Dua hari setelah penyerahan terakhir, Shania menyiapkan diri di kamar tamu yang masih ditempatinya di rumah Arhan. Blus warna lembut sudah disetrika semalam. Ia memasukkan surat kerja ke dalam tas, memeriksa ponsel, lalu mengangkat kepala ketika seseorang mengetuk dari luar.
'Shan, Ibu menghubungiku,' suara Arhan terdengar dari luar. 'Katanya teleponmu belum terangkat.'
Shania melihat satu panggilan tak terjawab di layar. Ponsel itu masih dalam keadaan senyap. Ia membalas panggilan Wati sendiri. Perempuan itu menanyakan apakah masih cukup waktu untuk mampir mengambil bekal sebelum berangkat kerja.
'Ibu membuat terlalu banyak,' kata Wati. 'Kalau tak sempat, tidak apa-apa. Jangan sampai terlambat karena Ibu.'
Shania menatap jam. Ia memang berangkat lebih pagi untuk hari pertamanya. 'Aku mampir sebentar, Bu. Nanti pesan kendaraan lagi dari sana.'
Ketika keluar kamar, Arhan sedang memegang cangkir dekat dapur. Ia memandang tas serta map yang dibawa Shania, kemudian mengucapkan selamat. Shania menjawab terima kasih dan memberitahu bahwa ia akan berangkat. Ia tidak meminta pria itu memeriksa pakaian atau memastikan penampilannya pantas.
Perjalanan singkat ke rumah Wati memberinya kesempatan mengatur napas. Ia hampir meminta pengemudi langsung menuju kantor karena gugup akan kehilangan waktu, tetapi keadaan jalan masih memungkinkan. Wati sudah menunggu di teras dengan kantong kecil. Mereka tidak duduk untuk sarapan panjang. Shania mencium tangannya, menerima bekal, lalu tertawa ketika melihat botol minum ikut dimasukkan.
'Aku membawa air sendiri, Bu.'
'Kalau begitu yang ini ditinggal. Ibu kira kamu lupa.'
Shania mengeluarkan botol tambahan dari bekalnya dan menyerahkannya kembali kepada Wati di depan pintu. Urusan kecil tersebut terasa lebih menenangkan daripada pesan agar ia harus hebat. Wati mengantarnya sampai pagar ketika kendaraan berikutnya datang. Shania melambaikan tangan, kemudian berangkat ke Megah Depertemen Store.
Di lobi, petugas mengarahkannya ke bagian administrasi. Yudha datang setelah ia menyelesaikan pemeriksaan dokumen. Pria itu menyerahkan kartu identitas kerja dan menjelaskan letak tempat menyimpan barang serta cara mengajukan izin. Shania mengingat pertanyaannya saat menandatangani surat kerja.
'Kalau panggilan pengadilan datang, saya menyampaikan jadwalnya lewat pengajuan ini, Pak?'
'Iya. Beritahu secepat yang kamu bisa agar pekerjaan diatur. Untuk urusan pribadi, cukup informasi yang diperlukan administrasi.'
Shania mengangguk dan menyimpan lembar tersebut. Ia belum menerima panggilan. Permohonan yang sudah diajukan Arhan tetap menjadi perkara yang harus dituntaskan, bukan sesuatu yang hilang karena ia mulai bekerja.
Yudha kemudian mengantarnya ke ruang tim busana. Koordinator tim menyambut dengan tumpukan katalog dan satu blus contoh di atas meja. Sesudah memperkenalkan peran masing-masing, Yudha menyerahkan pembicaraan mengenai rancangan kepada koordinator. Ia akan kembali pada akhir orientasi untuk memastikan urusan kepegawaiannya beres.
'Hari ini kita tidak meminta koleksi baru,' kata koordinator. 'Kami ingin tahu apa yang kamu lihat pada contoh ini. Besok kita tentukan bagian yang perlu dicoba.'
Shania mengangkat blus tersebut setelah dipersilakan. Bentuk luarnya rapi, tetapi jahitan di bagian dalam kerah lebih keras daripada yang tampak. Ia tidak langsung menyebutnya salah. Ia menanyakan siapa pemakai yang dituju dan bagaimana pakaian itu biasa digunakan.
