Jumat siang, koordinator memanggil Shania ke meja sampel. Tiga potongan kain diletakkan berdampingan, masing-masing sudah dicuci dan dikeringkan oleh tim. Di sebelahnya terdapat hasil uji yang dilakukan ketika ia tidak masuk untuk menghadiri persidangan. Shania membaca dahulu sebelum meraih blus contoh. Ia tidak ingin mengubah keputusan hanya karena telapak tangannya menyukai bahan tertentu.
'Bagian lehernya bagaimana waktu dipakai?' tanyanya.
Rekan yang ikut mencoba menunjukkan sisi dalam kerah. Pada bahan pertama, bagian itu tampak rapi ketika diletakkan, tetapi menekan kulit setelah dipakai bergerak. Bahan kedua lebih lentur, namun garis jatuhnya berubah sesudah pencucian. Yang ketiga tidak sehalus pilihan Shania semula. Ia mengangkatnya ke dekat cahaya dan mengernyit pada permukaan yang sedikit bertekstur.
'Kalau hanya dilihat dari jauh, aku masih memilih yang kedua,' katanya.
Koordinator menggeser catatan. 'Dilihat dari jauh tidak cukup. Pemakainya akan duduk, berkeringat, dan mencucinya.'
Shania mengangguk. Ia meminta mencoba contoh itu sendiri. Di tempat berganti, ia memeriksa jahitan tanpa bantuan orang lain, lalu kembali dengan rambut diikat agar tidak tersangkut. Ketika menoleh dan menunduk, ia merasakan sesuatu yang tidak tampak pada gambar. Ujung kerah pilihan kedua menggesek lebih keras daripada perkiraannya.
Ia tidak langsung membuka kancing karena malu dianggap gagal menilai bahan. Ia melakukan gerakan yang diminta, duduk, kemudian meraih benda di ujung meja. Rekannya melihat ia beberapa kali mengusap leher dan menanyakan apakah bagian itu mengganggu. Shania mengiyakan. Menyangkal hanya akan membuat mereka mempertahankan sesuatu yang ia sendiri tidak ingin kenakan seharian.
'Aku ingin mencoba bahan ketiga dengan lapisan yang kita bicarakan,' katanya setelah mengganti kembali pakaiannya.
Tim tidak harus menjahit satu blus baru untuk setiap kemungkinan. Mereka menyiapkan bagian kerah pada potongan yang dapat dipasang ke contoh yang sama. Shania membantu menahan kain ketika penjahit mengatur sambungan. Sekali ia menarik terlalu kencang dan diminta melepaskan tangan agar serat tidak berubah. Ia meminta maaf, lalu menunggu sampai benar-benar dibutuhkan.
Menjelang sore, bagian pengadaan membawa keterangan harga. Pilihan yang lebih nyaman ternyata mempunyai selisih yang tidak dapat diabaikan jika dihitung untuk seluruh rencana produksi. Shania memandangi angka tersebut, teringat pembicaraan di pameran tentang busana yang dapat dipakai, bukan hanya difoto. Ia hampir mengusulkan agar selisihnya dianggap kecil demi hasil yang baik, kemudian bertanya lebih dahulu apakah ada batas yang telah disepakati.
Koordinator menjelaskan bahwa biaya harus dibawa pada rapat keputusan. Mereka belum diperintahkan memotong kain sebanyak apa pun. Hasil hari ini harus memperlihatkan apa yang didapat dari biaya tambahan, serta bagian lain yang mungkin disederhanakan tanpa mengorbankan kenyamanan.
Shania menatap hiasan di sisi depan gambar. Pada pameran, garis itu membantu rancangan terlihat dari panggung. Untuk blus harian, pengerjaannya memakan waktu lebih panjang daripada yang ia perkirakan. Ia mengambil pensil dan menggambar versi tanpa hiasan tersebut, mempertahankan bentuk utama yang memang ingin ditawarkan.
