Menjelang akhir pekan pertama Shania bekerja, Arhan menatap dua lembar jadwal yang diletakkan Pak Raden di mejanya. Satu sudah diperbaiki setelah Ardi menegur. Yang lain merupakan salinan yang telanjur diberikan kepada penyedia perlengkapan acara. Pada lembar kedua, waktu pembongkaran dimulai ketika sebagian kegiatan masih berlangsung.
'Tim harus menahan mereka agar panel tidak dipindahkan di depan peserta,' kata Raden. 'Acara bisa diselesaikan, tetapi ada tambahan waktu yang seharusnya tidak muncul.'
Arhan mengingat hari itu. Ia memang menerima panggilan dari tim dan meminta mereka mengatasi dahulu karena sedang menangani bagian lain. Sesudah acara selesai, ia lebih sibuk merasa lega daripada memeriksa bagaimana persoalan itu diatasi.
'Saya sudah memperbaiki jadwalnya, Pak.'
'Tetapi salinan lama masih dipakai. Saya tidak sedang menanyakan apakah kamu pernah mengubah berkas. Saya menanyakan siapa yang memastikan perubahan itu sampai.'
Arhan menunduk. Ia mengenali tanda persetujuannya pada lembar yang keliru. Rekan yang dulu biasa memeriksa semua pekerjaan tim telah dipindahkan ke cabang lain. Ia tak dapat memanggil orang itu kembali untuk bertanggung jawab atas dokumen yang ia sendiri setujui.
Raden menarik kursi dan duduk. 'Untuk persiapan berikutnya, bagian penjadwalan diperiksa bersama Ardi sebelum keluar. Kamu tetap mengerjakan bagian pemasaran yang menjadi tanggung jawabmu. Kita tinjau lagi setelah hasilnya terlihat.'
Keputusan itu terasa menampar meski disampaikan tanpa bentakan. Arhan ingin mengatakan bahwa rumah tangganya sedang kacau, tetapi alasan tersebut sudah terlalu sering dipakainya dalam kepala. Raden tidak meminta ia mengakhiri kesedihan atau menjadi kebal terhadap masalah. Ia meminta pekerjaan yang sudah dipercayakan kepadanya benar-benar dikerjakan.
'Saya mengerti,' jawab Arhan.
'Periksa juga tagihan tambahan ini dengan bagian terkait. Jangan menyatakan semuanya selesai sebelum ada penyelesaiannya.'
Setelah atasannya pergi, Arhan menahan keinginan melempar pena. Ia membuka tas mencari salinan acara. Ada bungkusan makanan yang dibelinya pagi tadi dan belum tersentuh. Benda itu membuatnya teringat Shania yang dahulu menyiapkan sarapan sebelum ia berangkat, tetapi ia menghentikan pikirannya di sana. Istrinya tidak pernah menandatangani jadwal penyedia perlengkapan. Kerinduan tidak dapat menghapus namanya pada lembar persetujuan.
Ardi datang ketika ia sedang membandingkan kedua salinan. Temannya menarik satu lembar dan meminta ia menunjukkan kapan perubahan dikirim. Mereka menemukan pesan yang hanya diteruskan kepada sebagian anggota tim.
'Yang menerima salinan lama tidak ada dalam pesan ini,' ujar Ardi.
'Aku mengira koordinator lapangan sudah meneruskan.'
'Kau menanyakan itu?'
Arhan menggeleng. Ia mengambil ponsel dan menghubungi bagian yang bersangkutan. Kali ini ia tidak menyusun kalimat untuk membuktikan orang lain lalai. Ia mengatakan ada perubahan yang tidak sampai dan meminta penjelasan apa yang sebenarnya dipakai saat acara berlangsung. Setelah mendapat jawaban, ia mengakui salinan dari pihaknya belum seragam.
Percakapan itu berakhir dengan janji mengirim catatan penyelesaian kepada Raden sore nanti. Arhan menulis nama bagian yang harus dihubungi, lalu meletakkan ponsel. Wajahnya panas karena malu, tetapi setidaknya ia sudah berhenti menunggu ada orang menyelamatkan pekerjaannya tanpa diminta.
