Surat panggilan itu sampai pada Senin pagi, ketika Shania baru menutup tas kerjanya. Ada dua amplop untuk dua nama yang selama ini dicantumkan bersama pada undangan keluarga. Kini keduanya dipanggil sebagai pihak yang berbeda dalam perkara yang sama.
Arhan menyerahkan amplop untuknya tanpa membuka. Shania membawanya ke kamar tamu dan membaca di atas tempat tidur. Hari persidangan jatuh pada pekan berikutnya. Ia memperhatikan alamat, waktu, dan keterangan yang diminta dibawa. Surat itu tidak menyerupai penjelasan singkat Arhan bahwa ia telah mengurus semuanya.
Ia mengambil map tempat menyimpan dokumen pribadi. Tangannya berhenti pada foto pernikahan kecil yang terselip di antara kertas. Ia belum membuangnya; ia juga tidak ingin membawanya sebagai alasan agar orang lain mengasihani. Setelah menutup kembali bagian itu, ia keluar untuk menanyakan berkas yang masih berada di ruang kerja Arhan.
'Salinan buku nikah ada di mana?' tanyanya.
Arhan menunjuk lemari. 'Map cokelat di rak tengah. Biar kuambilkan.'
Shania menunggu di pintu. Ketika map diserahkan, ia memeriksa isinya sendiri. Pria itu tidak menawarkan menuliskan jawaban atas namanya. Mereka membaca panggilan masing-masing di meja yang dahulu dipakai sarapan. Untuk beberapa menit hanya suara kertas yang terdengar.
'Kita berangkat bersama?' tanya Arhan.
'Aku akan mengatur kendaraan sendiri. Kalau ada berkas yang perlu dicocokkan, kita selesaikan sebelum hari itu.'
'Bukan itu maksudku. Supaya tidak repot.'
'Aku lebih tenang begitu.'
Arhan meletakkan suratnya. Ia hampir mengatakan Shania terlalu menjaga jarak, tetapi memandang tanggal yang tertulis membuatnya ingat siapa yang lebih dahulu meminta semua ini berakhir. Ia menyebutkan berkas mana yang sudah diserahkannya saat mengajukan permohonan. Shania mencatat agar tidak mencari sesuatu yang memang sudah berada pada berkas perkara.
Sebelum berangkat kerja, ia menyimpan kembali mahar serta perhiasan yang masih utuh. Benda-benda itu tidak dimasukkan ke dalam map yang akan dibawa. Ia tidak hendak menyerahkannya hanya karena panik menghadapi perceraian. Buku anggaran rumah tangga diletakkan terpisah; ia ingin dapat menjelaskan pengeluaran yang pernah dikelolanya jika diperlukan.
Di tempat kerja, Shania mengajukan izin melalui bagian administrasi yang telah dikenalkan Yudha. Ia melampirkan keterangan jadwal dan menunggu sampai penerima memastikan berkasnya lengkap. Pada kolom alasan ia sempat berhenti. Menulis urusan persidangan terasa jauh lebih sukar daripada mengisi nama serta jabatan.
'Cukup seperti ini,' kata petugas setelah memeriksa. 'Untuk pekerjaan yang ditinggalkan, bicarakan dengan koordinator.'
Shania mengangguk. Ia tidak diminta menjelaskan siapa yang berselingkuh atau mengapa ia tidak mempertahankan suaminya. Rasa malu yang dibawanya sejak membuka amplop belum hilang, tetapi ia dapat menyimpan map tanpa menyembunyikannya di bawah tas.
Koordinator tim mendengarkan jadwal izinnya sambil melihat rencana sampel. Pertemuan untuk meninjau hasil jahitan kebetulan berada pada hari yang sama. Ia bertanya bagian mana yang dapat disiapkan lebih dahulu.
'Gambar bagian dalam bisa saya selesaikan sebelum hari itu,' jawab Shania. 'Kalau uji pakai dilakukan saat saya tidak ada, saya perlu membaca hasilnya sebelum memberi usul perubahan.'
