Dua hari setelah persidangan, Arhan menemui Atika di apartemennya. Ia datang setelah bekerja, membawa makanan yang dibeli dalam perjalanan. Atika membukakan pintu tanpa senyum, lalu berjalan kembali ke meja tempat ponselnya tergeletak. Selama dua hari itu ia telah bertanya beberapa kali mengapa panggilannya hanya dibalas pesan singkat.
'Jadi sudah selesai?' tanyanya ketika Arhan meletakkan kantong makanan.
'Belum. Masih ada tahapan berikutnya.'
Atika berbalik. 'Dulu kamu bilang sudah diajukan. Aku pikir tinggal mengambil surat.'
'Aku tidak pernah bilang bisa selesai dalam satu hari.'
'Tapi kamu juga tidak menjelaskan harus menunggu berapa lama.'
Arhan menarik kursi, tetapi belum duduk. Ia melihat makanan yang mulai kehilangan uap dan merasa percakapan mereka sudah salah sebelum sempat dimulai. Di kantor ia baru saja menyerahkan penjelasan tambahan untuk tagihan acara. Ardi telah memeriksa urutan waktunya sebelum laporan diteruskan kepada Raden. Kesalahan itu tidak bisa dihapus dengan mengganti tanggal pada salinan terakhir; pekerjaan dan biaya yang terlanjur terjadi tetap harus diperiksa.
Atika membuka kotak makanan. Ia mengatakan sudah makan sedikit, kemudian menyisihkan sendok untuk Arhan. Gerakan itu sempat membuat pria tersebut berharap malam akan kembali seperti dahulu. Lalu Atika menunjukkan pesan pengingat pembayaran yang diterimanya.
'Aku perlu tahu kapan kamu mengirim uang bulan ini.'
Arhan duduk. Ia membuka aplikasi rekening dan menatap saldo sebelum menyerahkan layar. Nama Atika masih berada pada daftar penerima. Bukti transfer tiga puluh juta yang pernah dikirimnya untuk sewa apartemen tersimpan di sana. Saat itu ia merasa mampu membuktikan bahwa pilihannya bukan sekadar hubungan sembunyi-sembunyi. Kini angka tersebut membuatnya menghitung ulang pembayaran lain yang akan datang.
'Yang dulu sudah dipakai sesuai yang kamu bilang?' tanyanya.
Wajah Atika berubah. 'Kamu sedang menuduhku?'
'Aku bertanya. Aku harus mengatur uangku sekarang.'
'Waktu kamu mengirim, kamu tidak bilang itu pinjaman. Jangan setelah bertengkar dengan istrimu aku tiba-tiba disuruh mengembalikan semuanya.'
Arhan menarik kembali ponselnya. Ia memang tidak pernah menyebut pinjaman. Keinginan untuk melihat angka itu kembali tidak mengubah apa yang dikatakannya ketika mentransfer. Ia menatap Atika dan mengatakan uang lama tidak sedang ditagih kembali. Yang tidak dapat ia lakukan ialah mengirim tambahan tanpa lebih dahulu mengetahui pengeluaran yang harus ditanggungnya sendiri.
'Kamu menjanjikan aku hidup yang lebih pasti,' kata Atika. 'Aku tidak menyuruhmu datang lalu mulai menghitung setiap kotak makan.'
'Aku juga tidak sedang menghitung makanan ini.'
'Tapi kamu membawanya seperti ingin menunjukkan sudah berbuat sesuatu.'
Arhan menggeser kantong kosong menjauh. Ia ingin mengatakan Shania tidak pernah menuntut seperti ini, lalu menahan kalimat tersebut. Membandingkan kedua perempuan hanya akan menyelamatkannya sebentar dari peran yang ia pilih sendiri. Atika tidak mengambil ponselnya diam-diam atau memindahkan uang itu tanpa izin. Ia yang menekan tombol kirim, menikmati ucapan terima kasih, dan membayangkan dirinya sebagai laki-laki yang mampu memberikan apa pun.
'Aku berjanji terlalu banyak tanpa menghitung,' katanya.