'Untuk bekerja, tetapi tidak terlalu resmi,' jawab salah seorang anggota tim. 'Ada yang banyak bergerak melayani pelanggan.'
Shania meminta sebuah gantungan dan membandingkan posisi bahu dengan pola. Koordinator menunjukkan tempat menyimpan sampel, lalu meminta ia memilih satu persoalan yang paling perlu diperiksa. Shania menunjuk kerah. Ia ingin mengetahui apakah lapisan yang terasa keras akan mengganggu saat orang menunduk, bukan menambahkan hiasan agar bajunya terlihat lebih mahal.
Ketika seorang rekan menawarkan mencoba, mereka menyesuaikan ukuran dahulu. Shania mundur memberi ruang, menunggu perempuan itu selesai berganti, kemudian bertanya apakah boleh melihat saat ia duduk dan mengangkat tangan. Pada gerakan pertama tidak ada masalah. Ketika pemakai membungkuk mengambil pena, bagian depan kerah mendekati lehernya.
'Yang ini terasa,' kata rekan itu, menunjuk tanpa diminta menahan posisi lebih lama.
Shania mengangguk. Ia berterima kasih, lalu meminta pemakai kembali bergerak biasa. Koordinator mengusulkan agar dua pilihan lapisan diperiksa pada pertemuan berikutnya. Mereka menyepakati satu sampel pembanding dengan bentuk luar sama. Tidak ada janji membuat seluruh koleksi pada minggu pertama.
Saat makan siang, Shania membuka bekal Wati di kantin bersama dua rekan. Salah seorang tertawa melihat isi kantong yang cukup penuh. Shania menjawab bahwa orang yang membuatnya takut ia lupa makan. Ia membagi satu potong lauk setelah ditanya, lalu ikut mendengarkan cerita tentang antrean kantin yang lebih panjang pada hari tertentu. Tak ada yang meminta riwayat perceraiannya sebagai syarat menjadi teman semeja.
Menjelang akhir hari, koordinator memperlihatkan meja yang dapat dipakainya. Shania meletakkan buku baru pemberian Shinta di sana. Ia mencatat tugas esok dan menanyakan jam pertemuan sebelum menutup sampel. Yudha datang untuk menanyakan apakah ia memahami pembagian pekerjaan. Shania mengatakan urusan rancangan akan dibahas dengan tim busana, sedangkan hal administrasi ia sampaikan melalui bagian yang telah dikenalkan.
'Bagus. Besok kamu tidak harus mencari saya setiap kali ada soal kain,' jawab Yudha sambil tersenyum.
Sebelum keluar gedung, Shania bertanya kepada rekan yang tadi makan bersamanya tentang kendaraan umum yang biasa dipakai. Dua kali memesan kendaraan pada pagi tadi membuatnya sadar perjalanan juga harus dihitung. Rekannya menunjukkan tempat naik yang tak jauh dari toko dan menawarkan berjalan bersama setelah pulang kerja ketika jadwal mereka memungkinkan. Shania menyambut tawaran itu. Ia belum menerima gaji pertama dari pekerjaan baru ini, dan ia ingin dapat datang bekerja tanpa selalu menghabiskan ongkos untuk menutupi rasa gugupnya sendiri.
Di perjalanan pulang, Shania mengirim foto kartu kerjanya kepada Shinta dan Wati. Ia menunggu sampai kendaraan berhenti di depan rumah Arhan sebelum membuka balasan. Shinta mengirim ucapan selamat yang panjang; Wati bertanya apakah bekalnya habis. Shania tertawa sendiri, lalu membawa kantong kosong masuk ke kamar tamu.
Rumah itu masih tempat tinggal sementaranya. Namun di dalam tas kini ada kartu dengan namanya sendiri, dan esok ada pekerjaan yang menunggu ia datang. Ia menggantung pakaian kerja sebelum mandi. Untuk malam ini, rasa bangga tidak perlu dilihat Arhan dahulu agar terasa nyata.