Pada pagi yang ditentukan, Shania menunggu Wati di depan rumah Arhan. Ia sudah menyerahkan gambar kepada koordinator sehari sebelumnya dan menerima konfirmasi izin. Map berada di pangkuannya ketika kendaraan berhenti. Wati turun sebentar untuk memastikan ia tidak menunggu di sisi jalan yang terlalu dekat dengan kendaraan lewat, lalu keduanya berangkat tanpa menanyakan apakah Arhan sudah siap.
Shania melihatnya lagi di tempat menunggu pengadilan. Arhan berdiri ketika mereka mendekat. Kemejanya rapi, tetapi matanya berkali-kali bergerak kepada map di tangan Shania. Ia memberi salam kepada ibunya dan menunjukkan tempat mereka harus melapor. Shania merapatkan map di sisinya dan mengikuti Wati menuju tempat yang ditunjukkan petugas.
Petugas memeriksa panggilan serta identitas mereka. Shania menyerahkan miliknya sendiri. Ketika diminta menunggu, ia duduk di samping Wati, menyisakan kursi antara dirinya dan Arhan. Seorang anak di baris depan menjatuhkan botol minum. Ibunya memungutnya sambil terus memandangi pintu. Shania menunduk agar tidak membuat kisah orang lain menjadi tontonan untuk mengalihkan ketakutannya.
'Aku tunggu di sini kalau kamu diminta masuk sendiri,' kata Wati.
Shania mengangguk. Ada bekal kecil di dalam tas perempuan itu, tetapi belum seorang pun ingin memakannya. Mereka menunggu sampai nama yang dikenalnya terdengar. Shania berdiri terlalu cepat, kemudian menahan map agar kertas tidak tergelincir. Arhan membuka jalan tanpa menyentuh pinggangnya. Di depan pintu ia berhenti dan membiarkan Shania melangkah sendiri.
Di dalam, mereka menjawab pertanyaan tentang identitas dan hubungan mereka. Shania sempat salah mendengar satu kalimat, lalu meminta diulang. Petugas mengulangi kalimat itu lebih pelan, menunggu sampai jawabannya terdengar jelas sebelum beralih ke pertanyaan berikut. Ia mendapati bahwa ia boleh mengatakan tidak mengerti, bukan mengangguk karena takut dianggap menyulitkan. Setelah penjelasan mengenai upaya perdamaian, mereka diarahkan mengikuti proses yang harus dilalui keduanya.
Dalam percakapan berikutnya, Arhan tidak langsung mengulang keinginannya berpisah. Ia memandang Shania ketika ditanya apakah masih mungkin mempertahankan rumah tangga. Perempuan itu menunggu. Beberapa pekan lalu ia mungkin akan menganggap jeda tersebut sebagai pertanda bahwa pria itu akhirnya melihat nilainya.
'Saya pernah mengatakan ingin bercerai,' jawab Arhan. 'Sekarang saya merasa banyak hal sudah berubah.'
'Yang berubah apa?' tanya Shania, setelah mendapat kesempatan berbicara.
Arhan meremas tangan di bawah meja. 'Kamu sudah bekerja. Kita tidak pernah duduk membicarakan semuanya dengan tenang.'
'Sebelum aku bekerja, aku juga pernah meminta kita bicara. Aku tidak ingin dipersalahkan karena sekarang aku mempunyai kegiatan sendiri.'
Ia berhenti untuk menarik napas. Orang yang memandu pembicaraan memberinya waktu. Shania menerangkan bahwa hubungan dengan perempuan lain dan keputusan yang sudah dijatuhkan di rumah tidak hilang hanya karena ia tidak lagi menunggu di meja makan. Ia tidak perlu menceritakan setiap penghinaan untuk menyampaikan bahwa ia tidak ingin kembali pada keadaan tersebut.
Arhan membantah bahwa ia sedang menyalahkan pekerjaannya. Ia mengatakan hanya ingin mempunyai kesempatan menjelaskan. Shania menyetujui ia boleh menjelaskan, kemudian mendengarkan sampai selesai. Untuk pertama kali, mendengar tidak berarti ia harus menyetujui kesimpulan yang diinginkan lawan bicaranya.