'Jangan mencari Shania untuk menenangkanmu sesudah ini,' kata Ardi ketika ia diam terlalu lama.
Arhan mendongak. 'Aku belum meneleponnya.'
'Aku tahu. Tapi kau suka merasa sudah cukup berubah setelah melakukan satu hal yang mestinya memang kau kerjakan.'
Pria itu hendak membantah, kemudian mengembuskan napas. Ardi tidak menjadikan perceraiannya bahan lelucon. Ia hanya menolak membiarkan rasa bersalah menjadi pekerjaan orang yang telah disakitinya. Arhan kembali ke berkas dan menyelesaikan bagian yang belum diperiksa.
Pada jam istirahat, ia melihat Shania di kantin. Perempuan itu sedang membuka buku sambil berbicara dengan rekan tim busana. Tidak ada map pernikahan atau wajah yang menunggu ia datang. Arhan hampir berbelok mendekat, tetapi seorang staf lebih dahulu memanggil Shania untuk menanyakan jam pertemuan. Ia memilih meja lain.
Shania melihatnya sekilas dan membalas anggukan. Setelah itu ia kembali mendengarkan koordinator tim yang duduk di hadapannya. Mereka membicarakan pilihan lapisan kerah untuk sampel pembanding. Salah satu bahan yang tersedia lebih lembut, tetapi tidak menjaga bentuk sebaik lapisan sebelumnya.
'Kita lihat setelah dijahit pada potongan yang sama,' kata Shania. 'Kalau ternyata bentuknya turun, kita jangan memaksakannya hanya karena terasa enak di tangan.'
Koordinator mengangguk dan menanyakan apakah ia dapat menyiapkan gambar bagian dalam sesudah istirahat. Shania menyanggupi. Ia tidak perlu meninggalkan makan untuk menjawab saat itu juga. Mereka menyelesaikan makan siang, baru kembali ke ruang kerja bersama.
Sore hari, Arhan menerima balasan dari bagian terkait mengenai tambahan waktu acara. Tagihan masih harus dicocokkan, tetapi penjelasan mengenai perubahan jadwal sudah jelas. Ia mengirim catatan kepada Raden, menuliskan kesalahannya tanpa menyebut nama Shania atau masalah rumah tangga.
Ardi memeriksa salinan sebelum diserahkan. 'Ini yang seharusnya kau kirim,' katanya.
'Aku tidak akan kehilangan semua pekerjaan gara-gara satu jadwal, kan?'
'Jangan bertanya kepadaku untuk mendengar jawaban yang membuatmu nyaman. Kerjakan yang diminta, lalu lihat penilaian atasanmu.'
Arhan menyimpan berkas. Ia tidak mendapat pujian yang menghapus peringatan pagi tadi. Tugasnya memang belum sepenuhnya kembali seperti semula, dan kepercayaan tidak pulih hanya karena satu pesan telah dikirim. Ia membereskan meja ketika ponselnya bergetar.
Atika menanyakan kapan ia akan datang. Ada pesan lain tentang keperluan bulanan yang belum ditransfer. Arhan membuka aplikasi rekening, lalu berhenti pada deretan pengeluaran yang selama ini lebih mudah diberikannya daripada dibicarakan. Ia mengetik bahwa akan menghubungi sesudah tiba di rumah.
Balasannya segera muncul. Atika mengingatkan bahwa ia sendiri yang berjanji akan mencukupi kebutuhan itu. Arhan hampir menjawab dengan keluhan tentang pekerjaan, tetapi menghapusnya. Perempuan tersebut tidak mengetahui pertemuan dengan Raden, dan ia tidak dapat meminta pengertian hanya lewat kata sibuk setiap kali ditagih. Ia menyimpan ponsel tanpa menekan tombol transfer. Untuk pertama kalinya ia ingin melihat dulu apa yang masih sanggup dijanjikannya.
Di lobi, Shania sudah memesan kendaraan. Arhan tidak bertanya siapa yang menjemput atau mengusulkan mengantarnya. Mereka saling mengucapkan hati-hati, kemudian berjalan ke arah berbeda. Malam itu ia akan membawa masalahnya pulang sendiri, bersama berkas yang harus diperbaiki dan janji kepada Atika yang belum diberinya jawaban.