu mengenal mereka.'
'Aku sudah mengatakan itu pagi tadi.'
'Baik. Kalau kamu perlu menerangkan bahwa dugaanmu dulu salah, silakan. Aku tidak sedang mengizinkanmu berbicara atas namaku untuk hal lain.'
Tidak ada senyum yang menandai percakapan selesai dengan hangat. Shania melihat jam, lalu mengatakan harus kembali sebelum waktu istirahat berakhir. Arhan hampir menanyakan kabar, tetapi perempuan itu sudah berdiri membawa botol dan map. Ia membiarkannya pergi tanpa menyebut tindakan tadi sebagai bukti ia pantas mendapat kesempatan.
Sore harinya Arhan menemui rekan yang dahulu mendengar ucapannya. Ia memilih saat mereka sedang tidak melayani pekerjaan lain. Ia mengatakan dugaan tentang penerimaan Shania bukan informasi yang ia ketahui, dan ia tidak seharusnya menyebarkannya. Seorang rekan mengingatkan bahwa sebagian orang sudah meminta maaf setelah pameran. Arhan menjawab bahwa itu tidak membebaskannya dari mengoreksi ucapannya sendiri.
'Jadi sekarang kalian baik lagi?' tanya orang itu.
'Ini bukan pengumuman tentang hubungan kami.'
Arhan tidak menjelaskan lebih jauh. Percakapan itu berakhir canggung, tanpa tepuk bahu yang menenteramkan. Ia kembali ke meja dan menemukan catatan Raden mengenai laporan. Masih ada bagian yang harus dijelaskan. Memperbaiki satu ucapan tidak membuat tugas yang ditinggalkan selesai dengan sendirinya.
Di sisi gedung yang berbeda, Shania sedang memeriksa hasil jahitan depan yang disederhanakan. Koordinator meminta pendapatnya sebelum dibawa pada rapat keputusan. Garis baru tampak lebih bersih, tetapi salah satu sambungan perlu dipindahkan sedikit. Shania menunjukkan bagian tersebut, lalu membantu membandingkannya dengan gambar yang telah disepakati. Ia tidak menerima kabar tentang percakapan Arhan sore itu dan tidak mengecek apakah ia mendapat pujian.
Saat pulang, seorang rekan menanyakan cara menghubungi butik Shinta untuk memesan pakaian. Shania memberikan kontak usaha, menjelaskan bahwa waktu pengerjaan harus ditanyakan langsung sesuai jumlah pesanan. Perempuan itu mengucapkan terima kasih dan menyimpan nomor. Untuk pertama kalinya setelah beberapa percakapan yang melelahkan hari itu, urusan tersebut berhenti tepat pada kebutuhan orang yang bertanya.
Sebelum meninggalkan gedung, ia kembali sebentar karena botol minumnya tertinggal di meja. Rekan yang masih membereskan kain menyerahkannya sambil meminta ia menutup jendela dekat sampel. Shania melakukannya, lalu berpamitan. Tidak ada orang yang meminta penjelasan tentang siapa yang menunggunya di rumah.
Di kendaraan umum, Shania membuka pesan Shinta mengenai pelanggan Sabtu. Ukurannya telah dicatat, dan penjahit butik sedang memeriksa kemungkinan bentuk yang mereka bicarakan. Ia membalas satu pertanyaan tentang gerak lengan, kemudian menutup layar. Ada pekerjaan yang menunggu jawaban darinya. Ia ingin pulang dengan tenaga yang masih cukup untuk makan, bukan membawa seluruh pendapat orang kantor ke dalam kamar.