'Aku mengakui aku sudah menyakitimu,' kata Arhan akhirnya.
'Aku mendengarnya. Tapi aku tetap ingin perpisahan ini diselesaikan. Aku tidak datang untuk memaksamu meminta maaf di depan orang lain.'
Pembicaraan itu tidak menghasilkan perdamaian. Shania merasakan matanya panas ketika keputusan tersebut dicatat. Ia tidak menang, dan Arhan tidak berubah menjadi orang asing hanya karena mereka keluar melalui pintu yang sama. Ia masih mengenal cara pria itu menarik lengan kemejanya saat gugup. Mengenal kebiasaan tersebut ternyata dapat berjalan bersama keputusan untuk tidak lagi menjadi istrinya.
Mereka menerima penjelasan mengenai tahapan berikutnya. Shania mencatat jadwal yang perlu diikuti dan berkas yang harus disiapkan. Ketika Arhan mengatakan ia akan mengurus, Shania meminta agar informasi yang menyangkut kehadirannya juga disampaikan kepadanya langsung. Ia tidak ingin mengetahui perubahan hanya sesudah telanjur mengambil izin kerja.
Di luar, Wati segera berdiri. Ia tidak menanyakan hasil dengan suara keras. Mereka berpindah ke tempat yang tidak menghalangi orang lewat sebelum Shania mengatakan bahwa pembicaraan untuk berdamai tidak berhasil. Wati menatap putranya, kemudian kembali kepada Shania.
'Kamu mau duduk dulu atau pulang?'
'Duduk sebentar, Bu.'
Wati membuka air minum. Arhan tetap berdiri dengan map di tangan. Ponselnya bergetar dua kali; ia melihat layar, lalu membaliknya. Shania tidak bertanya siapa yang menelepon. Ia mengambil air dan baru menyadari tenggorokannya kering sejak memasuki gedung.
Tidak lama kemudian Shinta memberi kabar telah tiba. Shania memang sudah menghubunginya setelah mendapat penjelasan jadwal terakhir. Sahabatnya tidak membunyikan klakson atau masuk membawa pertanyaan. Ia menunggu di tempat yang diizinkan, sehingga Shania dapat berpamitan kepada Wati tanpa merasa harus berlari.
'Aku antar Ibu pulang,' kata Arhan.
Wati mengangguk, lalu menanyakan apakah ia bersedia membicarakan kelanjutan perkara tanpa kembali menyalahkan Shania. Arhan menjawab akan mencoba. Ibunya belum tersenyum, tetapi mengambil tas dan berdiri bersamanya.
Dalam mobil Shinta, Shania meletakkan map di pangkuan. Ia meminta singgah untuk makan sebelum kembali ke rumah. Ia tidak ingin langsung membuka laptop atau merapikan kamar agar hari ini terasa seperti tidak terjadi. Shinta membelok ke tempat makan yang mereka kenal dan baru bertanya setelah mesin dimatikan.
'Aku perlu mendengar semuanya sekarang?'
Shania menggeleng. 'Aku mau makan dulu. Setelah itu mungkin aku cerita.'
Mereka memesan dua porsi. Ketika pelayan pergi, Shania mengirim pesan singkat kepada koordinator bahwa ia akan masuk sesuai jadwal esok dan membaca hasil uji yang dilakukan tim. Balasan datang beberapa menit kemudian: pekerjaan sudah diteruskan dan catatan tersedia. Tidak ada tugas yang harus diselamatkannya dari meja makan.
Ia menyimpan ponsel ke dalam tas, terpisah dari amplop panggilan. Di seberangnya, Shinta memisahkan sambal karena tahu ia belum sarapan. Perhatian kecil itu membuat pertahanannya runtuh. Shania menangis tanpa menutup wajah dengan map. Sahabatnya menggeser kotak tisu, lalu tetap duduk sampai napasnya kembali teratur. Perkara belum selesai, tetapi hari pertama yang begitu ditakutinya telah dilalui dengan keputusannya sendiri.