'Kalau ini dilepas, wajahnya berubah,' kata salah seorang rekan.
'Iya. Aku tidak ingin menyebutnya sama persis. Tapi mungkin lebih masuk akal untuk pemakaian yang sedang kita kerjakan.'
Mereka membandingkan kedua gambar dengan blus contoh. Tidak semua orang menyukai versi yang lebih sederhana. Shania mendengarkan keberatan mengenai bagian depan yang terasa terlalu kosong, lalu mengubah letak garis jahitan, bukan menambahkan hiasan lain hanya untuk menyamarkan penghapusan. Sesudah dua percobaan di kertas, mereka menyepakati satu usul yang dapat dijahit pada contoh berikutnya.
Tidak ada persetujuan produksi sore itu. Yang dipilih hanya bahan dan bentuk untuk dibawa kepada pengambil keputusan, lengkap dengan alasan serta perkiraan biaya yang akan diperiksa kembali. Shania menulis bagian pekerjaannya sendiri, sementara koordinator memastikan orang yang bertanggung jawab pada harga ikut menandai keterangan tersebut. Ia tidak membubuhkan angka yang tidak dihitungnya.
Saat meja dibersihkan, ponselnya menerima foto dari Shinta. Sebuah sudut pajangan butik kosong karena pakaian yang biasanya digantung di sana telah diambil pembeli. Shinta bertanya apakah Shania sempat datang Sabtu untuk membahas pesanan lain. Ia menjawab dapat datang setelah makan siang, tetapi tidak dapat membawa contoh milik perusahaan untuk diperlihatkan begitu saja.
Shinta membalas bahwa yang dibutuhkan justru matanya, bukan sampel kantor. Ada pelanggan lama yang ingin memesan pakaian untuk acara keluarga dan belum menemukan bentuk yang nyaman. Shania tersenyum membacanya. Pertanyaan tentang bahan yang menggesek leher sore itu tiba-tiba terasa berguna di luar meja rapat, meskipun ia tetap harus memisahkan kedua pekerjaan.
Dalam perjalanan pulang ia mampir ke tempat makan kecil dekat perhentian kendaraan. Ia memesan satu porsi dan memakannya di sana. Dua perempuan di meja sebelah sedang berdebat ringan tentang kancing lengan yang mudah terbuka. Shania sempat melirik, lalu menahan diri untuk tidak menawarkan nasihat kepada orang yang tidak dikenalnya. Ia hanya mencatat dalam ingatan betapa jarangnya orang membahas pakaian melalui istilah yang dipakai di ruang desain.
Ketika tiba di rumah Arhan, ia menemukan pria itu di dapur. Sebuah wadah makanan terbuka di depannya. Arhan bertanya apakah ia sudah makan. Shania menjawab sudah dan menaruh botol minumnya di dekat bak cuci. Pertanyaan berikutnya tidak datang, sehingga ia mencuci botol, mengeringkannya, lalu kembali ke kamar tamu.
Di dalam kamar ia mengganti pakaian kerja dan memeriksa lehernya di cermin. Bekas kemerahan dari uji tadi hampir tidak terlihat. Ia melepaskan ikatan rambut dan mengoleskan sedikit pelembap yang biasa dipakai. Gambar yang paling disukainya pagi tadi tidak lagi menjadi usul utamanya. Ia kecewa, tetapi tidak merasa harus mempertahankannya agar orang menganggap ia berbakat.
Sebelum tidur ia mengirim konfirmasi waktu kepada Shinta. Untuk pertama kalinya pekan itu, yang ditunggunya esok bukan panggilan atau jawaban dari Arhan. Ia menyiapkan meteran sendiri dan memasukkannya ke tas untuk besok. Ada seorang pelanggan yang akan mencoba duduk dengan pakaiannya sendiri, dan Shania ingin mendengar bagian mana yang membuat perempuan itu tidak nyaman.