Atika terdiam, tetapi bukan karena tersentuh. 'Sekarang aku yang harus menanggung akibatnya?'
'Aku perlu membatasi janji berikutnya. Bukan mengubah pemberian yang sudah terjadi menjadi utangmu.'
Atika mendorong layar ponselnya mendekat, memperlihatkan rincian pembayaran yang dimaksud. Beberapa memang berkaitan dengan tempat tinggal; sebagian lain adalah belanja yang tidak pernah mereka bicarakan. Arhan menunjukkan bagian yang tidak akan ia sanggupi. Atika menarik ponselnya sebelum mereka selesai membaca.
'Dulu kamu tidak keberatan.'
'Dulu aku ingin kamu selalu senang ketika aku datang.'
Kalimat itu terdengar buruk setelah diucapkan. Atika menatapnya lama, lalu bertanya apakah ia masih ingin menikah dengannya. Arhan tidak menjawab secepat dulu. Bayangan Wati duduk menunggu di pengadilan muncul, disusul Shania yang memilih naik mobil Shinta. Ia tidak dapat menawarkan tanggal yang belum diketahuinya atau memesan cincin untuk membuat malam ini berhenti terasa seperti tagihan.
'Aku masih harus menyelesaikan perkara itu,' jawabnya.
'Aku tahu. Pertanyaanku bukan itu.'
Arhan menunduk. Atika berdiri membawa kotak makanan ke dapur. Bunyi tutup yang ditekan terlalu keras membuatnya sadar betapa sering ia bersembunyi di balik urusan yang belum selesai. Ia belum berani melepaskan Atika, tetapi juga tidak dapat mengucapkan kembali seluruh janji yang dulu membuat hubungan ini terasa mudah.
Mereka akhirnya makan dalam diam. Atika hanya menyentuh beberapa suap. Arhan tidak menawarkan menginap. Ketika berdiri untuk pulang, ia menyebutkan jumlah tambahan yang benar-benar dapat disisihkan setelah memeriksa kewajibannya, lalu mengatakan ia akan memastikan terlebih dahulu sebelum mengirim. Atika menolaknya malam itu, bukan karena tidak membutuhkan uang, melainkan karena merasa sedang menerima sisa.
'Jangan kirim untuk membuatku berhenti marah,' katanya. 'Kalau kamu sudah tidak mau seperti dulu, bilang.'
Arhan mengangguk tanpa menemukan jawaban yang cukup. Ia membawa pulang makanan yang tidak disentuh setelah Atika mengatakan tidak ingin menyimpannya. Di lift ia memegang kantong itu dengan kedua tangan, terlalu malu membuangnya hanya karena malam tidak berjalan sesuai harapan.
Di tempat parkir ia sempat membuka percakapan lama, mencari kalimat ketika ia pertama menawarkan bantuan sewa. Pesan itu masih ada, tanpa syarat pengembalian yang kini diam-diam diharapkannya. Ia menutup layar sebelum menyalakan mesin. Tidak ada pesan penagihan yang dikirimkannya malam itu.
Di rumah, lampu kamar tamu masih menyala. Arhan berhenti di ujung lorong ketika mendengar Shania sedang menelepon. Suaranya biasa, membahas kain dengan Shinta, bukan menanyakan kapan ia pulang. Arhan melanjutkan langkah ke dapur dan memasukkan makanan ke lemari pendingin. Ia tidak mengetuk untuk meminta Shania memanaskannya atau mendengarkan pertengkarannya dengan Atika.
Sebelum tidur, ia membuka catatan pembayaran. Untuk pertama kali ia menuliskan tiga puluh juta itu sebagai uang yang sudah keluar, bukan angka yang bisa dipulihkan dengan menyalahkan penerima. Di bawahnya ia mencatat kewajiban yang belum selesai dan pertanyaan yang harus diajukan melalui proses perkara. Saldo tidak bertambah setelah semuanya ditulis. Namun ia tidak lagi dapat berpura-pura bahwa berpisah dari Shania otomatis membuat seluruh hidupnya lebih lapang.