Sabtu pagi, Shania tiba di rumah Wati membawa buah yang dibelinya di perjalanan. Ia sudah mengatakan tidak akan tinggal lama karena masih perlu menyelesaikan beberapa gambar untuk pekan berikutnya. Wati membuka pintu sebelum ketukan kedua dan langsung meraih kantong belanja dari tangannya.
'Kenapa membawa ini? Ibu masih punya buah.'
'Aku ingin membawanya. Kali ini jangan semua dibekalkan kembali.'
Wati tertawa kecil, kemudian memeluknya. Shania membalas lebih lama daripada biasanya. Di rumah ini ia pernah belajar membuat masakan yang disukai Arhan, mendengarkan cerita masa kecilnya, dan merasa mempunyai seorang ibu. Ia takut surat dalam map akan mengubah cara perempuan itu memandangnya, meskipun sudah berkali-kali menerima ucapan sebaliknya.
Mereka duduk di ruang depan. Wati tidak mengambil alih map ketika Shania membukanya. Ia menunggu sampai kertas itu disodorkan, lalu mengenakan kacamata. Jarinya mengikuti baris yang berisi waktu persidangan.
'Ibu ingin mengantar kalau kamu bersedia.'
Shania mengangguk. 'Aku ingin Ibu ada di dekatku. Tapi aku tidak meminta Ibu mengatakan sesuatu yang tidak Ibu lihat sendiri.'
'Ibu mengantar. Kalau ada hal yang harus ditanyakan, kita bertanya kepada petugas. Ibu tidak akan masuk dan menyuruh kalian berdamai demi Ibu.'
Shania menunduk. Ada hal yang belum berani ditanyakannya pada makan siang terdahulu. Ia ingin tahu apakah Wati menyesal telah memilihkannya menjadi istri Arhan. Pertanyaan itu keluar pelan, tetapi wanita di depannya mendengar.
Wati melepas kacamata. Untuk sesaat wajahnya tampak lebih tua daripada ketika membuka pintu tadi. 'Ibu berharap kalian bahagia. Ibu melihat kamu baik, lalu mengira kebaikan itu pasti akan diterima dengan cara yang sama.'
'Aku juga mengira begitu.'
'Ibu tidak bisa memintamu menghabiskan waktu lebih lama untuk membuktikan perkiraan itu benar.'
Shania mengusap mata dengan punggung jari. Wati tidak meminta ia segera berhenti menangis. Perempuan itu bergerak ke dapur mengambil air, lalu kembali meletakkan gelas dekat tangannya. Rumah yang dahulu terasa harus dibalas dengan pelayanan kini memberinya tempat untuk mengatakan bahwa ia lelah.
'Aku masih sayang Ibu,' kata Shania setelah bisa minum. 'Tapi kalau Ibu dan Mas Arhan nanti kembali dekat, aku takut aku dianggap bagian yang menghalangi.'
'Kamu bukan penghalang. Dia anak Ibu. Kesalahannya harus dia tanggung, bukan diselesaikan dengan kamu kembali.'
Wati memandang pintu, lalu mengatakan ia juga telah menerima kabar dari Arhan mengenai panggilan itu. Pria tersebut akan datang siang nanti setelah diminta membicarakan persiapan yang berkaitan dengan mereka. Wati bertanya apakah Shania ingin pulang lebih dahulu atau tetap di sana.
'Ibu belum menjanjikan kalian bicara berdua,' tambahnya. 'Kalau kamu tidak mau bertemu hari ini, tidak ada yang harus ditunggu.'
Shania berpikir. Ia dapat pergi tanpa melihat Arhan, tetapi surat-surat yang perlu dicocokkan memang belum seluruhnya diperiksa. Ia memilih tinggal sampai urusan tersebut selesai, dengan Wati tetap bersama mereka. Setelah itu ia ingin kembali mengerjakan tugasnya.
Untuk mengisi waktu, keduanya membersihkan sayuran di dapur. Shania hampir mengambil semua pekerjaan seperti dahulu, lalu Wati menggeser baskom dan menyisakan sebagian untuk dirinya sendiri. Mereka berdebat sebentar tentang besar potongan. Kali ini tawa yang muncul tidak digunakan untuk menutupi percakapan yang seharusnya mereka lakukan.