'Kami bisa menguji bersama anggota lain. Kamu tidak harus hadir pada setiap langkah. Tapi gambar itu jangan baru diberikan pada pagi kamu pergi.'
'Saya serahkan sehari sebelumnya.'
Kesepakatan itu membuatnya sedikit lega, sekaligus sadar bahwa izin tidak menghapus tugas yang sudah diterima. Ia membuka rancangan, memeriksa bagian yang perlu diserahkan, lalu bekerja sampai waktunya istirahat. Tidak ada pidato tentang kesempatan kedua. Ia hanya harus memastikan orang lain dapat meneruskan pekerjaan tanpa menebak.
Pada siang hari, ia menelepon Shinta dari tempat yang lebih sepi. Sahabatnya langsung menanyakan apakah ia ingin ditemani datang. Shania belum menjawab. Ia ingin berbicara dengan Wati lebih dahulu, bukan karena wajib meminta restu, melainkan karena sudah terlalu lama ia menerima keluarga itu hanya sebagai tempat berterima kasih.
'Kalau aku butuh kamu menjemput sesudahnya, boleh?' tanyanya.
'Boleh. Kabari jamnya. Aku atur pekerjaan butik supaya bisa pergi sebentar.'
Shania mengucapkan terima kasih. Kali ini bantuan yang dimintanya mempunyai waktu dan tujuan. Ia tidak perlu berpura-pura sedang flu untuk menyembunyikan tangis seperti pagi ketika Shinta menghubunginya sesudah talak.
Sepulang kerja ia mengikuti rekan yang pernah menawarkan menunjukkan tempat naik kendaraan umum. Mereka berjalan bersama sampai dekat tempat menunggu. Rekannya bertanya apakah ia akan selalu turun di lokasi yang sama. Shania menjawab untuk sementara, sebab ia masih menyiapkan tempat tinggal berikutnya.
Perjalanan itu lebih lama daripada memesan mobil, tetapi ongkos yang dikeluarkan membuatnya dapat menyisihkan uang untuk hal lain. Ia mencatat rutenya di ponsel sebelum turun. Ketika tiba di rumah, Arhan belum pulang. Shania menyalakan lampu yang diperlukan untuk menuju kamarnya, kemudian menaruh surat panggilan di bagian depan map.
Ia melihat daftar hari yang dulu dibuat setelah talak. Banyak bagian sudah berubah: ia bekerja, memiliki rekan, dan tidak lagi mengatur seluruh waktu untuk menunggu kepulangan Arhan. Namun ia belum pergi dari rumah ini, dan proses yang menentukan statusnya belum selesai. Mengetahui letak dirinya terasa menyakitkan sekaligus membantu. Ia tidak sedang kembali ke awal hanya karena harus menghadiri sidang.
Malam itu ia menelepon Wati. Setelah salam, Shania mengatakan panggilan pengadilan telah sampai. Suara di seberang mendadak pelan.
'Ibu bisa menemui aku hari Sabtu?' tanyanya. 'Aku ingin bicara sebelum hari itu.'
Wati menjawab akan menunggunya. Shania menutup panggilan setelah menyepakati waktu, lalu menyiapkan pakaian untuk esok. Amplop yang semula membuatnya ingin bersembunyi kini terletak di tempat yang dapat ditemukannya kembali.
Sebelum tidur, Shania memeriksa salinan yang baru dimasukkannya. Satu halaman terlalu pucat; angka pada tanggal hampir tak terbaca. Ia memisahkannya agar tidak lupa mengganti besok. Dahulu ia akan menyerahkan seluruh urusan seperti itu kepada Arhan, lalu menunggu diberi tahu harus datang ke mana. Kini ia menulis alamat tempat fotokopi dekat halte yang tadi dilewatinya. Uang kecil untuk menyalin ulang ia sisihkan bersama ongkos. Map itu tidak membuatnya tenang, tetapi setidaknya ia tahu bagian mana yang belum siap. Lampu dimatikannya setelah halaman buram diletakkan paling atas, bukan disembunyikan di antara lembar yang sudah rapi.