Arhan datang ketika masakan sedang diangkat. Ia berhenti di pintu setelah melihat sandal Shania. Wati mempersilakannya masuk, tetapi tidak langsung memeluk atau menyajikan seluruh makanan kesukaannya. Ia menunjuk tempat duduk di ruang depan dan mengatakan akan menyusul.
'Ibu mengundangmu membicarakan urusan ini,' katanya. 'Bukan berarti Ibu sudah menganggap apa yang kamu lakukan tidak apa-apa.'
Arhan mengangguk. Setelah Shania duduk, ia mengeluarkan berkas yang dibawanya. Mereka mencocokkan salinan tanpa membuat Wati menjadi perantara setiap kalimat. Arhan menanyakan apakah Shania sudah mendapatkan izin kerja. Ia menjawab sudah diajukan dan pekerjaannya akan diatur.
'Aku bisa menjemput kamu dengan Ibu,' katanya.
'Aku berangkat dengan Ibu. Setelah selesai, Shinta bisa menjemputku kalau jadwalnya memungkinkan.'
Arhan hendak menyahut, kemudian menutup kembali mapnya. Wati menanyakan apakah ia akan tetap hadir sesuai panggilan. Pertanyaan itu membuat wajah Arhan menegang, seolah baru kali ini ia diminta mengatakan keputusan di depan ibunya tanpa Atika berada di seberang telepon.
'Aku datang, Bu.'
'Jangan membuat Shania yang harus mengejarmu untuk menyelesaikan sesuatu yang kamu ajukan sendiri.'
'Aku tidak akan begitu.'
Shania memandang ujung map. Ia mendengar janji tersebut, tetapi tidak mengubahnya menjadi kepastian sebelum hari persidangan benar-benar dilalui. Ia bertanya tentang satu dokumen yang belum diterimanya. Arhan menyerahkan salinan dari tas, lalu memberitahu bagian mana yang masih berada pada berkas pengajuan.
Sesudah pembicaraan selesai, Wati mengajak mereka makan. Shania memilih hanya sebentar sebelum pulang. Ia tidak duduk di tempat yang dahulu biasa dipakainya untuk melayani Arhan, dan pria itu mengambil air sendiri. Makan siang berlangsung canggung, dengan suara sendok yang lebih sering terdengar daripada percakapan. Tidak ada orang yang menyebutnya kesempatan memulai keluarga seperti dulu.
Ketika piring terakhir dipindahkan, Wati hendak membungkus seluruh buah yang tadi dibawa Shania. Shania menahan tangannya, lalu mengambil dua buah saja. Sisanya ia letakkan kembali di mangkuk dekat kursi yang biasa diduduki Wati. 'Ini buat Ibu. Jangan malah dikembalikan semua.' Wati menatap mangkuk itu sebentar sebelum mengangguk. Arhan berdiri membawa piringnya sendiri ke dapur. Shania tidak mengikutinya, dan Wati tidak memanggilnya untuk membantu. Untuk beberapa saat, perubahan di antara mereka terasa melalui kursi yang tetap didudukinya, bukan melalui perdebatan lain.
Di depan pintu, Wati mengingatkan Shania menghubungi setelah izin kerjanya dikonfirmasi. Shania mengiyakan dan mencium tangannya. Kendaraan yang dipesan sudah menunggu. Ia membawa map sendiri, melambaikan tangan, lalu pergi tanpa meminta Arhan mengantarnya.
Wati kembali ke ruang depan. Putranya masih duduk di sana, memandang gelas yang belum habis.
'Kamu sudah memikirkan apa yang harus kamu selesaikan sesudah ini?' tanyanya.
Arhan mengangguk ragu. Ia pernah datang meminta restu menikahi Atika dan meninggalkan ibunya menangis. Siang ini ia tidak membawa pengumuman bahagia. Ia hanya membawa berkas perceraian, sementara perempuan yang dulu ingin dibuangnya telah berani pulang lebih dahulu tanpa menunggu keputusannya.